Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Keinginan Yang Terkabul


__ADS_3

"SENA!!!"


"KAK SENA!!!"


Terdengar suara Sonia dan Safa yang berteriak bersamaan. Panik melihat Sena yang hendak terkena pukulan balok kayu dari Jordan.


Sadar dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk menghindar lagi, Sena pun hanya bisa memejamkan kedua matanya, sudah pasrah dengan pukulan yang akan dia terima.


Satu detik. Dua detik. Tiga detik.


'Eh, kok nggak terjadi apa-apa?' tanya batin Sena bingung.


Sena kemudian perlahan membuka kedua matanya. Dan begitu terkejutnya Sena ketika melihat sebuah tangan kekar sedang menahan balok kayu yang hendak menghantam dirinya tadi.


"Kak Syafiq?" lirih Sena begitu menyadari bahwa itu adalah tangan kanan Syafiq.


"Alhamdulillaah..." kata Sonia dan Safa seraya menghembuskan nafas lega karena Syafiq datang tepat waktu dan menghadang balok kayu tersebut untuk Sena.


"Kurang ajar Lo semua. Berani kalian nyakitin istri gue. Cari mati kalian semua," geram Syafiq berang.


Jordan dan teman-temannya terdiam untuk sesaat karena terkejut dengan kedatangan Syafiq yang tiba-tiba.


"Kamu mundur, sayang. Biar kakak yang hadapin mereka," kata Syafiq kepada Sena.


"Iya kak."


Sena kemudian menyingkir dan berjalan menghampiri Sonia dan Safa.


"Kamu nggak pa-pa kan, Sen?"


"Kak Sena nggak pa-pa kan?"


Sonia dan Safa bertanya bersamaan seraya memegangi lengan kanan dan kiri Sena.


"Tenang aja, aku nggak pa-pa kok Mbak, Sa," jawab Sena seraya tersenyum untuk menenangkan hati kedua saudara iparnya itu.


"Syukur alhamdulillah," ucap Sonia dan Safa merasa lega.


Tanpa membuang banyak waktu lagi Syafiq segera saja menghajar Jordan dan juga teman-temannya yang lain. Bagaikan singa yang mengamuk Syafiq menghajar kelima orang itu dengan membabi buta. Dan akhirnya, tanpa mengalami kesulitan yang berarti, Syafiq pun akhirnya dapat mengalahkan Jordan dan juga teman-temannya itu.


"Cuma segini kemampuan kalian dan kalian berani cari masalah sama keluarga gue? Cih," kata Syafiq meremehkan.

__ADS_1


Sesaat kemudian Rey pun datang bersama dengan beberapa anak buah Bima yang lainnya.


"Bos," sapa Rey. "Maaf terlambat, Bos. Kita sudah berusaha untuk bisa sampai secepat mungkin tadi," lanjut Rey penuh penyesalan.


"It's okey, Rey. Bawa mereka semua ke kantor polisi. Gue minta mereka semua dihukum berat untuk penyerangan yang mereka lakukan untuk yang kesekian kalinya ini. Bilang ke pengacara kita, sekalian buka kasus yang dulu-dulu. Biar hukuman mereka bisa bertambah semakin berat," balas Syafiq sekaligus memberi perintah dengan tegas.


"Baik Bos," jawab Rey.


"Biar yang lain aja yang bawa mereka ke kantor polisi. Lo tetep disini dulu Rey. Temenin Sonia dan Safa sampai Bang Sean dan Mas Rian datang. Gue mau langsung bawa Sena ke rumah sakit," perintah Syafiq lagi.


"Siap Bos," balas Rey. "Kalian bawa mereka semua ke kantor polisi dan tunggu sampai pengacara kita datang, ya," lanjut Rey memberi arahan kepada teman-temannya.


"Oke Rey," balas teman-teman Rey.


Anak buah Bima yang lainnya itupun kemudian membawa Jordan dan teman-temannya itu pergi menuju ke kantor polisi.


Syafiq dan Rey kemudian berjalan menghampiri Sena, Sonia, dan Safa.


"Kita ke rumah sakit sekarang ya, sayang. Biar luka-luka kamu bisa segera diobatin," kata Syafiq seraya menangkup kedua pipi Sena.


"Iya kak," balas Sena menurut.


"Baik kak," balas Sonia dan Safa.


"Langsung kabarin kita kalau ada apa-apa ya, kak," pinta Safa.


"Pasti," balas Syafiq.


"Nanti kita langsung nyusul ke rumah sakit setelah Mas Sean dan kak Rian datang," kata Sonia juga.


"Oke. Terserah kalian aja. Ya udah, kalau gitu gue sama Sena duluan ya."


"Iya kak," lagi-lagi Sonia dan Safa membalas bersamaan.


"Assalamu'alaikum," pamit Syafiq dan Sena.


"Wa'alaikumsalam," balas Sonia, Safa, dan Rey.


Syafiq kemudian membawa Sena pergi meninggalkan taman tersebut untuk menuju ke rumah sakit.


🌺🌺🌺

__ADS_1


"Syukurlah kamu nggak pa-pa, sayang," kata Syafiq seraya berdiri di sebelah Sena dan mengusap lembut puncak kepala istrinya itu.


Saat ini Sena sedang duduk di brankar rumah sakit. Seorang perawat nampak sedang membersihkan dan mengobati luka-luka yang dialami oleh Sena karena berkelahi dengan Jordan dan teman-temannya tadi.


"Iya kak. Kan tadi aku juga udah bilang kalau aku nggak pa-pa. Kakak sih, udah aku larang juga kan tadi, kita nggak usah ke rumah sakit. Tapi kakak tetep aja maksa. Aku tuh cuma luka kecil kak, diobatin sendiri juga bisa," keluh Sena panjang lebar.


"Sssttt, diam. Nggak boleh protes. Ini semua tuh demi kebaikan kamu, sayang. Kakak mau mastiin kalau kamu tuh bener-bener nggak apa-apa," balas Syafiq tegas.


Sena diam seraya mengerucutkan bibirnya. Tidak ingin membantah perkataan suaminya itu lagi. Syafiq mengulum senyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Sekali lagi diusapnya puncak kepala istri cantiknya itu.


"Tapi kakak bangga banget sama kamu, sayang. Kakak bangga banget karena kakak memiliki seorang istri yang bisa melindungi dirinya sendiri dan juga orang-orang di sekitarnya seperti kamu ini. Kamu hebat, sayang. Kakak bangga banget sama kamu," puji Syafiq seraya tersenyum lembut.


"Makasih pujiannya, kak. Tapi aku nggak sehebat itu. Nyatanya aku hampir kalah tadi. Bahkan kalau kakak nggak datang tepat waktu, aku pasti udah terluka parah karena hantaman balok kayu tadi," balas Sena merendah.


"Enggak, sayang. Kamu udah termasuk hebat banget tadi karena bisa bertahan selama itu. Justru kakak yang harusnya minta maaf sama kamu, maaf ya karena kakak datang terlambat," sesal Syafiq.


"Kakak nggak perlu minta maaf, kakak nggak terlambat kok. Justru kakak tuh datang tepat waktu tadi. Pas banget buat nolongin aku," kata Sena.


Lagi dan lagi Syafiq mengusap lembut puncak kepala Sena. Sepasang suami istri itu kemudian saling melempar senyum manis.


"Assalamu'alaikum," salam Sean, Sonia, Adrian, dan Safa yang baru saja datang.


"Wa'alaikumsalam," balas Syafiq, Sena, dan si perawat yang sedang mengobati luka-luka Sena.


"Gimana keadaan Sena, Fiq?" tanya Sean.


"Alhamdulillaah Sena nggak pa-pa kok, Bang. Cuma luka-luka ringan aja," jawab Syafiq.


"Syukur alhamdulillah," balas Sean, Sonia, Adrian, dan Safa bersamaan.


"Kamu hebat Sena. Abang bangga banget sama kamu. Makasih ya udah ngelindungin Sonia, calon buah hati kami, dan juga ngelindungin Safa dengan baik," kata Sean tulus.


"Sama-sama Bang. Itu udah jadi kewajiban Sena untuk ngelindungin Mbak Sonia, Safa, dan juga calon anak Abang dengan baik, karena kita semua adalah keluarga," balas Sena seraya tersenyum.


Sean membalas senyuman Sena tersebut.


"Keinginan kamu terkabul, Fiq. Bukankah kamu dulu pernah cerita ke Abang kalau kamu pengen punya seorang istri yang penyayang tapi juga mampu melindungi secara bersamaan. Sedikit keras dan mandiri, bukan hanya tipe gadis yang penurut dan lemah. Dan sekarang kamu sudah mendapatkannya. Bukankah Sena sangat sesuai dengan kriteria istri yang kamu harapkan itu?" kata Sean kepada Syafiq.


"Iya, Abang bener banget. Sena memang adalah tipe gadis yang selama ini Syafiq inginkan untuk menjadi seorang istri. Dan Syafiq beruntung banget udah mendapatkan Sena sebagai istri Syafiq," balas Syafiq seraya memandang penuh cinta ke arah Sena.


Sena menundukkan wajahnya karena tersipu malu dan merasa tersanjung secara bersamaan. Sementara Syafiq dan yang lainnya tersenyum. Mereka ikut merasa bersyukur untuk kebahagiaan yang sudah didapatkan oleh Syafiq dan Sena.

__ADS_1


__ADS_2