
Sean turun kembali ke lantai bawah dan menemui Rey juga Naura.
"Rey, Naura, terjadi sebuah kesalahpahaman antara Sena dan Syafiq. Dan Sena bilang, untuk saat ini dia masih butuh waktu dan ingin menenangkan diri terlebih dahulu. Jadi Sena akan saya kirim ke kota S. Apakah kalian berdua bersedia untuk menemani Sena selama dia disana?" tanya Sean setelah sedikit menjelaskan permasalahan yang terjadi.
Baik Rey maupun Naura nampak sedikit terkejut mendengar perkataan Sean. Keduanya saling berpandangan. Kemudian, Naura yang terlebih dahulu menganggukkan kepalanya pelan memberi isyarat kepada Rey.
"Saya bersedia, kak. Saya akan menemani Sena dimanapun dia berada," kata Naura yakin.
"Saya juga bersedia, Bos," kata Rey juga.
"Baguslah kalau begitu. Tapi sebelumnya kita harus membuat pengalihan untuk Syafiq. Dan kemungkinan besar, kamu harus merelakan diri kamu untuk dipukul oleh Syafiq nanti Rey. Kamu nggak keberatan kan Rey?" tanya Sean kepada Rey.
"Eh, e-enggak apa-apa kok Bos," jawab Rey mengiyakan meskipun masih bingung dengan maksud dari perkataan Sean tadi.
"Oke kalau gitu."
Sean kemudian menjelaskan rencananya kepada Rey dan juga Naura.
πΊπΊπΊ
Apartemen Syafiq.
Syafiq mulai menggeliatkan tubuhnya. Tangan Syafiq bergerak, meraba bagian tempat tidur di sebelahnya. Kosong. Syafiq kemudian perlahan-lahan membuka kedua matanya. Syafiq pun mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan kedua matanya dengan silau cahaya.
'Sena nggak ada?'
Syafiq kemudian bangun dan mendudukkan tubuhnya. Kepala Syafiq terangkat, melihat ke arah jam yang tergantung di dinding kamar tersebut.
'Astaga, sudah hampir jam tujuh. Pantas saja, Sena pasti sudah bangun. Tapi kenapa dia nggak bangunin aku juga sih?'
Syafiq melihat ponsel Sena yang masih tergeletak di atas nakas di samping tempat tidur.
'Ah, mungkin dia cuma nggak mau ganggu tidur aku aja.'
Syafiq kemudian menyibak selimutnya. Dan noda merah itu adalah hal pertama yang langsung menyapa penglihatan Syafiq. Syafiq mengulum senyum kecil. Ada rasa bangga dan bahagia yang membuncah di dada Syafiq. Dirinya adalah yang pertama kali mendapatkan kesucian istrinya itu.
Gadis, ah bukan, bukan seorang gadis lagi, melainkan seorang wanita. Ya, Sena sudah menjadi seorang wanita yang seutuhnya saat ini. Dan dia adalah wanita yang sudah berhasil mencuri hati Syafiq sejak masih kecil dulu. Syafiq merasa sangat bersyukur karena sudah berhasil memiliki wanita pujaannya itu seutuhnya sekarang.
Syafiq kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke kamar mandi, hendak membersihkan dirinya.
πΊπΊπΊ
Beberapa saat kemudian.
Syafiq yang sudah selesai mandi pun keluar dari kamar mandi. Didapatinya kamar masih dalam keadaan kosong.
'Ah, Sena mungkin sedang membuat sarapan di bawah.'
Syafiq kemudian mengambil pakaian ganti dari dalam lemari. Selesai berpakaian, Syafiq pun kemudian keluar dari kamar dan menuju ke lantai bawah. Syafiq langsung menuju ke arah dapur.
Begitu sampai di dapur, Syafiq melihat Mbak Ratmi yang sedang membersihkan dapur.
"Sena mana Mbak?" tanya Syafiq to the point kepada Mbak Ratmi.
Nampak Mbak Ratmi sedikit terlonjak karena terkejut dengan kehadiran Syafiq yang tiba-tiba.
"Eh, Den Syafiq. Loh, Mbak belum lihat Non Sena itu Den sejak Mbak datang tadi. Mbak kira Non Sena masih di kamar sama Aden," jawab Mbak Ratmi apa adanya.
Syafiq mengerutkan keningnya. Ada sesuatu yang tidak beres sudah terjadi.
"Oh, oke deh Mbak kalau gitu."
__ADS_1
"Iya Den."
Syafiq langsung berbalik dan melangkahkan kakinya meninggalkan dapur. Syafiq menuju ke ruang kerjanya. Begitu sampai di ruang kerjanya, Syafiq segera membuka laptopnya dan mengecek rekaman CCTV apartemennya tersebut. Dan begitu terkejutnya Syafiq ketika melihat bahwa Sena keluar dan meninggalkan apartemen mereka sejak pukul lima pagi tadi.
"Oh astaga," keluh Syafiq dengan menyugar rambutnya ke belakang.
Brak!!!
"S H I T !!!," umpat Syafiq seraya memukul meja dengan kepalan tangan kanannya.
Syafiq tidak menyangka sama sekali kalau Sena akan pergi meninggalkan apartemen mereka. Awalnya Syafiq merasa tenang ketika melihat ponsel Sena yang masih tergeletak di atas nakas. Syafiq mengira kalau Sena masih berada di apartemen mereka itu. Tapi ternyata Sena memang sengaja meninggalkan ponselnya tersebut, mungkin sengaja untuk mengecoh Syafiq.
Syafiq meraup wajahnya kasar. Syafiq merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan rahasia besar itu dari Sena. Seandainya saja Syafiq mau mengikuti saran dari abangnya kemarin untuk segera berkata jujur dan menceritakan semuanya kepada Sena, mungkin semuanya tidak akan jadi seperti ini. Sayangnya semua sudah terlambat.
Kepanikan benar-benar dirasakan Syafiq saat ini. Syafiq harus segera mencari Sena. Syafiq harus segera menemukan istrinya itu.
πΊπΊπΊ
π : "Assalamu'alaikum, kak."
π : "Wa'alaikumsalam, Dek. Dek kak Sena udah pulang ke rumah kah?"
π : "Hmm, kak Sena? Bukannya kak Sena sama kakak nginep di apartemen ya semalem? Tadi malam Bunda bilang gitu ke Ayah sama aku."
π : "Sesuatu udah terjadi Dek. Tapi bener sekarang ini kak Sena nggak ada di rumah?"
π : "Beneran kak, Safa nggak bohong. Emang ada apa sih kak? Apa yang udah terjadi?"
π : "Nanti kakak ceritain ke kamu. Tapi kakak minta tolong sama kamu, jangan bilang apa-apa dulu ke Ayah sama Bunda, ya."
π : "Ish, kakak ini aneh deh. Iya deh kak, iya."
π : "Assalamu'alaikum."
π : "Wa'alaikumsalam kak."
πΊπΊπΊ
π : "Wa'alaikumsalam. Vir, kakak kamu ada disana kah?"
π : "Hmh, kak Sena? Enggak tuh kak. Kak Sena belum kesini lagi sejak kesini sama kakak kemarin lusa itu. Emangnya kenapa, kak?"
π : "Oh, nggak ada apa-apa kok. Tapi beneran kakak kamu nggak ada disana?"
π : "Nggak ada, kak. Buat apa coba Vira bohongin kakak. Ini sebenarnya ada apa sih, kak?"
π : "Nggak ada apa-apa kok. Ya udah kalau gitu, kakak tutup dulu teleponnya. Oh iya, satu lagi, tolong kamu jangan bilang apa-apa dulu ya sama Papa sama Mama."
π : "Oh, oke deh kak."
π : "Assalamu'alaikum."
π : "Wa'alaikumsalam kak."
πΊπΊπΊ
Nihil. Sena tidak ada di rumah Ayah Steven maupun Papa Bima. Syafiq mencoba untuk tidak panik. Memutar keras otaknya, Syafiq memikirkan kira-kira siapa lagi yang harus dia hubungi.
Naura.
Ah ya, Syafiq harus menghubungi sahabat baik Sena itu. Syafiq kemudian mencari nomor kontak Naura pada ponselnya kemudian menghubunginya.
__ADS_1
π : "Halo, assalamu'alaikum."
π : "Wa'alaikumsalam. Nau Sena ada sama Lo nggak?"
π : "Hah, Sena? Ya enggak lah, kak. Emangnya Sena nggak sama kakak ya? Kan kakak suaminya."
π : "Sena pergi keluar dan nggak bawa HP. Itu kenapa kakak bingung nyariin dia."
π : "Oh gitu ya. Tapi Sena nggak sama gue, kak. Coba deh telepon si Vira. Kali aja Sena ada disana."
π : "Oke deh, Nau. Thanks ya. Assalamu'alaikum."
π : "Yoi kak. Wa'alaikumsalam."
Lagi-lagi nihil. Syafiq benar-benar merasa buntu dan kebingungan saat ini.
πΊπΊπΊ
"Bener apa kata kakak, kak Syafiq telepon nanyain Sena," kata Naura setelah sambungan telepon terputus.
"Kakak udah duga masalah itu. Lihat aja, habis ini dia pasti juga telepon kakak," balas Sean.
Dan benar saja, tidak lama kemudian ponsel Sean pun berbunyi. Sesuai dugaan Sean, itu adalah panggilan masuk dari Syafiq.
"See," kata Sean seraya menunjukkan layar ponselnya yang masih menyala dan tertera nama Syafiq kepada Naura dan Rey.
Naura dan Rey merasa takjub dengan ketepatan insting yang dimiliki oleh Sean. Sean kemudian mengangkat panggilan telepon dari Syafiq tersebut.
π : "Assalamu'alaikum."
π : "Wa'alaikumsalam. Sena pergi Bang."
π : "Kapan?"
π : "Tadi pagi habis subuhan."
π : "Kamu yang cerita atau kalian sudah melakukannya?"
π : "Kami sudah melakukannya semalam, Bang. Dan setelah itu baru gue ceritain semuanya ke dia."
π : "Udah coba kamu lacak keberadaannya?"
π : "HP, jam tangan, sama kalungnya ditinggal semua Bang. Gue juga udah coba telepon Safa, Vira, Naura, bahkan ke markas. Tapi nihil."
π : "Mungkin dia butuh waktu untuk bisa menerima semuanya ini."
π : "Iya, tapi dia sekarang dimana Bang? Gue lebih milih dia ngelampiasin amarahnya sama gue, mukulin gue bila perlu. Tapi enggak dengan dia pergi tanpa pamit dan nggak ada kabar kayak gini Bang. Gue udah hampir gila ini nyarinya."
π : "Sabar. Jangan terlalu kalut. Jadikan ini pelajaran juga buat kamu. Tenang aja, Abang bantuin sebisa Abang."
π : "Iya. Thanks ya, Bang. Assalamu'alaikum."
π : "Wa'alaikumsalam."
Sambungan telepon pun terputus. Dalam hatinya, Sean sebenarnya merasa kasihan kepada adiknya itu. Nada suara Syafiq tadi terdengar begitu sendu dan putus asa. Belum pernah Sean mendengar Syafiq seperti itu. Biasanya hanya ada Syafiq yang tegas dan tidak suka dibantah. Sean menghembuskan nafasnya kasar.
"Oke, seperti rencana kita tadi, sekarang kalian balik dulu. Ijin sama orang rumah, sekaligus ambil persiapan kalian. Setelah itu kalian langsung menuju ke cafe. Ingat baik-baik semua yang sudah kita rencanain tadi," kata Sean kepada Naura dan Rey.
"Iya, kak."
"Baik, Bos."
__ADS_1
Naura dan Rey menjawab bersamaan. Setelah itu Naura dan Rey pun pamit untuk kembali ke rumah masing-masing terlebih dahulu. Mereka pun mulai menjalankan rencana sesuai dengan arahan dari Sean kepada mereka tadi.