Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Kesalahpahaman


__ADS_3

Seperti biasanya, dua hari sekali Aletta pasti datang ke kantor Syafiq untuk membicarakan kelanjutan masalah kasus perceraiannya dengan suaminya, Gibran. Dan seperti biasanya juga, Syafiq pasti meminta Alvin atau Sena untuk menemani dirinya bertemu dan berdiskusi dengan Aletta.


Siang ini Alvin yang menemani Syafiq untuk berdiskusi dengan Aletta. Sudah sekitar satu jam mereka bertiga berdiskusi di dalam ruangan Syafiq. Dan tiba-tiba saja Sena, Naura, dan Rey dikejutkan dengan pintu ruangan Syafiq yang terbuka sedikit kasar.


Sena, Naura, dan Rey pun langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah ruangan Syafiq. Dan begitu terkejutnya mereka bertiga ketika melihat Syafiq berjalan tergesa-gesa keluar dari ruangannya dengan membopong Aletta yang sedang tidak sadarkan diri. Alvin mengekor di belakang Syafiq dengan raut wajah yang sama khawatirnya dengan Syafiq saat ini.


"Astaga, kak Aletta kenapa kak?" tanya Sena seraya bergegas menghampiri Syafiq.


Naura dan Rey pun mengikuti di belakang Sena. Dapat mereka lihat wajah Aletta yang pucat pasi dan sedang tidak sadarkan diri. Bahkan keluar darah dari kedua lubang hidung Aletta.


"Nggak tau juga, sayang. Tiba-tiba saja tadi Aletta mengeluh kalau kepalanya pusing. Terus nggak lama kemudian dia langsung mimisan dan akhirnya pingsan kayak gini," jawab Syafiq dengan nada yang khawatir.


"Astaghfirullah hal adziim," lirih Sena dan Naura bersamaan.


"Kakak sama Alvin bawa Aletta ke rumah sakit dulu ya, sayang," pamit Syafiq.


"Iya kak. Langsung kabarin ya kalau ada apa-apa," balas Sena.


"Pasti. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, kak."


Syafiq menganggukkan kepalanya pelan. Setelah itu Syafiq dan Alvin pun melanjutkan langkah mereka untuk membawa Aletta ke rumah sakit.


🌺🌺🌺


Saat ini sudah jam pulang kantor. Tapi Syafiq dan Alvin masih belum juga kembali ke kantor. Dan ketika Sena berusaha untuk menghubungi Syafiq, sayangnya tidak bisa terhubung. Kemungkinan ponsel Syafiq dalam keadaan mati. Sementara ponsel Alvin sendiri sayangnya juga tertinggal di dalam ruangannya dan disimpan oleh Rizal saat ini.


Naura, Ega, dan Rizal bisa memahami kecemasan Sena saat ini. Ketiganya saling bertukar pandangan sejenak. Ega kemudian memberi isyarat kepada Naura untuk membujuk Sena dengan mengendikkan dagunya sekilas ke arah Sena.


Naura mengangguk pelan, kemudian mulai mendekati sahabat baiknya itu.


"Sen, Lo masih mau nungguin disini atau pulang duluan bareng gue sama kak Ega?" tanya Naura seraya menepuk pelan pundak Sena.


Sena mengalihkan perhatiannya kepada Naura.

__ADS_1


"Lo sama kak Ega duluan aja deh, Nau. Gue nanti bisa pulang sendiri kok," jawab Sena.


"Nggak bisa gitu dong, Sen. Lo jadi tanggung jawab kakak selama Bos Syafiq nggak ada kayak gini. Jadi kakak harus memastikan keselamatan Lo," tegas Ega.


"Iya, Sen. Gue juga nggak bisa ninggalin Lo sendirian disini. Kalau Lo emang masih mau nungguin kak Syafiq, gue temenin Lo disini. Tapi kalau enggak, gue sama kak Ega anterin Lo pulang sampai ke rumah," lanjut Naura juga.


"Atau Lo mau bareng gue aja ke rumah sakit, nyusulin Bos Syafiq sama Bos Alvin? Kebetulan kan gue mau kesana buat nganterin HP Bos Alvin," tawar Rizal.


Sena berpikir sejenak. Bunda pasti khawatir kalau dia dan suaminya pulang terlambat dan tidak ada kabar sebelumnya. Tapi kalau untuk nyusulin ke rumah sakit, sepertinya kurang pantas juga. Seolah-olah dia tidak percaya dengan suaminya sendiri.


"Ya udah deh, gue pulang bareng kalian aja. Kak Rizal mau nyusul ke rumah sakit buat nganterin HP nya kak Alvin kan? Nanti tolong sekalian aja disampein ke kak Syafiq kalau gue udah pulang duluan bareng Naura sama kak Ega ya," putus Sena pada akhirnya sekaligus minta tolong kepada Rizal.


"Oke deh, nanti gue sampein ke Bos Syafiq," balas Rizal.


"Ya udah yuk kita pulang sekarang. Keburu sore banget juga," ajak Ega.


Sena dan Naura mengangguk. Kemudian mereka berempat pun berjalan menuju ke arah lift khusus. Dan akhirnya mereka berpisah di parkiran basement. Rizal yang hendak menyusul ke rumah sakit, sementara Ega dan Naura yang hendak pulang sekaligus mengantarkan Sena pulang juga.


🌺🌺🌺


"Wa'alaikumsalam. Loh, sayang, suami kamu mana? Kok kamu pulang sendirian? Terus kamu tadi naik apa pulangnya?" tanya Sheila yang sedikit terkejut begitu mengetahui Sena pulang sendirian.


Sena mencium punggung tangan kanan Sheila terlebih dahulu sebelum menjawab.


"Kak Syafiq masih ada urusan, Bun. Jadi aku pulang duluan. Tapi tadi aku pulang bareng Naura sama kak Ega kok, Bun, nggak sendirian," jawab Sena.


"Oh, gitu ya. Ya udah kalau gitu. Kamu naik dulu sana. Mandi, biar seger," kata Sheila seraya tersenyum lembut.


"Iya, Bun. Kalau gitu Sena naik dulu ya, Bun."


"Iya, sayang."


Sena kemudian naik ke lantai atas menuju ke kamarnya.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Lewat waktu Maghrib Syafiq baru pulang ke rumah. Sena melayani dan menyiapkan kebutuhan suaminya itu seperti biasa. Tapi Syafiq tau ada yang berbeda dengan Sena. Sena jadi lebih banyak diam, bicara hanya seperlunya saja, bahkan jadi jarang tersenyum juga.


Syafiq tau dirinya bersalah. Tapi sekarang sudah saatnya untuk makan malam. Mungkin nanti setelah makan malam Syafiq akan menjelaskan semuanya kepada istrinya itu. Karena butuh waktu yang tidak sebentar untuk menjelaskan semuanya.


Steven dan Sheila merasakan ada yang berbeda dengan makan malam kali ini. Terlalu hening, tidak seperti biasanya yang diselingi dengan kejahilan Syafiq yang menggoda Sena. Bahkan Sena juga lebih banyak diam, tidak seperti biasanya. Meskipun Sena tetap melayani Syafiq seperti biasanya, tapi Steven dan Sheila tetap bisa merasakan kalau sepertinya sedang ada sedikit masalah di antara kedua anaknya itu.


Ya, semenjak Safa menikah dengan Adrian, keduanya langsung tinggal bersama dengan Opa Ricko dan Oma Amelia, sesuai dengan permintaan Opa dulu. Jadi sekarang hanya Syafiq dan Sena yang tinggal bersama dengan Steven dan Sheila.


Selesai acara makan malam, Sena membantu Sheila untuk membereskan meja makan bersama dengan asisten rumah tangga mereka.


Sementara Steven mengajak Syafiq untuk berbincang di dalam ruang kerjanya.


"Kakak lagi ada masalah sama Sena ya?" tanya Steven to the point.


"Cuma kesalahpahaman aja kok, Yah," jawab Syafiq.


"Segera selesaikan. Jangan dibiarkan berlarut-larut. Hati wanita itu rapuh. Jadi kita harus pintar-pintar menjaganya," pesan Steven.


"Iya, Yah."


"Saran Ayah, selesaikan sebelum kalian berdua tidur malam ini. Jangan sampai kalian membiarkan masalah jadi berkepanjangan. Masalah hari ini maka harus selesai hari ini juga. Jadi nanti pas kalian mau tidur dan istirahat kalian udah berdamai. Bisa tidur dengan saling memeluk atau bahkan bercinta seperti biasanya. Itu pengalaman yang selama ini Ayah dan Bunda alami. Karena jujur saja, Ayah nggak bisa kalau tidur nggak meluk Bunda kamu. Jadi ya gitu, semua masalah harus selesai sebelum kami tidur hari itu, biar nggak ada yang mengganjal lagi di hati," nasehat Steven lagi.


"Baik, Yah. Makasih banyak nasehatnya," balas Syafiq dengan tersenyum, merasa beruntung karena sudah mendapatkan sebuah ilmu rumah tangga yang baru dari ayahnya.


..._ _ _ _ _ _ _ _ _...


Terima kasih banyak untuk semuanya yang sudah setia dengan novel receh author abal-abal ini 😊


Mohon maaf dengan sangat karena belum bisa up setiap hari dikarenakan riweuh-nya keseharian di RL πŸ™πŸ™πŸ™


Dan mohon maaf dengan sangat juga karena tidak bisa membalas komentar kalian semua satu per satu πŸ™πŸ™πŸ™


Mohon dimaklumi ya kerepotan di RL yang lumayan menyita waktu, maaf banget πŸ™πŸ™πŸ™


Tetapi sekali lagi diriku mengucapkan terima kasih banyak untuk semua komentar dari kalian semua 😊😊😊

__ADS_1


Terima kasih banyak atas dukungan dan support semangat dari kalian semua,,, apalah arti diriku dan karya recehku ini tanpa dukungan kalian semua,,, love you all 😘😘😘


__ADS_2