Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Satu Rahasia Terbongkar


__ADS_3

"Mikirin apa sih, Bun? Kok sampai ngelamun kayak gitu?" tanya Steven yang baru saja naik ke atas ranjang kemudian ikut menyandarkan tubuhnya pada headboard seperti Sheila.


Sheila sempat tersentak kaget karena kedatangan Steven yang tiba-tiba. Tapi kemudian Sheila justru menyandarkan kepalanya di bahu kokoh suaminya itu.


"Kenapa, hmm?" tanya Steven lagi dengan membelai lembut kepala istrinya yang sangat dia cintai itu.


"Bunda salah apa ya, Yah? Kenapa kedua putra kita harus menikah dengan cara yang seperti ini? Begitu mendadak dan secara diam-diam. Bahkan mereka berdua sama-sama menyembunyikan pernikahan mereka dari kita. Apa Bunda udah salah ya dalam mendidik mereka, Yah?" lirih Sheila.


Steven tersenyum mendengar pertanyaan Sheila tersebut. Steven sangat memahami perasaan istri cantiknya itu saat ini. Karena jujur saja, pertanyaan itu juga yang sempat terlintas di pikiran Steven. Hanya saja, Steven sudah lebih dulu menguatkan dirinya sendiri dengan jawaban-jawaban yang rasional. Karena Steven sadar, dia harus bisa untuk menguatkan hati istrinya itu karena masalah pertanyaan yang sama.


"Kamu nggak salah, sayang. Cara mendidik kamu juga tidak salah. Buktinya Sean, Syafiq, dan Safa tumbuh besar menjadi pribadi yang baik dan bisa menjaga diri mereka dengan baik, tanpa melupakan kewajiban mereka kepada Allah SWT. Hanya saja, semua ini adalah ketetapan dari Allah SWT yang sudah menjadi garis takdir yang harus dijalani oleh kedua putra kita itu," jawab Steven mencoba menenangkan hati istri tercintanya.


"Jangan berpikir berlebihan. Semuanya sudah menjadi ketetapan dari Allah SWT. Dan bukankah kedua putra kita juga menikah dengan gadis yang mereka sukai? Ya walaupun dengan cara yang diluar dugaan sih. Kita do'akan saja kebahagiaan untuk rumah tangga mereka, ya. Sama seperti Sean dan Sonia, semoga Syafiq dan Sena juga bisa berbahagia dengan pernikahan mereka. Bukankah restu kita adalah restu dari Allah SWT? Jadi kewajiban kita sekarang hanyalah memberikan restu kita kepada mereka dan mendo'akan kebahagiaan untuk mereka saja," lanjut Steven lagi.


"Iya, Yah. Pasti itu. Bunda pasti selalu mendo'akan untuk kebahagiaan mereka," balas Sheila.


"Nah, gitu dong. Udah ya, nggak usah dipikirin terlalu berlebihan lagi."


Sheila menganggukkan kepalanya di bahu Steven. Steven kemudian mencium puncak kepala istri tercintanya itu penuh sayang.


🌺🌺🌺


"Jadi, perjanjian apa yang dimaksud sama Vira dan kak Lucky tadi, kak?" tanya Sena begitu melihat Syafiq keluar dari kamar mandi.


Sena memang sengaja menunggu Syafiq karena ingin mendengar penjelasan dari suaminya itu. Syafiq kemudian berjalan menghampiri Sena dan mendudukkan dirinya di pinggir tempat tidur di sebelah Sena.


"Jadi waktu itu Lucky tanpa sengaja mengetahui rahasia kakak. Terus dia bersedia untuk menyimpan rahasia tersebut tetapi dengan satu syarat, suatu saat ketika dia memerlukan bantuan dari kakak maka kakak juga harus bersedia untuk membantu dia, apapun dan kapanpun itu. Dan Lucky menagih janji itu beberapa saat yang lalu. Lucky meminta kakak untuk membantu hubungan dia dengan Vira, yang pada saat itu ditentang oleh Mama Bella. Tiap kali Lucky ingin mengajak Vira jalan, maka kakak yang harus menjemput Vira. Karena Mama Bella selalu ngijinin kalau Vira pergi sama kakak. Gitu ceritanya," jawab Syafiq menjelaskan kepada Sena.


"Oh, gitu. Emangnya rahasia apa sih, kak?" tanya Sena penasaran.


Syafiq tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan Sena tersebut.

__ADS_1


"Lebih baik kamu nggak usah tau aja."


"Tuh kan, kak Syafiq bohong," rajuk Sena. "Tadi katanya mau cerita semuanya ke aku, makanya aku nggak perlu tanya sama Vira ataupun kak Lucky. Tapi sekarang, mana buktinya? Kakak bohongin aku."


Sena melipat kedua tangannya di depan dadanya kemudian memutar tubuhnya sehingga membelakangi Syafiq sebagai aksi protesnya. Dan ketika Sena mendengar Syafiq yang justru tertawa, Sena semakin mengerucutkan bibirnya karena kesal.


"Hahahahaha... Iya deh iya, kakak cerita. Tapi kamu yakin mau mengetahui rahasia ini?" tanya Syafiq setelah tawanya mereda.


"Iya. Yakin," balas Sena dengan kembali memutar tubuhnya sehingga menghadap ke arah Syafiq lagi.


"Oke deh, kakak akan cerita. Tapi, kamu harus janji dulu sama kakak, apapun yang akan kakak ceritakan sama kamu, setelah kamu mengetahui kebenarannya, kamu nggak boleh marah sama kakak, oke?" tanya Syafiq meminta Sena untuk berjanji.


"Iya deh, janji aku nggak akan marah."


"Janji?" tanya Syafiq lagi dengan mengangkat jari kelingking tangan kanannya.


"Ihh, kakak kayak anak kecil aja sih," ejek Sena, tapi Sena tetap mengangkat tangan kanannya kemudian menautkan jari kelingkingnya dengan jari kelingking Syafiq. "Udah nih. Aku janji nggak akan marah sama kakak."


Syafiq tersenyum. Pertautan janji jari kelingking itupun kemudian dilepaskan.


"Jadi, dulu itu Lucky tanpa sengaja mengetahui kalau kakak diam-diam selalu mengawasi kamu. Lucky nggak sengaja nemuin banyak sekali foto-foto kamu yang diambil sama orang suruhan kakak untuk ngawasin kamu, di ruang kerja kakak. Dan, ya gitu, Lucky akhirnya tau tentang rahasia kakak itu."


Sena membulatkan kedua matanya dengan mulut terbuka saking terkejutnya.


"Kakak ngawasin aku diam-diam?" tanya Sena tidak percaya.


"Hehe, iya," jawab Syafiq dengan cengiran canggung-nya.


Hening. Syafiq mulai merasa takut dan khawatir melihat keterdiaman Sena yang sulit untuk diartikan itu. Syafiq takut kalau Sena akan marah. Lebih buruknya lagi, Syafiq sangat takut kalau Sena akan kecewa kepada dirinya.


"Sejak kapan?" tanya Sena datar, dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan.

__ADS_1


"Sejak kejadian yang kamu digangguin sama anak-anak nakal itu, terus kakak nganterin kamu pulang dan kakak ngelihat kalau Mama kamu memperlakukan kamu berbeda dengan adik-adik kamu," jawab Syafiq mulai merasa bersalah.


"Se-lama itu? Kenapa? Apa alasan kakak?"


"Ya, awalnya sih cuma karena kasihan. Nggak tega aja gitu ngelihat kamu diperlakukan nggak adil kayak gitu sama Mama kamu. Tapi, semakin lama, setelah kakak semakin mengetahui sifat dan kepribadian kamu, mengetahui semua keseharian kamu, kakak jadi semakin bertekad untuk selalu menjaga dan melindungi kamu. Kakak nggak mau kamu terluka atau kesusahan. Sebisa mungkin, kakak bantuin kamu meski harus dengan cara sembunyi-sembunyi," jawab Syafiq menjelaskan.


"Kenapa? Kenapa kakak lakuin semua itu?" tanya Sena masih dengan nada datar.


Perasaan Sena campur aduk saat ini. Sena sangat terkejut mengetahui kenyataan bahwa selama ini Syafiq selalu mengawasi dirinya secara diam-diam. Meskipun jujur, ada sedikit rasa bahagia di hati Sena. Ternyata orang yang dia sukai sejak masih kecil itu selalu menjaga dan melindungi dirinya, meskipun secara sembunyi-sembunyi.


"Karena kakak sayang sama kamu, Sena," jawab Syafiq, yakin dan penuh percaya diri.


Dan Sena kembali membulatkan kedua matanya mendengar perkataan dari Syafiq tersebut.


"Ya, Sena. Kakak sayang sama kamu, sudah sejak lama. Sangat lama. Bahkan sampai kakak sendiri pun lupa, sejak kapan dan karena alasan apa kakak menyayangi kamu. Yang kakak tau, kakak sangat menyayangi kamu. Kakak nggak ingin melihat kamu terluka, karena itu sebisa mungkin kakak selalu membantu kamu secara diam-diam. Kakak selalu mengawasi kamu untuk memastikan keamanan dan keselamatan kamu," tegas Syafiq.


Tes.


Air mata itu mengalir tanpa permisi di kedua pipi Sena. Syafiq seketika menjadi panik karena merasa sangat bersalah. Syafiq mendekatkan tubuhnya pada Sena. Syafiq menghapus air mata Sena menggunakan jari-jari tangan kanannya. Kemudian Syafiq menangkup wajah Sena menggunakan kedua tangannya.


"Maaf. Tapi sungguh, kakak nggak ada niat buruk apapun sama kamu. Kakak juga nggak punya maksud apa-apa. Kakak hanya ingin memastikan keamanan dan keselamatan kamu. Kakak nggak ingin kamu mengalami kesulitan. Kakak tau kakak udah salah. Kakak tau cara kakak ini salah. Kakak minta maaf sama kamu. Tolong maafkan kakak, Sen. Tapi sungguh, kakak ngelakuin semua ini cuma untuk melindungi kamu. Memastikan keamanan dan keselamatan kamu. Karena kakak sayang sama kamu, Sena."


Mendengar setiap perkataan Syafiq, air mata Sena justru mengalir semakin deras. Sena justru mulai terisak. Dan hati Syafiq merasa sangat sakit melihat Sena yang seperti itu.


"Jadi selama ini, setiap kali kakak nolongin aku, itu bukan sebuah kebetulan?" tanya Sena di sela-sela isak tangisnya.


"Ada beberapa yang memang murni sebuah kebetulan saja. Tapi memang lebih seringnya karena kakak mendapat laporan dari Ega maupun anak buah kakak yang kakak tugaskan untuk mengawasi kamu."


Tangisan Sena semakin kencang. Bahkan tubuh Sena sampai berguncang karena dia menangis tergugu. Tidak kuat lagi melihat Sena yang seperti itu, Syafiq pun langsung menarik tubuh Sena kemudian memeluknya dengan erat.


"Maafkan kakak, Sena. Tolong maafkan kakak," sesal Syafiq dengan menciumi puncak kepala Sena.

__ADS_1


'Yaa Allah,,, aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau ternyata kak Syafiq begitu menyayangiku. Bahkan kak Syafiq sampai rela melakukan semua ini demi aku. Aku sama sekali tidak pernah menyangka kalau selama ini kak Syafiq selalu mengawasi dan melindungiku. Kak Syafiq juga selalu membantuku meski dengan cara sembunyi-sembunyi. Betapa beruntungnya diriku ini, Yaa Allah,' monolog batin Sena.


'Baru satu rahasia yang terbongkar dan reaksi Sena sudah seperti ini. Bagaimana kalau Sena mengetahui rahasia yang lainnya? Yaa Allah, aku sangat takut membayangkan reaksi Sena nanti akan seperti apa,' monolog batin Syafiq.


__ADS_2