Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Kabar Mengejutkan


__ADS_3

"Ya kak, please," mohon Sena kepada Syafiq dengan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Enggak. Pokoknya enggak ya enggak. Kenapa juga sih kamu ngotot mau pulang Sen?" tolak Syafiq seraya masih fokus mengemudikan mobilnya.


Saat ini keduanya sedang dalam perjalanan pulang menuju ke apartemennya. Dan Sena sedang meminta ijin kepada Syafiq untuk bisa pulang ke rumah Papa Bima, sesuai janjinya pada Vira tadi. Sayangnya Syafiq enggan memberikan ijinnya.


Namun belum juga Sena sempat menjawab pertanyaan Syafiq tadi, tiba-tiba saja ponsel Syafiq berbunyi nyaring. Syafiq mengambil ponselnya dari dalam saku jasnya kemudian melihat siapa yang menelepon.


"Bunda," lirih Syafiq begitu mengetahui kalau Bunda Sheila yang menelepon. "Kamu diem dulu. Kakak angkat telepon dari Bunda dulu," pesan Syafiq kepada Sena.


Sena hanya mampu menganggukkan kepalanya pelan. Entah kenapa Sena jadi merasa sedikit tegang saat ini.


"Assalamu'alaikum Bun," sapa Syafiq setelah menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.


"Wa'alaikumsalam kak. Kakak, malam ini kakak pulang ya, tidur di rumah. Udah beberapa hari ini loh kakak tidur di apartemen terus. Nggak kasihan apa sama Bunda? Kan Bunda jadi kangen sama kakak. Safa juga tuh."


Samar-samar suara Bunda Sheila masih bisa didengar oleh Sena. Dan jujur saja, Sena sedikit merasa bersalah dalam hatinya. Karena dirinya Syafiq jadi tidak bisa pulang ke rumah. Dan Syafiq pun menyadari perubahan raut wajah Sena yang menjadi agak murung itu.


"Maafin kakak ya Bun, kemarin-kemarin emang kakak lagi sibuk banget."


"Iya kak, nggak pa-pa. Bunda ngerti kok. Tapi malam ini tolong kakak usahakan untuk bisa pulang ya. Kebetulan nanti malam Abang kamu sama Sonia juga mau datang. Adrian juga. Jadi kita bisa makan malam sama-sama, ya."


"Insya Allah ya Bun. Kakak usahain kakak bisa pulang malam ini."


"Syukurlah kalau gitu. Ya udah kak, Bunda cuma mau bilang itu aja kok. Kakak lanjutin aja aktivitas kakak. Jangan lupa makan ya kak."


"Iya Bun."


"*B*unda tutup dulu ya. Assalamu'alaikum kak."


"Iya Bun. Wa'alaikumsalam."


Tut.


Sambungan telepon pun terputus. Syafiq memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Kamu kenapa murung?" tanya Syafiq yang membuat Sena sedikit terperanjat.


"Malam ini kakak pulang ke rumah aja ya, kasihan Bunda, dia kangen sama kakak. Aku juga mau ijin pulang ke rumah Papa dulu. Vira tadi bilang kalau Azka juga kangen sama aku," kata Sena dengan menundukkan kepalanya.


Sena sangat berharap semoga kali ini Syafiq tidak menolak lagi. Sementara, Syafiq juga tau benar kalau saat ini Sena sedang merasa bersalah. Syafiq pun mengesah keras.


"Hah. Baiklah, malam ini kakak akan pulang ke rumah Ayah. Kakak juga ijinin kamu pulang dan nginep di rumah Papa Bima. Tapi kamu tetep kakak anterin sampai gang depan kayak biasanya," kata Syafiq.


"Terserah kakak aja," balas Sena tidak ingin membantah lagi.


Sisa perjalanan itu mereka berdua lalui dalam keheningan. Sesampainya di apartemen, Syafiq dan Sena kemudian mandi dan bersiap-siap. Selesai bersiap, mereka berdua pun kembali turun untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Terlebih dahulu Syafiq mengantar Sena untuk pulang ke rumah Bima. Tapi seperti biasanya, Syafiq hanya mengantar sampai di gang di dekat rumah Sena saja. Sena masih harus berjalan sekitar 100 meter lagi untuk sampai ke rumahnya. Setelah memastikan Sena masuk ke halaman rumahnya, barulah Syafiq kemudian menjalankan mobilnya kembali.


🌺🌺🌺


"Assalamu'alaikum," sapa Syafiq dengan berjalan memasuki ruang keluarga di rumah Steven.


"Wa'alaikumsalam," balas Steven, Sheila, Sean, Sonia, Safa, dan Adrian yang memang sedang berkumpul bersama.


"Kak Syafiq," pekik Safa seraya bangun dari duduknya kemudian menghambur memeluk Syafiq.


"Nggak usah peluk-peluk, ihh. Nggak malu apa tuh sama Mas Rian? Biasanya juga kamu paling nggak mau kalau disuruh meluk kakak," ketus Syafiq berpura-pura marah seraya melepaskan pelukan Safa pada dirinya.


"Iiihhh, kak Syafiq jahat," ketus balik Safa, merajuk dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

__ADS_1


"Hahahaha, kangen kakak ngusilin kamu, Dek," tawa lepas Syafiq setelah berhasil mengerjai adiknya.


Safa semakin mengerucutkan bibirnya. Semua yang ada disana pun ikut mengulum senyum. Sheila kemudian berdiri dan menghampiri kedua anaknya itu.


"Kakak ihh. Safa kan beneran kangen sama kakak, eh malah dikerjain kayak gitu," tegur Sheila dengan merangkul pundak Safa.


Syafiq kemudian meraih tangan kanan Sheila kemudian menciumnya.


"Hehe, maaf Bun. Habis kangen juga sih jahilin si berisik ini," kata Syafiq seraya mencubit hidung Safa.


"Kak Syafiq iiihhh," rajuk Safa dengan memanjangkan kata.


"Kakak," tegur Sheila lagi.


"Hahaha, iya-iya, maaf," kata Syafiq pada akhirnya.


Sheila membawa Safa untuk kembali duduk di sofa. Syafiq mengikuti di belakangnya. Syafiq kemudian mencium punggung tangan kanan Steven.


"Ayah," sapa Syafiq.


"Dasar kamu, paling suka kalau buat adik kamu merajuk," tegur Steven pula.


Syafiq hanya menyengir mendengar teguran dari ayahnya itu.


"Kalau nggak gitu ya bukan Syafiq, Yah," imbuh Sean.


"Mantap. Abang emang paling ngertiin gue," balas Syafiq dengan menoleh ke arah Sean dan mengacungkan jempol tangan kanannya.


"Sekarang Lo masih bisa tertawa. Awas aja kalau nanti gue udah jadi suaminya Safa dan Lo buat istri tercinta gue jadi merajuk, gue gibeng juga Lo," ancam Adrian pada Syafiq.


"Hahahaha... Weiss, ampun Bro. Ngeri gue kalau Lo udah ngeluarin tanduk kayak gitu, Mas," balas Syafiq dengan menoleh ke arah Adrian.


Setelah beberapa saat berbincang dan bersenda gurau, mereka semua pun kemudian makan malam bersama.


"Sena gimana kak?" tanya Sonia lirih ketika dia sedang menuangkan air di sebelah Syafiq.


Sonia ingat betul bagaimana saat dirinya dulu ditinggal pulang oleh Sean dan terjadi mati lampu di apartemen. Sonia yang sendirian, di tempat yang baru, dan dalam keadaan gelap. Sonia merasa begitu ketakutan.


"Dia pulang ke rumah Papa Bima," jawab Syafiq tak kalah lirih.


"Syukurlah," desah Sonia lega.


Selesai acara makan malam, Steven mengajak Sean, Syafiq, dan Adrian untuk berbicara di ruang kerjanya.


"Kenapa menantu Ayah nggak diajak pulang?" tanya Steven to the point.


Ekspresi berbeda ditunjukkan oleh ketiga laki-laki muda di hadapan Steven. Syafiq dengan keterkejutannya, Adrian dengan kebingungannya, sementara Sean dengan rasa bersalahnya.


"Ayah tau?" tanya Syafiq.


Steven hanya tersenyum miring sebagai jawaban.


"Maafin Abang, Fiq," sesal Sean.


Syafiq menghembuskan nafasnya pasrah.


"Huft. Gue paham posisi Lo, Bang," balas Syafiq kemudian.


"Tunggu-tunggu, ini ada apa sih sebenarnya?" tanya Adrian yang kebingungan.


"Biar Syafiq yang jelasin ke kita semua," kata Steven mempersilahkan.

__ADS_1


Adrian nampak menunggu dengan sangat antusias. Dirinya sudah benar-benar bingung dan penasaran saat ini.


"Gue udah nikah sama Sena, dua hari yang lalu," Syafiq pun mulai membuka suara.


"What???" tanya Adrian kaget sekaligus tidak percaya.


Syafiq kemudian menceritakan semuanya secara garis besar. Tetapi tentu saja tanpa menjelaskan kejadian yang sebenarnya terjadi pada malam hari itu.


"Astaga, gue bener-bener nggak nyangka mamanya Sena bisa setega itu. Ya walaupun Sena bukan anak kandungnya sendiri, tapi kan dia anak dari kakak kandungnya. Dan dia juga udah ngerawat Sena dari kecil loh, masak bisa sampai setega itu," komentar Adrian setelah Syafiq selesai bercerita.


"Ada orang lain di balik Tante Bella. Orang itu memanfaatkan keadaan Tante Bella yang mudah terhasut dan terprovokasi," balas Syafiq.


"Itu kenapa Bima nggak langsung menghukum istrinya. Akar masalah yang harus diselesaikan," lanjut Steven juga.


"Iya, Ayah bener," balas Syafiq.


Tiba-tiba saja ponsel Syafiq berbunyi nyaring. Ada nama Ega terpampang di layar ponselnya.


"Ega? Syafiq angkat dulu ya Yah," ijin Syafiq.


Setelah Steven menganggukkan kepalanya, Syafiq pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Iya Ga," sapa Syafiq begitu sambungan telepon terhubung.


"Terjadi kebakaran Bos di rumah Bos Bima. Dan Sena terjebak di dalam bersama Azka," teriak Ega panik dari seberang panggilan.


"APA???" Syafiq sampai berdiri dari duduknya karena kaget.


"Saya sudah menghubungi pemadam kebakaran, Bos. Tapi masih belum datang juga."


"Oke, gue kesana sekarang juga."


Syafiq langsung mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kenapa Fiq?" tanya Sean, mewakili Steven dan Adrian juga.


"Terjadi kebakaran di rumah Papa Bima. Sena sama Azka masih kejebak di dalam," jawab Syafiq panik.


"Kita kesana sekarang juga," kata Steven.


Sean, Syafiq, dan Adrian mengangguk mengiyakan. Mereka berempat kemudian keluar dari ruang kerja Steven dengan terburu-buru.


"Bun, kita berempat mau ke rumah Bima dulu ya. Terjadi kebakaran di rumah Bima," pamit Steven kepada Sheila yang saat ini sedang duduk bersama Sonia dan Safa di ruang keluarga.


"Astaghfirullah hal adziim," pekik ketiga wanita berbeda generasi itu bersamaan seraya berdiri dari duduknya.


"Sena?" tanya Sonia reflek.


"Sena sama Azka masih terjebak di dalam," jawab Sean.


"Ayo buruan!" sela Syafiq tidak sabaran.


"Ya udah, kami berangkat dulu ya. Assalamu'alaikum," pamit Steven lagi.


"Iya, wa'alaikumsalam," balas Sheila, Sonia, dan Safa.


"Hati-hati kalian semua. Langsung kabari kalau ada kabar terbaru," pesan Sheila.


"Pasti Bun," jawab Steven.


Steven, Sean, Syafiq, dan Adrian pun kemudian bergegas hendak menuju ke rumah Bima.

__ADS_1


__ADS_2