
Suara adzan yang berbunyi nyaring dari aplikasi pada ponselnya membangunkan Sena dari tidur lelapnya. Perlahan Sena mulai membuka kedua matanya. Sena sedikit mendongakkan kepalanya, dan hal pertama yang langsung menyapa penglihatan Sena adalah wajah tampan suaminya yang masih tertidur pulas dengan damai. Sena mengulum senyum kecil. Terbangun dalam pelukan suaminya adalah sebuah kebahagiaan tersendiri yang belakangan ini sangat disyukuri oleh Sena.
Setelah mengetahui tentang kebenaran hubungan di antara Vira dan Syafiq semalam, hati Sena merasa jauh lebih tenang. Apalagi setelah mengetahui kenyataan bahwa ternyata selama ini Syafiq selalu mengawasi, melindungi, dan membantu Sena secara diam-diam, rasa cinta dan sayang yang dirasakan Sena kepada Syafiq menjadi semakin berlipat-lipat.
"Udah puas lihatinnya?" tanya Syafiq dengan senyum kecil yang menggoda.
Sena sedikit tersentak. Syafiq bahkan masih memejamkan kedua matanya, tapi dia bisa tau kalau Sena sedang memperhatikan wajahnya. Syafiq kemudian membuka kedua matanya.
"Selamat pagi istriku sayang," sapa Syafiq dengan senyum yang merekah.
"Se-selamat pagi, kak," balas Sena tergagap dan salah tingkah.
Syafiq tertawa kecil melihat tingkah Sena yang begitu menggemaskan di matanya. Syafiq kemudian mencium kening Sena penuh sayang. Sena bahkan sampai memejamkan kedua matanya, meresapi kehangatan kasih sayang Syafiq melalui ciuman tersebut.
"Yuk, kita sholat subuh berjamaah!" ajak Syafiq setelah melepaskan ciumannya dari kening Sena.
"Iya, kak," balas Sena lirih, masih berusaha menetralkan detak jantungnya yang tak beraturan.
Syafiq dan Sena kemudian turun dari tempat tidur dan bergegas untuk mengambil wudhu kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah.
πΊπΊπΊ
Saat ini Syafiq dan Sena sedang sarapan pagi bersama di meja makan. Suara dering posel Syafiq yang berbunyi nyaring tiba-tiba menginterupsi acara sarapan pagi mereka. Syafiq mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Ternyata Ega yang menelepon.
"Dari Ega. Kakak angkat dulu, ya," kata Syafiq.
"Iya, kak," balas Sena dengan menganggukkan kepalanya.
Syafiq kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
"Iya, Ga."
"Lokasi persembunyian Cinthya sudah ditemukan Bos. Ternyata Rudi yang sudah membantunya melarikan diri. Bahkan secara tidak langsung, Rudi juga terlibat dalam insiden kebakaran kemarin. Bos Bima memerintahkan penyergapan jam 8 pagi ini. Semuanya sedang bersiap-siap sekarang. Selesai persiapan, mereka langsung berangkat."
__ADS_1
"Oke. Kirim lokasinya. Gue nyusul dari sini. Lo handle dulu semua urusan kantor."
"Baik Bos."
Tut.
Sambungan telepon pun terputus. Sena bisa melihat perubahan raut wajah Syafiq yang menjadi lebih tegang dari sebelumnya.
"Ada apa, kak?" tanya Sena khawatir.
"Nggak ada apa-apa kok," jawab Syafiq dengan tersenyum, mencoba menenangkan kekhawatiran istrinya itu. "Yuk, dilanjutin sarapannya!"
Berusaha mempercayai perkataan suaminya itu, Sena menganggukkan kepalanya pelan. Keduanya kemudian melanjutkan acara sarapan pagi mereka.
Selesai sarapan Sena kemudian mengantarkan Syafiq yang hendak berangkat bekerja sampai ke depan pintu apartemen mereka. Sena mencium punggung tangan kanan Syafiq. Syafiq pun kemudian balas mencium kening Sena.
"Jangan kemana-mana ya. Nanti Bunda, Safa, sama Sonia mau kesini katanya. Mau bahas masalah acara syukuran untuk mengumumkan tentang pernikahan kita. Kalau ada yang kamu nggak cocok atau ada yang ingin kamu tambahin, kamu bilang aja langsung sama Bunda, ya. Nggak usah sungkan," pesan Syafiq panjang lebar.
"Iya kak," balas Sena dengan tersenyum.
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya kak."
Syafiq menganggukkan kepalanya dan tersenyum yang dibalas Sena dengan senyuman manisnya juga. Syafiq pun kemudian meninggalkan apartemennya tersebut dan berangkat.
Tanpa diketahui oleh Sena bahwa sebenarnya Syafiq tidak berangkat menuju ke kantor, melainkan hendak ikut dalam aksi penyergapan Cinthya dan juga Rudi. Tentu saja Syafiq tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membalas semua perbuatan jahat yang sudah mereka lakukan kepada Sena, istrinya yang sangat dia cintai itu.
πΊπΊπΊ
Ketika Syafiq tiba di lokasi yang sudah diberitahukan oleh Ega sebelumnya, suasana sudah cukup gaduh. Sudah terjadi perkelahian antara anak buah Bima dengan anak buah Rudi. Beruntungnya lokasi ini di daerah terpencil yang jauh dari penduduk, sehingga mereka lebih leluasa dalam melakukan penyergapan.
Syafiq segera melompat turun dari mobilnya dan dalam sekejap Syafiq bahkan sudah ikut masuk ke dalam perkelahian yang terjadi. Syafiq ikut membantu menghadapi anak buah Rudi yang ternyata lumayan banyak dengan kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh.
Namun tidak lama kemudian, sebuah mobil menerobos keluar melalui pintu bagian samping.
__ADS_1
"Syafiq, cepat kita kejar mobil itu. Rudi dan Cinthya berusaha melarikan diri lagi," teriak Bima seraya berlari menghampiri Syafiq.
Menganggukkan kepalanya, Syafiq pun kemudian berlari menghampiri mobilnya disusul oleh Bima. Syafiq dan Bima kemudian mengejar mobil yang ditumpangi oleh Rudi dan Cinthya tersebut. Dengan kecepatan mobil Syafiq, bukan hal yang sulit untuk mengejar mobil Rudi dan Cinthya.
"Pepet terus, Fiq. Tapi tetep perhatikan keamanan kita," kata Bima kepada Syafiq yang sedang fokus pada kemudinya.
"Baik Pa."
Dan tanpa mereka duga sebelumnya, tiba-tiba saja Rudi melongokkan separuh tubuh bagian atasnya keluar. Rudi mengeluarkan pistol dan kemudian menembaki mobil Syafiq beberapa kali. Beruntungnya Syafiq yang cepat tanggap dan tidak terlambat untuk menghindar, sehingga semua tembakan itupun meleset.
"Sial. Nggak nyangka persiapan mereka sematang ini. Kamu harus lebih berhati-hati Fiq bawa mobilnya," umpat Bima sekaligus memperingatkan Syafiq.
"Iya Pa."
Aksi saling kejar masih terus berlanjut. Bahkan sesekali Rudi juga masih berusaha untuk menembaki mobil Syafiq. Tanpa mereka sadari ternyata mobil yang mereka kendarai mengarah ke daerah pegunungan. Jalanan yang berliku serta tikungan yang tajam sering memaksa mereka untuk mengurangi kecepatan laju mobil mereka.
Namun hal itu tidak menyurutkan semangat Syafiq sama sekali. Sekuat tenaga Syafiq berusaha mengejar mobil yang ditumpangi oleh Rudi dan Cinthya. Dan usaha Syafiq tidak sia-sia. Syafiq sudah berhasil berada tepat di belakang mobil Rudi dan Cinthya. Syafiq bahkan dengan sengaja menghantam mobil mereka dari belakang.
Dua kali hantaman mobil Syafiq pada bagian belakang mobil Rudi sepertinya berhasil membuat anak buah Rudi yang sedang mengemudi sedikit kehilangan fokusnya. Anak buah Rudi tersebut kemudian memacu mobilnya lebih kencang lagi. Namun diluar dugaan, ketika mobil mereka hendak berbelok di jalan yang menikung, ternyata dari arah yang berlawanan juga ada sebuah truk yang melintas.
Anak buah Rudi yang kaget pun akhirnya kehilangan kendali kemudinya kemudian membanting setir kemudinya ke arah kiri. Dan akhirnya mobil yang ditumpangi oleh Rudi, Cinthya, dan anak buah Rudi tersebut pun menerobos pembatas jalan dan jatuh ke jurang yang curam di sebelah kiri jalan.
Syafiq pun sempat terkejut dengan insiden yang terjadi di depannya. Namun beruntung bagi Syafiq yang tidak terlambat menginjak pedal rem-nya. Mobil Syafiq pun berhenti begitu juga dengan mobil truk yang dari arah berlawanan tadi. Syafiq dan Bima kemudian turun dari mobil. Dan tidak lama kemudian terdengar suara ledakan yang cukup keras dari bawah.
Sepertinya mobil yang ditumpangi oleh Rudi, Cinthya, dan anak buah Rudi tersebut meledak setelah menghantam batu besar di dasar jurang. Api berkobar cukup hebat di bawah sana yang berasal dari mobil Rudi yang terbakar.
Syafiq, Bima, dan beberapa pengendara yang sengaja menghentikan laju kendaraan mereka sempat dibuat tercengang dengan apa yang sudah terjadi. Bima kemudian menepuk pelan pundak Syafiq.
"Kita kembali saja. Papa udah hubungi Om Darius. Biar pihak kepolisian saja yang mengurus masalah ini," kata Bima.
Tersadar dari keterkejutannya, Syafiq pun kemudian menoleh ke arah Bima kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Syafiq dan Bima kemudian kembali ke mobil mereka. Mereka berdua kemudian meninggalkan tempat tersebut dan bertolak kembali ke markas.
"Semoga masalah ini berakhir sampai disini. Apa yang terjadi pada mobil mereka adalah murni kecelakaan. Mungkin itu adalah balasan dari Tuhan yang harus mereka terima atas segala perbuatan jahat yang telah mereka lakukan selama ini," kata Bima.
__ADS_1
"Iya. Papa benar," balas Syafiq membenarkan perkataan mertuanya itu.