Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Ujian Pernikahan


__ADS_3

"Gimana Ga?"


"Lokasi keduanya ada di cafe, Bos. Di cafe milik Frans."


"Oke, thanks."


Begitu menutup sambungan teleponnya, Syafiq pun kemudian melajukan mobilnya menuju ke cafe milik sahabatnya itu, Frans.


🌺🌺🌺


Saat ini Rey dan Naura sedang duduk berhadapan di cafe milik Frans. Keduanya nampak asyik mengobrol seraya menikmati minuman dan cake pesanan mereka. Tidak lama kemudian, Naura melihat Syafiq yang turun dari mobilnya dan berjalan dengan tergesa-gesa hendak masuk ke dalam cafe tersebut.


"Kak Syafiq udah dateng tuh, Mas. Perkiraan kak Sean benar-benar hebat, nggak meleset sedikit pun," bisik Naura kepada Rey.


"Huft, bismillaah hirrohmaan nirrohiim. Siap-siap kena pukul nih gue," balas Rey.


Naura dan Rey kemudian tertawa bersamaan. Dan benar saja, begitu memasuki cafe milik sahabatnya itu, Syafiq pun langsung menghampiri meja Rey dan juga Naura.


"Dimana Sena?" tanya Syafiq kepada Rey, to the point.


"Bos?"


"Kak Syafiq?"


Rey dan Naura menampakkan ekspresi kaget yang sama. Ekspresi kaget yang dibuat-buat tentu saja.


"Nggak perlu basa-basi. Cepat katakan dimana Sena sekarang?" ulang Syafiq setengah berteriak dengan menggebrak meja.


Naura sampai terlonjak karena terkejut. Kali ini dia benar-benar kaget. Rey pun lalu berdiri dari duduknya.


"Maksudnya apa sih, Bos? Saya beneran nggak ngerti," tanya Rey dengan menampilkan ekspresi wajah kebingungan.


"Nggak usah ngeles deh Lo. Gue tau ya kalau Lo itu suka sama istri gue. Dan sekarang Sena pergi, pasti Lo kan yang bantuin dia buat pergi ninggalin gue?" tanya Syafiq yang semakin emosi.


Naura membulatkan kedua matanya, sangat terkejut mendengar perkataan Syafiq tersebut.


"Cukup Bos. Oke, saya akui kalau dulu saya sempet suka sama Sena. Tapi setelah Sena nikah sama Bos Syafiq, saya juga perlahan mulai merelakan Sena dan mengubur perasaan saya yang memang juga bertepuk sebelah tangan itu. Jadi tolong, Bos jangan nuduh saya yang macam-macam. Kepergian Sena nggak ada hubungannya sama sekali dengan saya," jawab Rey menegaskan.


'Jadi bener Mas Rey dulu suka sama Sena?' monolog batin Naura.


"Seharusnya Bos yang introspeksi. Sena pergi pasti karena ada masalah dengan Bos, jadi jangan menyalahkan orang lain."


Bugh!


Satu pukulan keras dari Syafiq mendarat di wajah Rey.


"Sialan Lo," umpat Syafiq.


"Mas Rey," pekik Naura kaget.


Naura langsung berlari menghampiri Rey yang sedikit terhuyung. Sementara Rey hanya diam saja dan tidak melawan. Rey memegangi sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan sedikit darah, lumayan perih.


"Kak Syafiq jangan kasar dong," sentak Naura.

__ADS_1


"Diem Lo, Nau. Lo nggak tau apa-apa jadi nggak usah ikut campur," bentak Syafiq yang semakin dikuasai emosi.


"Bos! Bos boleh pukul saya, tapi tolong jangan kasar ke Naura. Dia nggak ada sangkut pautnya dengan masalah saya, Bos," Rey pun mulai berang melihat Syafiq yang membentak Naura.


"Kak Syafiq, dari tadi pagi Mas Rey tuh sama gue. Jadi jangan tuduh dia yang enggak-enggak. Gue sama Mas Rey beneran nggak tau apa-apa tentang masalah Sena," kata Naura.


Syafiq menyugar rambutnya ke belakang.


"S H I T !!!" umpat Syafiq keras.


"Bro," panggil Frans dengan menepuk pundak Syafiq.


Frans langsung berlari menghampiri mereka begitu melihat sahabatnya itu memukul Rey tadi.


"Tahan emosi, Lo. Itu nggak akan nyelesai-in masalah. Istighfar dulu, Bro," nasehat Frans.


"Astaghfirullah hal adziim," lirih Syafiq dengan memijit pelipisnya.


"Mas, Mbak, saya minta maaf atas nama sahabat saya ini, ya," kata Frans meminta maaf kepada Rey dan Naura mewakili Syafiq yang masih terlihat kacau.


"Nggak pa-pa kok, kak. Kita berdua paham situasinya," balas Naura.


"Oke kalau gitu. Silahkan dilanjutkan menikmati hidangannya. Dan sebagai permintaan maaf dari saya atas ketidak-nyamanan ini, Mas dan Mbak nggak perlu membayar pesanan kalian ini," kata Frans lagi.


"Oh, oke. Makasih ya, Mas," balas Naura yang dibalas Frans dengan anggukan dan senyuman.


"Kita ke ruangan gue dulu, Bro," ajak Frans kepada Syafiq.


Frans kemudian membawa Syafiq pergi meninggalkan Rey dan Naura. Rey dan Naura pun akhirnya kembali duduk di kursi mereka masing-masing.


🌺🌺🌺


Saat ini Sena, Sonia, Sean, dan Nadirga sedang berada di dalam mobil yang terparkir tidak jauh dari cafe milik Frans tersebut. Dan dari dalam mobil mereka bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi antara Syafiq, Rey, dan Naura di dalam cafe tadi.


"Aku ingin menenangkan diri dulu, Mbak," lirih Sena sendu dengan menundukkan wajahnya.


"Ya sudah kalau begitu, kita tetap dengan rencana awal kita. Kita tunggu Rey dan Naura sebentar lagi," kata Sean.


"Tapi kenapa mereka berdua nggak langsung keluar juga ya, Bang?" tanya Nadirga yang duduk di balik kemudi.


"Ada beberapa hal yang perlu mereka berdua bicarakan terlebih dahulu. Kita tunggu saja dulu," jawab Sean yang duduk di sebelah Nadirga.


🌺🌺🌺


Di dalam cafe.


"Kenapa Nau?" tanya Rey melihat Naura yang tampak terdiam dengan kedua tangan terlipat di atas meja.


"Jadi bener Mas Rey suka sama Sena?" tanya balik Naura seakan tidak percaya.


"Dulu, mungkin iya. Tapi sekarang udah enggak. Seperti yang pernah Sena bilang, Sena sama gue itu udah kayak saudara," jawab Rey dengan tenang.


Naura nampak menyimak setiap perkataan Rey dengan seksama.

__ADS_1


"Mungkin juga, dulu gue yang salah mengartikan perasaan gue ke Sena. Gue kira kalau gue cinta sama Sena. Tapi nyatanya, ketika Sena nolak gue, bahkan ketika gue melihat Sena tertawa bahagia dengan Bos Syafiq saat syukuran pernikahan mereka kemarin itu, bukannya merasa sedih atau sakit hati, gue justru merasa ikut bahagia melihat kebahagiaan Sena."


"Yang jelas, perasaan yang gue rasain ke Sena, sama perasaan yang gue rasain ke elo, itu sangat berbeda Nau."


Naura terkejut mendengar perkataan Rey tadi. Kedua mata gadis cantik itu bahkan sudah mulai berkaca-kaca.


"Ke Sena, gue lebih ke nggak mau ngelihat dia sedih. Seperti perasaan seorang kakak yang ingin melindungi adiknya. Tapi ke elo, entah kenapa gue selalu merasa begitu gugup, dada gue selalu berdebar-debar. Bahkan sejak saat Lo nggak sengaja nabrak gue dan numpahin minuman ke baju gue pas di acara syukuran kemarin itu. Sejak saat itu gue selalu ingin ketemu Lo, lagi dan lagi."


Rey meraih kedua tangan Naura yang berada di atas meja dan menggenggamnya dengan lembut.


"Lo boleh meragukan perkataan gue, Nau. Lo boleh nggak percaya, atau bilang kalau gue cuma cari alesan aja. Tapi tolong, Lo ijinin gue untuk berusaha membuktikan ke elo kalau gue beneran sayang sama Lo, Nau. Ijinin gue untuk berusaha meraih cinta dan kepercayaan Lo," pinta Rey tulus.


Tes!


Satu tetes air mata Naura lolos begitu saja. Tapi kemudian Naura tersenyum lembut dan menganggukkan kepalanya pelan. Rey pun lalu ikut tersenyum. Mengangkat tangan kanannya, Rey kemudian menghapus air mata Naura dengan jari telunjuknya.


Tidak lama kemudian, Rey dan Naura nampak keluar dari dalam cafe dengan bergandengan tangan. Keduanya kemudian menghampiri mobil Nadirga yang terparkir tidak jauh dari sana kemudian naik ke dalam mobil tersebut.


🌺🌺🌺


Bandara.


"Rey, Naura, ini ponsel baru kalian," kata Sean seraya memberikan ponsel baru kepada Rey dan Naura.


"Baik, makasih Bos."


"Makasih kak."


Balas Rey dan Naura bersamaan.


"Ponsel milik kalian aman sama Dirga. Dan Rey, gunakan kartu ATM ini untuk memenuhi segala kebutuhan kalian selama disana nanti, oke," Sean pun mengangsurkan sebuah kartu ATM kepada Rey.


"Baik Bos. Terima kasih," kata Rey seraya menerima kartu ATM tersebut dari Sean.


"Saya sudah menghubungi ketua RT disana, jadi kalian bisa tenang selama tinggal disana nanti. Dan nanti akan ada orang kita yang menjemput kalian di bandara. Dia yang akan mengantar kalian menemui Pak RT terlebih dahulu, baru setelah itu kalian diantar ke rumah almarhumah nenek Sonia."


"Oke Bos."


Sonia memeluk Sena sekali lagi.


"Baik-baik disana ya, Sen. Jangan lama-lama, kasihan suami kamu dan keluarga kita yang lainnya juga. Semoga suasana tenang di pedesaan bisa segera menyembuhkan rasa kecewa kamu," kata Sonia.


"Aamiin. Makasih untuk semua bantuannya ya Mbak, Bang," balas Sena.


"Nggak usah sungkan. Kalau ada apa-apa langsung kabari kami, ya," pesan Sean.


"Iya Bang. Kita pergi dulu kalau gitu. Assalamu'alaikum," pamit Sena.


"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya kalian."


Sena, Rey, dan Naura pun kemudian berjalan menuju ke arah terminal keberangkatan domestik. Air mata Sonia jatuh begitu saja. Melihat hal tersebut, Sean pun segera merengkuh istri tercintanya itu ke dalam pelukannya.


"Kenapa jadi seperti ini sih, Mas?" lirih Sonia.

__ADS_1


"Mungkin ini adalah ujian untuk pernikahan Sena dan Syafiq. Berdo'a saja, semoga masalah ini segera selesai dan mereka berdua bisa kembali mengarungi bahtera rumah tangga mereka bersama-sama," jawab Sean.


Sonia mengangguk pelan di dalam pelukan hangat suaminya itu.


__ADS_2