
Serangkaian acara pesta resepsi pernikahan yang melelahkan itupun akhirnya selesai juga. Dan malam ini kedua mempelai pengantin dan juga keluarganya menginap di hotel tersebut. Mengingat selesainya acara pesta yang sudah sangat larut malam, jadi biar mereka bisa lebih cepat untuk beristirahat.
Di dalam kamar pengantin Adrian dan Safa.
Setelah selesai membersihkan diri masing-masing, Adrian dan Safa kemudian melaksanakan ibadah sholat isya' berjamaah. Selesai sholat, Safa mencium punggung tangan kanan suaminya itu dengan takzim. Adrian pun juga mencium kening istri cantiknya itu penuh sayang.
Safa membereskan peralatan sholat yang tadi mereka pakai. Keduanya kemudian duduk saling berhadapan di atas tempat tidur. Adrian menggenggam lembut kedua tangan istri cantiknya itu.
"Mas bahagia banget, sayang. Akhirnya sekarang kamu udah resmi jadi istri Mas," kata Adrian dengan senyuman yang tak pernah luntur dari bibirnya.
"Safa juga bahagia banget, Mas. Setelah penantian kita yang begitu panjang, akhirnya hari bahagia ini datang juga," balas Safa yang juga ikut tersenyum lembut.
"Ya, penantian kita sudah berakhir, sayang. Dan mulai hari ini kita akan bersama-sama mengarungi bahtera rumah tangga kita berdua. Mas sangat mencintai kamu, Safa, istriku."
"Safa juga sangat mencintai Mas Rian, suamiku."
Perlahan namun pasti, Adrian kemudian mendekatkan wajahnya kepada Safa. Diciumnya lembut bibir istri cantiknya itu penuh sayang. Safa pun membalas ciuman dari suaminya tersebut. Lama kelamaan, ciuman yang awalnya lembut dan penuh perasaan sayang itupun berubah menjadi semakin intens dan saling menuntut satu sama lain.
Dan ketika keduanya sudah mulai merasa sesak karena kehabisan nafas, pertautan bibir keduanya pun terlepas. Adrian sedikit menjauhkan wajahnya. Dilihatnya wajah cantik istrinya yang memerah dengan nafas yang tersengal-sengal. Membangkitkan sesuatu yang selama ini selalu Adrian pendam dan tahan sekuat tenaga. Dan sekarang, sudah saatnya untuk melepaskan semua dahaga itu.
"Dua puluh dua tahun Mas Rian selalu sabar nungguin kamu, sayang. Dan malam ini, akhirnya Mas bisa berbuka puasa juga," ucap Adrian yang kemudian kembali menyatukan bibir mereka berdua.
Sedikit kewalahan menghadapi serangan ciuman dari suaminya, tetapi Safa berusaha untuk bisa mengimbangi suaminya itu. Safa tidak ingin mengecewakan suaminya, di malam pertama pernikahan mereka.
Perlahan-lahan Adrian mulai merebahkan tubuh Safa di atas tempat tidur. Tangan Adrian juga tidak tinggal diam dan mulai melucuti satu per satu pakaian yang mereka kenakan. Menjamah setiap jengkal tubuh istrinya. Merasai kehalusan dan kelembutan kulit putih dan bersih istri cantiknya itu.
Sementara Safa hanya bisa terus melenguh seraya memejamkan kedua matanya. Menikmati semua ledakan kenikmatan baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
"Bolehkah sayang?" lirih Adrian di depan wajah Safa ketika di bawah sana bagian inti tubuhnya sudah berada tepat di depan pintu masuk inti tubuh Safa.
Tak kuasa menjawab pertanyaan suaminya itu, Safa hanya mampu menganggukkan kepalanya sebagai persetujuan.
"Tahan ya, Mas janji akan pelan-pelan."
Lagi-lagi Safa hanya mampu mengangguk sebagai jawaban. Dan ketika Adrian mulai mendorong masuk, Safa meringis merasakan rasa perih dan sakit di bagian inti tubuhnya.
Teriakan kecil Safa yang diiringi dengan air mata yang menetes itu menjadi tanda bersatunya sepasang suami istri itu secara utuh.
__ADS_1
Adrian berhenti sejenak, memberikan waktu kepada istrinya itu untuk menyesuaikan diri dengan bagian tubuhnya yang tertanam di bawah sana, seraya menikmati sensasi rasa dicengkeram yang begitu ketat di bagian inti tubuhnya. Cup. Diciumnya kening istrinya itu penuh sayang.
"Akhirnya, kamu menjadi milik Mas seutuhnya, sayang. Mas bahagia banget," kata Adrian setelah mencium kening Safa.
"Safa juga bahagia banget, Mas. Safa udah jadi milik Mas Rian sekarang," balas Safa.
Adrian kembali menyatukan bibir mereka berdua. Perlahan-lahan Adrian mulai menggerakkan tubuhnya. Bersama-sama, sepasang suami istri itu mencoba untuk meraih kenikmatan dunia.
Dan ketika puncak itu mereka raih bersamaan, teriakan keduanya pun menggema di dalam kamar pengantin di hotel tersebut.
Dengan nafas yang masih memburu, keduanya menikmati sisa-sisa pelepasan dahsyat yang baru saja mereka rasakan itu. Sebuah pengalaman baru yang begitu hebat. Perlahan-lahan Adrian mulai menarik diri dan melepaskan penyatuan mereka berdua, kemudian merebahkan tubuhnya di sebelah Safa.
"Astaga, ternyata memang senikmat ini. Pantas saja mereka sampai berisik seperti itu," celetuk Adrian yang kemudian tertawa.
"Maaasss..."
Mau tidak mau Safa pun jadi ikut tertawa menanggapi kekonyolan perkataan suaminya itu tadi. Adrian menarik Safa ke dalam pelukannya.
"Sekarang kita udah ngerasain sendiri gimana rasanya. Mas jadi paham sekarang, kenapa dulu mereka begitu berisik saat kita sedang liburan bareng waktu itu," kata Adrian.
"Istirahat dulu sebentar. Setelah itu kita lanjut ronde berikutnya ya, sayang."
"Maaasss,,," rajuk Safa dengan memanjangkan kata lagi.
Adrian tertawa kecil kemudian mencium kening istri cantiknya itu penuh sayang.
πΊπΊπΊ
Di dalam kamar hotel Syafiq dan Sena.
Ternyata pasangan yang satu ini pun tidak mau kalah dengan pasangan pengantin baru yang sedang bertempur melakukan malam pertama mereka. Syafiq dan Sena juga baru saja selesai dengan pertempuran mereka sendiri.
Seraya menormalkan kembali nafas mereka berdua yang masih memburu, Syafiq pun menarik tubuh polos istrinya itu untuk masuk ke dalam pelukannya.
"Kak," panggil Sena.
"Hmm," jawab Syafiq dengan bergumam.
__ADS_1
Sena memainkan jari telunjuknya di dada bidang suaminya itu, membentuk pola abstrak dengan gerakan lentik jari telunjuknya.
"Mbak Sonia udah positif hamil, udah satu bulan," kata Sena hati-hati.
"Udah tau. Terus kenapa?" tanya Syafiq.
"Kakak nggak mempermasalahin gitu karena aku belum hamil juga sampai sekarang?" tanya Sena sedikit takut-takut.
Mendengar nada ragu dan takut dalam pertanyaan yang diucapkan oleh istrinya itu, Syafiq justru tertawa kecil. Syafiq semakin mengeratkan pelukannya kepada Sena.
"Sayang, kita nikah baru dua bulan. Waktu kita masih panjang. Jadi jangan bebani diri kamu sendiri dengan pemikiran seperti itu. Kakak nggak suka," tegas Syafiq.
"Tapi kan kak ---"
"No Sena! Dengarkan perkataan kakak baik-baik. Jangan jadikan masalah keturunan sebagai beban buat kamu. Kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT," potong Syafiq semakin tegas.
"Iya kak," lirih Sena pada akhirnya.
Nyali Sena selalu menciut tiap kali Syafiq sudah berbicara dengan nada serius seperti itu. Menyadari masih ada sedikit keraguan pada diri istrinya itu, Syafiq kemudian mencium puncak kepala Sena penuh sayang dan kembali mengeratkan pelukannya pada istri cantiknya itu.
"Kakak beneran nggak mempermasalahkan masalah itu, sayang. Dan lagi pun, justru kakak tuh pengennya kamu hamilnya setelah kamu lulus kuliah aja. Biar kamu nggak kesusahan dengan semester terakhir kamu nanti sayang. Belajar dari pengalaman Bunda dulu, kakak nggak mau kalau nanti kamu juga mengalami kesusahan yang sama seperti yang Bunda rasain dulu pas waktu hamil Bang Sean," kata Syafiq menjelaskan.
"Emang dulu Bunda pas hamil Bang Sean kenapa, kak?"
"Dulu, pas hamil Bang Sean, Bunda itu lagi skripsi juga. Jadi Ayah bilang dia bener-bener nggak tega ngelihat Bunda berjuang di tengah-tengah morning sickness-nya. Sampai akhirnya Ayah yang ngalah dan bantuin Bunda dalam penyusunan skripsinya."
Sena nampak membulatkan mulutnya membentuk huruf 'O' seraya menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Nah, itu kenapa kakak pengennya kalau kamu hamilnya nanti aja setelah kamu lulus kuliah, biar kamu nggak kesusahan juga. Tapi,,,, seandainya kamu dikasih hamil cepet pun, kakak tetep bersyukur kok. Berarti kita udah dikasih kepercayaan sama Allah SWT. Dan sama seperti Ayah dulu, kakak juga pasti bakal bantuin kamu biar kamu nggak kesusahan dengan semester terakhir kamu nanti," lanjut Syafiq diakhiri dengan janji yang meyakinkan.
"Iya, aku percaya kok sama kakak," balas Sena.
"Jadi,,, stop ya dengan pemikiran masalah kehamilan itu. Kita jalanin aja dulu, biarkan semuanya mengalir dan berjalan sesuai dengan yang sudah digariskan oleh Allah SWT untuk kita. Oke?"
"Iya kak," balas Sena lagi seraya mengangguk di dada bidang suaminya itu.
Syafiq kembali mencium puncak kepala istrinya itu penuh sayang.
__ADS_1