Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Harapan


__ADS_3

"Kakak ingat nggak kapan biasanya Sena dapet tamu bulanan-nya?" tanya Sheila setelah Syafiq menutup sambungan teleponnya dengan Safa.


Syafiq nampak berpikir sejenak.


"Biasanya sih awal bulan, Bun," jawab Syafiq.


Tetapi sesaat kemudian, Syafiq nampak tersentak, teringat akan sesuatu.


"Tapi Bun, awal bulan ini kayaknya Sena nggak dapet tamu bulanan-nya deh. Bahkan kayaknya sejak bulan kemarin loh, Bun. Soalnya kakak lama banget nggak disuruh puasa, lancar-lancar aja gitu jatah kakak," kata Syafiq lagi.


"Jangan-jangan,,," Sheila tidak melanjutkan perkataannya.


Paham dengan apa yang dimaksud oleh Bunda-nya, raut wajah Syafiq seketika berbinar. Begitu juga dengan Steven yang juga langsung ikut tersenyum, berharap semoga apa yang dipikirkan oleh Sheila adalah benar adanya.


"Maksud Bunda jangan-jangan Sena hamil?" tanya Syafiq memastikan.


"Feeling Bunda sih gitu, kak," jawab Sheila.


"Tapi Sena sama sekali nggak mual-mual, Bun," kata Syafiq sedikit merasa ragu.


"Kak, yang namanya wanita hamil itu memang gejalanya beda-beda. Begitu juga dengan kondisi ngidamnya, nggak sama antara wanita yang satu dengan yang lainnya," kata Sheila menjelaskan.


Syafiq mendengarkan dengan seksama perkataan bundanya itu.


"Ada yang morning sickness-nya parah, bahkan sampai harus bedrest, kayak Lathifah itu. Ada yang sama sekali nggak mual muntah, makan juga masih lahap kayak biasanya, kayak Sonia. Ada yang mual muntahnya cuma pas pagi hari aja, makan apa-apa dimuntahin lagi pas tiga bulan kehamilan awal, kayak adik kamu, Safa. Nah bisa jadi kondisi Sena sekarang yang seperti itu juga adalah tipe ngidamnya dia sendiri," Sheila menjelaskan panjang lebar.


"Bisa gitu ya, Bun?" tanya Syafiq masih bingung.


"Jangankan beda wanita, Bunda kamu aja tiga kali hamil ngidamnya nggak pernah ada yang sama, beda-beda semua," kata Steven juga.

__ADS_1


"Eh, iyakah, Yah?" tanya Syafiq lagi.


"Beneran," jawab Steven.


"Untuk lebih memastikan, mending besok kakak ajak Sena periksa langsung ke dokter aja. Atau mau di-test sendiri dulu pakai test pack kehamilan?" saran Sheila.


Syafiq terdiam, nampak berpikir.


"Iya deh, Bun. Coba besok kakak omongin dulu sama Sena, ya," kata Syafiq.


"Ngomongnya pelan-pelan ya, kak. Jangan sampai menyinggung perasaan Sena. Soalnya kan masalah kehamilan ini sensitif banget buat Sena. Apalagi dengan adanya banyak gunjingan kemarin-kemarin itu," pesan Sheila hati-hati.


"Pinter-pinternya kamu aja yang ngomong ke Sena, kak. Dia istri kakak, kakak pasti lebih paham gimana sifat dia. Cari waktu yang tepat juga," nasehat Steven juga.


"Iya Bun, Yah. Makasih banyak ya sarannya," balas Syafiq.


"Sama-sama, kak. Ayah dan Bunda do'akan semoga kali ini benar-benar positif ya. Penantian kalian berdua semoga berakhir kali ini, aamiin," do'a Sheila tulus.


Sheila menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Di dalam hatinya masing-masing, baik Syafiq, Steven, maupun Sheila sangat berharap semoga Sena benar-benar hamil kali ini.


🌺🌺🌺


Keesokan harinya.


Sena yang sedang menyisir rambutnya di depan meja riasnya merasa terkejut ketika melihat Syafiq keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos dan celana pendek.


"Loh, kok kakak pakai baju gitu? Kakak nggak kerja?" tanya Sena heran setelah membalikkan badannya menghadap ke arah Syafiq.


"Hari ini kakak libur, sayang," jawab Syafiq seraya berjalan menghampiri Sena.

__ADS_1


"Hmh, tumben. Memangnya ada acara apa, kak?"


Syafiq berjongkok di depan Sena. Digenggamnya kedua tangan Sena yang berada di atas pangkuannya.


"Sayang, hari ini kita pergi ke dokter yuk," ajak Syafiq hati-hati.


"Ke dokter? Siapa yang sakit kak?" tanya Sena semakin bingung.


"Nggak ada yang sakit kok, sayang. Cuma,,, kamu sadar nggak sih sayang, kamu udah telat datang bulan sejak bulan kemarin loh."


Deg.


Sena membulatkan kedua matanya. Berusaha mengingat-ingat. Dan, ah ternyata benar apa yang dikatakan oleh suaminya itu. Wajah Sena berbinar, ada secercah harapan yang bisa Sena rasakan. Tapi sesaat kemudian wajah Sena nampak meragu, bolehkah dia berharap tentang kabar gembira itu? Sena takut kalau ternyata hasilnya tidak sesuai dengan perkiraan mereka.


Syafiq memahami apa yang sedang berkecamuk di dalam hati dan pikiran istri cantiknya itu. Syafiq mengangkat tangan Sena yang dia genggam kemudian menciumnya.


Cup.


"Jangan pernah merasa takut akan sebuah harapan, sayang," kata Syafiq.


"Tapi bagaimana kalau ternyata hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita, kak? Aku takut kakak akan kecewa," tanya Sena ragu.


"Kakak sudah sering bilang sama kamu, sayang. Apapun yang terjadi, bagi kakak kamu adalah yang paling penting. Ada atau tidaknya anak di antara kita, tidak akan pernah merubah perasaan kakak ke kamu, sayang. Hanya saja, seandainya memang benar, dia sudah hadir di dalam perut kamu ini, kakak hanya ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Dan itu hanya bisa kita lakukan jika kita mengetahui kehadirannya sedari awal," kata Syafiq meyakinkan Sena.


Sena terdiam mendengarkan semua perkataan suaminya itu.


"Jadi, kita periksa ke dokter ya, sayang? Apapun hasilnya, kita serahkan saja semuanya kepada Allah SWT. Oke?" pinta Syafiq sekali lagi.


Sena terdiam sejenak. Melihat wajah suaminya yang begitu bersungguh-sungguh meyakinkan dirinya, akhirnya Sena pun kemudian tersenyum.

__ADS_1


"Iya, kak," jawab Sena seraya menganggukkan kepalanya.


Syafiq ikut tersenyum. Direngkuhnya tubuh istrinya itu ke dalam pelukannya. Mencurahkan segenap perasaan sayang, keduanya juga saling menguatkan satu sama lain. Berharap semoga secercah harapan yang hadir ini akan benar-benar menjadi kenyataan.


__ADS_2