
Sena terbangun dengan merasakan sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Ah, ternyata Syafiq masih juga memeluknya dari semalam. Ada rasa bahagia dan haru yang dirasakan Sena saat ini. Terbangun di dalam pelukan laki-laki yang sudah berhasil mencuri hatinya sejak kecil dulu, rasanya seperti mimpi.
Seulas senyum tersungging di bibir manis Sena. Tetapi ketika tiba-tiba saja Sena teringat dengan Vira, senyum itupun pudar, berganti dengan kedua mata Sena yang berkaca-kaca. Sena merasa sangat bersalah kepada Vira. Bagaimana bisa Sena mengambil kebahagiaan Vira seperti ini. Tanpa terasa air mata itu lolos begitu saja dari kedua mata indah Sena.
Suara adzan dari aplikasi pada ponsel Syafiq berbunyi nyaring. Syafiq pun mulai menggeliatkan tubuhnya pelan. Sesegera mungkin Sena menghapus bekas air mata di kedua pipinya. Menyadari kalau Sena juga sudah terbangun, Syafiq kemudian secepat kilat mencium pipi Sena.
Cup.
"Selamat pagi, istriku sayang," sapa Syafiq dengan tersenyum riang.
Sedetik kemudian Syafiq mengerutkan keningnya. Senyuman riang itupun seketika hilang dari wajah Syafiq ketika dia merasakan pipi Sena basah. Seperti ada bekas air. Dan hidung Sena juga sedikit memerah.
'Sena menangis?'
"Kaaak ....." protes Sena dengan memanjangkan kata, ketika tiba-tiba Syafiq mencium pipinya tanpa ijin.
'Nggak akan ada air mata kesedihan lagi setelah ini, itu janji kakak ke kamu, Sen.'
Syafiq tersenyum simpul.
"Kenapa? Nggak boleh ya cium istri sendiri?" tanya Syafiq menyebalkan.
Sena membelalakkan kedua matanya. Pertanyaan Syafiq menyadarkan Sena pada posisinya saat ini. Sena adalah istri Syafiq. Kenyataan yang mau tidak mau harus Sena hadapi.
"Nggak bisa jawab kan? Jangan membantah suami kalau nggak mau jadi istri durhaka," cibir Syafiq.
"Huft, udahlah, terserah kakak aja," kata Sena pada akhirnya dengan menghela nafas.
Cup.
"Emang terserah aku," balas Syafiq setelah kembali mencuri ciuman di pipi Sena.
"Kaaak ....." protes Sena lagi.
"Udah, nggak usah protes. Cepat ambil wudhu, kita sholat subuh berjamaah," balas Syafiq yang sudah mulai beranjak turun dari tempat tidur.
Dengan bersungut-sungut Sena pun bangun dari tidurnya. Sena menuangkan air ke dalam gelas kemudian meminumnya. Setelah itu Sena terlebih dahulu membereskan tempat tidur mereka karena saat ini Syafiq sedang berada di kamar mandi. Baru setelah Syafiq keluar dari kamar mandi giliran Sena yang menggunakan kamar mandi tersebut.
Syafiq dan Sena kemudian melaksanakan sholat subuh berjamaah. Satu hal baru yang membuat Sena semakin jatuh hati kepada Syafiq, suara merdu Syafiq ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dan menjadi imam sholat bagi Sena. Sangat berbanding terbalik dengan kebiasaan Syafiq yang begitu suka menjahili Sena dan bersikap sangat dingin kepada orang lain.
πΊπΊπΊ
Sesuai permintaan Sena, Syafiq menghentikan mobilnya sedikit jauh dari gerbang kampus Sena. Selesai sarapan pagi tadi terjadi perdebatan sengit di antara keduanya. Syafiq yang kekeuh ingin mengantar Sena ke kampus. Sementara Sena beralasan ingin menghindari agar Vira tidak mengetahui kebenaran hubungan mereka. Dan akhirnya, seperti inilah keputusan final mereka.
"Ya udah, aku turun dulu ya kak," pamit Sena dengan melepaskan seat belt-nya.
"Salim dulu sama suami," perintah Syafiq dengan mengulurkan tangan kanannya.
"Iya-iya," balas Sena yang kemudian meraih tangan kanan Syafiq kemudian mencium punggung tangannya.
Cup.
__ADS_1
Diluar dugaan Syafiq justru mencium kening Sena setelah itu. Sena sampai membulatkan kedua matanya karena terkejut.
"Belajar yang baik ya. Nanti kalau sudah pulang kabarin, kakak jemput," pesan Syafiq lembut dengan mengusap kepala Sena.
"I-iya kak," balas Sena tergagap. "A-aku turun dulu. Assalamu'alaikum," pamit Sena dengan membuka pintu mobil, menyembunyikan wajahnya yang sudah merona merah.
"Wa'alaikumsalam, hati-hati."
"Kakak juga hati-hati," pesan Sena tanpa berani menolehkan wajahnya, takut Syafiq melihat wajahnya yang merona merah.
Syafiq mengulum senyum kecil melihat tingkah menggemaskan Sena. Setelah memastikan Sena masuk ke dalam area kampus, baru kemudian Syafiq kembali menjalankan mobilnya, bertolak menuju ke arah kantornya.
"Kakak," pekik Vira begitu Sena memasuki area kampus.
Ternyata Vira sengaja menunggu Sena di depan gerbang kampus karena ingin bertemu dengan kakaknya itu.
'Huft, untung aja tadi berhenti agak jauh. Coba kalau beneran turun di depan, auto ketahuan kan.'
Vira langsung berlari menghampiri Sena kemudian memeluk kakaknya itu.
"Vira kangen sama kak Sena. Kakak baik-baik aja kan?" tanya Vira setelah melerai pelukan mereka.
"Kakak juga kangen sama kamu, sama Azka juga. Dan seperti yang kamu lihat, kakak baik-baik aja kok," jawab Sena.
"Kakak nginep dimana beberapa hari ini? Kenapa nggak pulang ke rumah? Vira sama Azka khawatir banget sama kak Sena," tanya Vira lagi.
"Maaf ya Vir, tapi untuk saat ini kakak belum bisa bilang ke kamu. Yang jelas kakak berada di tempat yang aman kok," jawab Sena.
'Andai kamu tau yang sebenarnya Vir, apa kamu masih bisa tersenyum seceria ini? Maafkan kakak Vira,' sesal Sena di dalam hatinya.
Sena memeluk Vira dengan erat. Setetes air mata sudah mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan kakak, Vir. Maafkan kakak," kata Sena.
"Kakak kenapa sih? Kenapa harus minta maaf coba?" tanya Vira kebingungan.
Sena dengan segera menghapus air mata nya. Menarik nafas dalam, Sena kemudian menormalkan kembali ekspresi wajahnya terlebih dahulu. Setelah itu Sena pun melepaskan pelukannya pada Vira.
"Nggak pa-pa kok. Kakak cuma mau minta maaf aja sama kamu," jawab Sena dengan tersenyum.
"Ih, kak Sena aneh deh."
"Udah, yuk kita masuk," ajak Sena.
Sena dan Vira kemudian berjalan bergandengan tangan memasuki area kampus tersebut.
"Kak, nanti pulang ke rumah ya," pinta Vira.
"Kakak belum bisa janji."
"Yah," keluh Vira kecewa. "Kasihan Azka, kak. Dia juga kangen banget sama kakak. Please ya kak, pulang ke rumah. Nggak pa-pa deh nggak nginep juga," mohon Vira lagi.
__ADS_1
"Iya deh, coba nanti kakak minta ijin dulu, ya," balas Sena pada akhirnya.
"Yes, akhirnya. Bener lho kak, ditunggu pokoknya," kata Vira menegaskan.
"Insya Allah, ya," balas Sena juga.
πΊπΊπΊ
"Assalamu'alaikum Bang," sapa Steven setelah membuka pintu ruangan Sean di SR Group.
"Wa'alaikumsalam. Eh, Ayah?" balas Sean terkejut melihat kedatangan Steven.
Sean bangkit dari duduknya kemudian berjalan menghampiri Steven lalu mencium punggung tangan kanan ayahnya itu.
"Kok tumben Yah dateng nggak ngabarin dulu. Ada masalah kah?" tanya Sean kemudian.
"Tau aja kamu, Bang."
"Nebak aja, soalnya Ayah nggak biasanya kayak gini. Mari Yah, duduk dulu."
Sean dan Steven kemudian duduk di sofa di dalam ruangan Sean tersebut.
"Ada apa, Yah?" tanya Sean setelah mereka berdua duduk.
"Ada apa sama Syafiq?" Steven justru balik bertanya kepada Sean.
Sesaat Sean sempat terkejut. Tetapi dengan cepat Sean segera menormalkan kembali ekspresi wajahnya. Namun sayangnya, Steven lebih dulu menangkap raut keterkejutan di wajah Sean tersebut.
"Emangnya kenapa dengan Syafiq, Yah? Kok Ayah tanya gitu ke Abang?" tanya balik Sean, berpura-pura tidak mengerti.
"Kamu nggak bisa bohongin Ayah, Bang. Kalau Abang nggak mau cerita ke Ayah, ya udah nggak pa-pa. Biar Ayah bawa langsung Bunda kamu untuk datengin apartemen Syafiq dan nyari tau apa yang sebenarnya sudah terjadi. Kamu tau sendiri kan gimana pekanya Bunda kamu itu kalau mengenai anak-anaknya?"
Sean terdiam. Kebimbangan benar-benar melanda hati Sean saat ini.
"Abang?"
"Syafiq udah nikah, Yah. Sama Sena," jawab Sean pada akhirnya.
Sean sadar betul kalau dia ataupun Syafiq tidak akan bisa menyembunyikan sesuatu terlalu lama dari mata jeli ayah mereka itu. Kejelian Ayah Steven sama sekali tidak bisa dianggap remeh. Itu kenapa Sean lebih memilih untuk mengatakan yang sebenarnya.
"Ah, ternyata. Pantes aja Bima kayak nyari alasan pas Ayah mintain tolong buat nyelidikin masalah ini. Ternyata karena itu adalah Sena, ya?" balas Steven, tidak tampak terkejut sama sekali.
"Ayah nggak kaget?" tanya Sean keheranan.
"Ayah udah tau lama masalah Syafiq yang selalu mengawasi dan melindungi Sena secara diam-diam. Nggak sulit untuk menebak kalau Syafiq udah jatuh cinta sama Sena. Cuma ya memang Ayah lebih milih diem. Soalnya menurut Ayah, apa yang dilakukan Syafiq itu nggak salah. Syafiq juga nggak pernah melebihi batas kan selama ini. Coba sekarang Abang ceritain ke Ayah, gimana ceritanya sampai mereka bisa nikah kayak gini?"
Sean kemudian menceritakan semua yang dia ketahui kepada Steven.
"Hmh, Ayah bener-bener nggak nyangka, dua anak laki-laki Ayah semuanya menikah secara mendadak dan dengan cara diam-diam seperti ini," kata Steven setelah Sean selesai bercerita.
"Maaf Yah," lirih Sean dengan menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
__ADS_1