Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Semakin Dekat


__ADS_3

'Sebaiknya kamu segera ceritakan yang sebenarnya ke Sena, Fiq. Mumpung belum terlanjur juga. Jangan sampai kalian keduluan karena terlena dan akhirnya semua akan terbongkar dengan sendirinya. Kekecewaan Sena bisa berkali-kali lipat nanti.'


Perkataan Sean beberapa hari yang lalu itu terus saja terngiang-ngiang di pikiran Syafiq. Jujur saja, Syafiq akui kalau perkataan kakak laki-lakinya itu memang benar. Tetapi Syafiq juga masih merasa ragu untuk mengatakan kejujuran ini kepada Sena. Selain belum belum menemukan waktu yang tepat, Syafiq juga sangat khawatir dengan reaksi dari Sena nantinya.


Tok. Tok. Tok.


Suara ketukan di pintu menyadarkan Syafiq dari lamunannya.


"Masuk!" perintah Syafiq.


Pintu ruangan Syafiq terbuka, menampakkan Ega dan juga Sena di belakangnya.


"Bos, Sena sudah disini," kata Ega yang masih berdiri di ambang pintu.


"Oke. Suruh masuk aja," balas Syafiq.


"Baik Bos. Silahkan masuk, Sen," jawab Ega sekaligus mempersilahkan Sena untuk masuk ke dalam ruangan Syafiq di perusahaan SA Group tersebut.


"Makasih ya, kak," kata Sena kepada Ega.


"Sama-sama," balas Ega.


Sena kemudian masuk ke dalam ruangan Syafiq tersebut. Ega pun juga kemudian pamit undur diri. Syafiq berdiri dari kursi kebesarannya dan berjalan menghampiri Sena. Syafiq kemudian mengajak Sena untuk duduk di sofa yang berada di ruangan tersebut.


Syafiq tersenyum melihat penampilan Sena hari ini. Sangat berbeda dengan penampilan Sena biasanya. Dengan mengenakan rok span hitam dan kaos turtleneck lengan panjang dengan warna dark brown, dan juga rambut yang digerai indah. Sena kelihatan sangat feminim saat ini. Membuat Syafiq terpukau dengan kecantikan istrinya itu.


Sena baru saja selesai melakukan pengajuan permohonan untuk magang di perusahaan Syafiq tersebut. Ya, Sena dan Naura rencananya akan melaksanakan magang di perusahaan RSA Group. Itu kenapa Sena berpenampilan semi formal seperti saat ini. Tadi setelah urusan dengan pihak personalia selesai, Syafiq meminta Sena untuk menemui dirinya di ruangannya. Karena itulah kenapa Sena berada disini saat ini.


Tiba-tiba saja tangan kanan Syafiq merangkul pinggang ramping Sena kemudian menariknya mendekat ke arah dirinya. Sena yang kaget pun seketika menoleh ke arah Syafiq. Keduanya pun saling bertatapan muka satu sama lain.



( udah mirip belum sih penggambarannya 😁,,, by the way, ada yang ingat nggak, itu cover pertama novel ini sebelum diganti dengan cover dari pihak noveltoon 🀭,,, biar ada kenang-kenangannya ya, makanya dimunculin lagi di bab ini 😊 )


***


"Kamu cantik banget sih, sayang," puji Syafiq lirih, tepat di depan wajah Sena.


Pipi Sena merona merah mendengar pujian dari suaminya itu. Dan tiba-tiba saja Syafiq mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Sena. Sedetik kemudian Sena merasakan hangat bibir Syafiq yang menempel pada bibirnya. Sena membulatkan kedua matanya karena terkejut. Tangan kiri Syafiq pun kemudian terangkat dan merangkum wajah cantik istrinya itu.


Beberapa detik bibir keduanya hanya saling menempel saja. Meresapi hangat dan lembutnya bibir satu sama lain. Sampai kemudian Syafiq mulai menggerakkan bibirnya perlahan dan memberikan l u m a t a n - l u m a t a n kecil pada bibir Sena. Sena yang pada akhirnya ikut terbuai dengan kelembutan ciuman Syafiq pun kemudian menutup kedua matanya, menikmati lembutnya perlakuan Syafiq yang memanjakan bibirnya.


Pertautan bibir keduanya terlepas setelah masing-masing merasakan sesak karena kehabisan pasokan oksigen. Dengan nafas yang tersengal-sengal Syafiq menyatukan keningnya dengan kening Sena. Tangan kirinya membelai lembut bibir mungil Sena yang baru saja dia cecap rasanya. Sangat manis. Dan sepertinya ini akan menjadi candu bagi Syafiq kedepannya.


"I love you, my wife," bisik Syafiq tepat di depan wajah Sena.

__ADS_1


Syafiq bisa merasakan tubuh Sena yang menegang karena terkejut. Mengulum senyum kecil, Syafiq justru kembali menyatukan bibir mereka berdua dan kembali memanjakan bibir Sena dengan l u m a t a n - l u m a t a n kecil yang penuh kelembutan. Keduanya memejamkan mata masing-masing, menikmati hangatnya rasa kasih sayang yang memenuhi seluruh jiwa mereka berdua.


🌺🌺🌺


Naura kembali menghembuskan nafasnya dengan kasar seraya melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah lebih dari satu jam dirinya menunggu namun ojek online pesanannya belum juga sampai. Cuaca siang ini yang begitu terik benar-benar menambah rasa kekesalan gadis cantik itu saat ini.


"Ini kenapa lama banget sih," keluh Naura kesal.


Tidak lama kemudian, tiba-tiba saja ada sebuah mobil yang berhenti tepat di depan Naura. Jendela kaca pintu depan mobil tersebut pun turun, dan ternyata itu adalah Rey.


"Naura," panggil Rey.


"Eh, Mas Rey," balas Naura sedikit kaget, tidak menyangka kalau dirinya akan bertemu dengan Rey disini.


"Lo ngapain disini?" tanya Rey.


"Lagi nungguin ojek online, Mas. Dari tadi nggak sampai-sampai," jawab Naura dengan sedikit menggerutu.


"Emang Lo habis darimana?" tanya Rey lagi.


"Tadi habis ngajuin permohonan magang sama Sena di perusahaan ini."


"Terus sekarang Sena-nya mana? Kok Lo sendirian aja?"


"Oh, gitu. Naik gih. Biar gue anterin Lo. Panas banget ini, nggak tega gue ngelihat Lo panas-panasan kayak gitu," kata Rey kemudian.


"Eh, nggak usah, Mas. Gue nggak mau ngerepotin Lo lagi. Lagian juga gue udah pesen ojek online kok," tolak Naura.


"Ck, ngomong apa sih Lo, Nau. Nggak ada ya kata-kata ngerepotin kayak gitu."


Naura tersenyum canggung, merasa tidak enak hati kepada Rey. Dan tiba-tiba saja ponsel Naura berdering. Setelah melihat siapa yang menelepon, Naura kemudian mengangkat panggilan telepon tersebut yang ternyata dari driver ojek online pesanannya.


"Iya, halo," sapa Naura.


"......."


"Astaghfirullah. Ya udah deh, Pak, nggak pa-pa kok. Biar saya cancel aja pesanannya. Bapak baik-baik aja dulu berobat ya. Semoga lekas sembuh. Iya Pak, beneran nggak pa-pa kok," kata Naura yang kemudian mengakhiri panggilan teleponnya.


"Kenapa Nau?" tanya Rey penasaran melihat wajah Naura yang lesu.


"Drivernya kecelakaan, Mas. Keserempet mobil katanya. Jadi ini orderannya suruh dicancel aja," jawab Naura kecewa.


"Ya udah sini naik. Daripada Lo panas-panasan kayak gitu. Lo batalin orderan sambil kita jalan aja," kata Rey.


Naura diam sejenak, nampak berpikir.

__ADS_1


"Buruan Nau, ngapain bengong sih?"


"Nggak enak gue, Mas, sama Lo."


"Santai aja kali, Nau. Udah, ayo buruan naik."


"Iya deh."


Akhirnya Naura pun mengikuti keinginan Rey dan naik ke mobil Rey.


"Sorry ya, Mas, ngerepotin lagi gue," kata Naura setelah Rey menjalankan mobilnya.


"Ck, apa sih, Nau. Gue sama sekali nggak ngerasa direpotin kok. Santai aja lagi, kayak sama siapa aja sih Lo," balas Rey.


"Iya deh, makasih kalau gitu."


"Eh, Lo udah makan siang belum Nau?" tanya Rey tiba-tiba.


"Hehe, belum sih, Mas," jawab Naura sedikit canggung.


"Kebetulan dong kalau gitu. Kita mampir makan dulu ya, gue juga udah laper banget nih," ajak Rey.


"Lah, makin ngerepotin dong gue, Mas"


"Ck. Nau," tegur Rey. "Gue nggak mau ya denger kata ngerepotin itu keluar lagi dari mulut Lo. Awas aja kalau sampai Lo ngomong kata itu lagi di depan gue, berarti Lo masih nganggep gue sebagai orang lain," ancam Rey kepada Naura.


"Iya deh, Mas. Sorry-sorry. Ihh, ternyata Lo kalau lagi mode galak nyeremin juga ya, Mas," kata Naura kemudian.


"Eh, iyakah? Makanya, Lo jangan buat gue marah kalau nggak pengen gue terkam," celetuk Rey bercanda.


"Hiiiii, takut, singanya ngamuk," balas Naura dengan berpura-pura ketakutan.


Keduanya kemudian tertawa bersama-sama karena kekonyolan mereka sendiri.


"Ternyata Lo orangnya asyik juga ya, Nau. Beruntung gue bisa kenal sama Lo," puji Rey.


"Apaan sih, Mas," ucap Naura canggung.


"Iiihhh, gemes banget sih, Nau, lihat wajah imut Lo ini," seru Rey dengan mencubit gemas pipi kanan Naura pelan.


Wajah Naura sampai merona merah mendapati perlakuan Rey yang begitu manis kepada dirinya. Naura jadi salah tingkah sendiri. Saat ini Naura merasakan getaran asing pada hatinya. Detak jantung Naura juga terasa lebih kencang daripada biasanya. Entah perasaan macam apa ini. Rey tersenyum manis seraya menoleh sesaat ke arah Naura.


'Ini yang bikin gue selalu kangen sama Lo, Nau.'


Melihat Naura yang salah tingkah dengan wajah merona seperti itu membuat hati Rey menghangat. Perasaan ini jauh berbeda dengan yang dulu pernah Rey rasakan kepada Sena. Entahlah, mungkin dulu Rey yang salah mengartikan perasaannya kepada Sena. Karena nyatanya setelah melihat Sena yang bahagia bersama dengan Syafiq, Rey pun bukannya merasa sakit hati tapi justru merasa ikut bahagia juga untuk kebahagiaan Sena.

__ADS_1


__ADS_2