
Setelah mengetahui bahwa Safa sedang hamil, layaknya suami-suami pada umumnya, Adrian pun menjadi over protektif terhadap Safa. Adrian tidak ingin sesuatu hal yang buruk sampai terjadi kepada istrinya itu dan juga calon buah hati mereka.
Sebenarnya Adrian sudah melarang Safa untuk datang ke toko lagi. Adrian tidak ingin istrinya itu kecapekan. Adrian bahkan berjanji akan mencarikan seorang manajer yang handal untuk menggantikan tugas Safa dalam mengurus semua masalah toko kue miliknya tersebut.
Tetapi Safa menolak dengan keras semua usulan dari Adrian itu. Safa bersikeras untuk tetap datang ke toko karena toko kue tersebut merupakan impian Safa sejak dulu. Dan Safa juga merintisnya dari nol, bersama dengan Lathifah dan juga Raindyta. Jadi Safa tidak bisa membiarkan toko kue miliknya itu begitu saja.
Tidak ingin berdebat dengan Safa, apalagi sampai membuat istrinya itu menjadi sedih, akhirnya Adrian pun mengijinkan Safa untuk tetap datang ke toko kue miliknya. Tetapi dengan syarat, Safa tidak boleh bekerja terlalu berat, apalagi sampai stress dan tertekan karena masalah toko.
Adrian bahkan sudah meminta secara langsung kepada Sena untuk mengambil alih semua urusan toko. Jadi Safa hanya perlu memberi persetujuan dan tinggal tanda tangan saja. Dan tentu saja Sena dengan senang hati menerima tanggung jawab tersebut.
Sena sangat setuju dengan pemikiran Adrian bahwa Safa tidak boleh bekerja terlalu berat apalagi sampai mengalami stress, karena hal itu pasti akan berpengaruh terhadap kondisi perkembangan janin di dalam perutnya.
Sekarang setiap hari tepat jam empat sore Adrian pasti akan datang menjemput Safa untuk pulang terlebih dahulu. Adrian ingin agar Safa memiliki lebih banyak waktu untuk beristirahat. Dan Sena pun juga sangat setuju dan mendukung apa yang dilakukan oleh Adrian tersebut.
"Assalamu'alaikum," sapa Adrian setelah membuka pintu ruangan Safa dan Sena.
"Wa'alaikumsalam," jawab Safa dan Sena bersamaan.
"Mas Rian," sambut Safa sumringah.
Adrian tersenyum lembut seraya berjalan menghampiri istrinya itu.
"Kita pulang sekarang yuk, sayang. Kamu kan harus lebih banyak istirahat," ajak Adrian kepada Safa.
__ADS_1
"Sebentar lagi ya, Mas. Berkas-berkas pengiriman bahan baku tadi siang masih belum selesai," tawar Safa.
"Sayang, kan Mas udah bilang kalau kamu nggak boleh kecapekan. Mas ngijinin kamu untuk tetep datang ke toko. Tapi kamu juga harus tetep banyak-banyak istirahat dan nggak boleh mikir terlalu berat. Ingat kandungan kamu, sayang," tegur Adrian mengingatkan.
Safa mengerucutkan bibirnya. Semua yang dikatakan oleh Adrian adalah benar. Tapi Safa juga merasa masih memiliki tanggung jawab yang belum dia selesaikan.
"Mas Rian bener, Sa. Udah kamu pulang aja nggak pa-pa kok. Biar masalah berkas-berkas pengiriman tadi siang kakak yang selesai-in, ya," kata Sena menengahi.
"Tapi kak ---"
"Udah tenang aja. Percaya sama kakak, kakak bisa kok nyelesai-in semuanya," potong Sena meyakinkan Safa.
"Nah, itu Sena udah bersedia nyelesai-in semua kerjaan kamu, sayang. Jadi kita pulang sekarang, ya. Biar kamu bisa lebih banyak beristirahat," kata Adrian lagi.
"Hmh, iya deh," balas Safa pada akhirnya. "Kalau gitu Safa pulang duluan ya, kak. Maaf jadi ngerepotin kak Sena," lanjut Safa.
"Kita pulang duluan ya, Sen," pamit Adrian juga
"Iya, Mas. Hati-hati kalian berdua."
"Oke. Assalamu'alaikum," salam Safa dan Adrian.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sena.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Jam tujuh malam, Syafiq yang baru saja selesai melakukan meeting dengan klien, sengaja datang ke toko untuk menjemput Sena. Tadi Sena mengirimkan pesan kepada Syafiq kalau dia masih harus menyelesaikan beberapa pekerjaan dan ijin untuk lembur sebentar.
"Assalamu'alaikum," salam Syafiq seraya masuk ke dalam ruangan Sena.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sena. "Loh, kak Syafiq," kaget Sena setelah mengangkat wajahnya dan melihat Syafiq sedang berjalan menghampiri dirinya.
"Kenapa pintunya nggak ditutup, sayang?" tanya Syafiq setelah berdiri di sebelah kursi Sena.
"Sengaja tadi, kak. Biar penjaga tau kalau Sena masih ada disini. Takutnya Sena dikunci-in dari luar, hehe," kelakar Sena.
"Kamu ini ada-ada aja sih, sayang."
Syafiq mengusap lembut kepala Sena seraya ikut tersenyum mendengar kelakar istrinya itu.
"Ini udah malem loh, sayang. Dikerjain besok lagi aja, ya."
"Nanggung kak. Tinggal dikit lagi kok. Sebentar lagi ya, sepuluh menit aja," kata Sena menawar.
"Ya udah. Yuk kakak bantuin,biar lebih cepat selesainya."
Sena tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Syafiq menarik kursi milik Safa. Mendudukkan dirinya di sebelah Sena, Syafiq kemudian mulai membatu Sena menyelesaikan pekerjaannya.
__ADS_1
Syafiq tau benar, Sena sengaja bekerja sedikit lebih keras untuk mengalihkan pikirannya sendiri dari masalah kehamilan. Tetapi untuk sementara ini Syafiq masih membiarkannya. Asalkan Sena tidak melebihi batas kemampuannya.
Sementara Sena merasa sangat bersyukur di dalam hatinya, karena Syafiq selalu bisa mengerti dan memahami dirinya. Syafiq tidak pernah melarang Sena, selama Sena masih mampu melakukannya. Justru Syafiq selalu menemani dan membantunya, seperti saat ini. Dan hal itu benar-benar membuat Sena merasa lebih baik.