Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Kenyataan Yang Mengejutkan


__ADS_3

Adrian mengemudikan mobilnya secepat yang dia bisa agar mereka bisa segera sampai di rumah Bima. Syafiq yang duduk di sebelahnya sudah benar-benar gelisah dan khawatir saat ini. Syafiq sangat mencemaskan keadaan Sena sekarang. Dan hal itu sangat dimaklumi oleh Steven, Sean, dan juga Adrian.


Begitu memasuki area komplek perumahan Bima, suasana sudah cukup ramai. Jalanan juga sudah penuh dengan orang-orang yang antusias, entah itu untuk membantu atau hanya untuk sekedar melihat kebakaran yang sedang terjadi saat ini. Mobil yang ditumpangi oleh Adrian, Syafiq, Steven, dan Sean pun terhalang kemacetan yang tiba-tiba terjadi itu.


"Sial," umpat Syafiq emosi.


Karena tidak sabar menunggu kemacetan terurai, Syafiq pun lalu membuka pintu mobil dan bergegas untuk turun.


"Fiq," panggil Adrian dan Sean bersamaan.


"Gue nggak bisa nunggu lagi," jawab Syafiq yang kemudian berlari membelah kerumunan orang di depannya.


Syafiq berusaha secepat mungkin untuk sampai ke rumah Bima. Kerumunan tersebut benar-benar menyulitkan langkah Syafiq, tetapi Syafiq tidak menghiraukannya sama sekali. Api besar yang menyala-nyala itu sudah bisa terlihat dari kejauhan. Syafiq pun semakin mempercepat larinya.


Dan begitu memasuki halaman rumah Bima, Syafiq bisa melihat Vira, Bella, dan Bik Prapti yang berteriak panik meneriaki Sena dan Azka. Syafiq mengangkat pandangannya, dan saat itulah Syafiq melihat Sena dan Azka yang melompat dari balkon lantai dua.


"SENA!!!" teriak Syafiq sekuatnya.


Bruk.


Jantung Syafiq seakan tercabut dari dadanya melihat Sena melompat dari balkon. Dada Syafiq rasanya sesak, nafasnya tercekat, dan air mata juga mulai menggenang di kedua matanya. Secepat kilat Syafiq berlari menghampiri Sena dan Azka yang sudah tergeletak di tanah. Direngkuhnya tubuh wanita yang dicintainya itu.


"Sena kamu nggak pa-pa kan?" tanya Syafiq nampak sangat khawatir dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"K-kak... Sya-" sekuat tenaga Sena berusaha untuk berbicara, namun kesadaran Sena sudah terlebih dahulu hilang.


"Sena! Sena bangun Sena! Sena!" teriak Syafiq dengan mengguncangkan bahu Sena beberapa kali.


"Kita bawa Sena dan Azka ke rumah sakit sekarang, Fiq," kata Sean yang ternyata sudah berada di belakang Syafiq.


Syafiq sampai tidak menyadari suasana di sekelilingnya saat ini.


"Iya, Bang," balas Syafiq cepat.


Syafiq kemudian membopong Sena, sementara Azka diangkat oleh dua orang warga. Keduanya kemudian segera dilarikan ke rumah sakit.


🌺🌺🌺


Saat ini Syafiq sedang duduk di sebelah hospital bed Sena. Syafiq terus saja menggenggam tangan kiri Sena, yang terbebas dari jarum infus. Sesekali Syafiq juga menciumi tangan Sena tersebut. Pikiran Syafiq seakan kosong, melihat istrinya terbaring tidak sadarkan diri seperti itu.


Syukurlah, dokter tadi mengatakan bahwa kondisi Sena dan Azka tidak terlalu parah. Mereka hanya terlalu banyak menghirup asap. Sena dan Azka ditempatkan di satu ruangan yang sama untuk mempermudah pengawasan terhadap kesehatan mereka.


"Kakak jangan khawatir, kak Sena pasti baik-baik saja," hibur Vira yang berdiri di sebelah Syafiq.

__ADS_1


"Kakak tau itu. Kakak kamu gadis yang kuat. Dia pasti akan baik-baik saja," balas Syafiq, menguatkan dirinya sendiri, tanpa mengalihkan pandangannya dari Sena yang masih juga belum sadarkan diri sampai sekarang.


Bella, yang saat ini sedang duduk di sebelah hospital bed Azka, merasa sangat bingung ketika melihat interaksi di antara Vira dan juga Syafiq tersebut.


'Kenapa Vira nggak marah melihat Syafiq seperduli itu sama Sena? Dia justru malah menghibur Syafiq kayak gitu. Apakah ada sesuatu yang sudah aku lewatkan?'


Tidak lama kemudian, Bima masuk ke dalam ruang rawat inap tersebut dengan terburu-buru.


"Papa," seru Bella, Vira, dan Syafiq bersamaan.


Vira yang kaget mendengar Syafiq memanggil 'Papa' kepada Bima pun mengalihkan pandangannya ke arah Syafiq. Sementara Bella sudah berlari dan menghambur memeluk suaminya itu seraya menangis.


"Sena dan Azka, Pa," keluh Bella di sela isak tangisnya.


"Mama tenang aja. Sena dan Azka pasti baik-baik saja. Dokter juga udah bilang gitu kan tadi," kata Bima mencoba menenangkan istrinya itu seraya mengusap-usap lembut punggung Bella.


Setelah Bella sedikit tenang, Bima kemudian melerai pelukan mereka. Bima lalu berjalan menghampiri Syafiq yang saat ini sudah berdiri menunggu dirinya.


"Maafkan Syafiq, Pa. Syafiq nggak bisa jagain Sena dengan baik," sesal Syafiq dengan wajah tertunduk.


Bella dan Vira sama-sama terkejut mendengar perkataan Syafiq barusan.


"Bukan salah kamu. Ini semua musibah. Papa tau kamu udah berusaha jagain istri kamu dengan baik," kata Bima seraya memegang pundak kanan Syafiq.


Keempat wanita itu benar-benar terkejut mendengar kata istri yang diucapkan oleh Bima tadi. Sementara Steven, Sean, Sonia, dan Adrian nampak sudah tidak terkejut lagi karena sudah mengetahui hal itu sebelumnya.


"Ya. Sena adalah istri Syafiq. Mereka berdua menikah dua hari yang lalu. Tepat setelah insiden jebakan obat perangsang itu," kata Bima menjelaskan.


Sheila, Safa, dan Vira sampai menutup mulut dengan kedua tangannya karena terkejut. Sementara Bella menundukkan kepalanya, merasa bersalah. Insiden jebakan obat perangsang itu adalah ide dari Cinthya. Dan bodohnya Bella yang saat itu mau mengikuti semua perkataan Cinthya untuk menyakiti Sena, putrinya yang sebenarnya tidak bersalah itu.


"Alhamdulillaah... Selamat ya kak untuk pernikahan kalian. Akhirnya penantian kalian berdua berakhir juga," seru bahagia Vira seraya menggenggam tangan kanan Syafiq dengan kedua tangannya.


Seketika Bella langsung mengangkat wajahnya mendengar perkataan Vira tadi. Bella benar-benar terkejut melihat reaksi Vira yang justru terlihat sangat bahagia itu.


"Vira, kamu? Bukannya Syafiq itu pacar kamu? Tapi kenapa kamu-" Bella tidak melanjutkan perkataannya.


Vira tertegun sejenak. Tapi kemudian tepukan Bima di pundaknya segera mengembalikan kesadarannya. Vira menoleh ke arah papanya itu. Dan setelah melihat Bima menganggukkan kepalanya seraya tersenyum lembut, Vira pun akhirnya memberanikan diri untuk bisa mengatakan yang sebenarnya. Vira kemudian menghampiri Bella.


"Maafin Vira ya, Ma. Sebenarnya kak Syafiq bukan pacar Vira. Pacar Vira itu kak Lucky," kata Vira hati-hati.


"Apa? Jadi selama ini-" kaget Bella.


"Iya Ma. Kak Syafiq cuma bantuin Vira sama kak Lucky aja. Soalnya kan selama ini Mama selalu ngelarang kalau Vira mau jalan sama kak Lucky," aku Vira jujur.

__ADS_1


"Tapi Lucky kan sering main perempuan, Vir. Itu kenapa Mama ngelarang kamu berhubungan sama dia. Mama nggak mau kamu terluka dan kecewa," kata Bella menjelaskan alasannya.


"Itu semua nggak bener, Ma. Kak Lucky nggak seperti itu. Mama bisa tanya sama kak Syafiq, sama Bang Sean, atau sama Mas Rian, biar Mama bisa percaya," sanggah Vira.


"Tapi foto-foto yang Mama dapat itu? Itu semua adalah bukti yang nyata Vir," kekeuh Bella.


"Itu semua cuma editan, Ma. Foto-foto yang Mama terima, itu semua palsu. Dan selama ini kami masih berusaha untuk menemukan orang di balik semua ini. Itu juga alasannya kenapa Vira dan Lucky milih backstreet," jelas Syafiq juga.


"Dan ternyata orang di balik semua foto-foto palsu itu adalah orang yang sama yang sudah menghasut Mama selama ini. Dan orang itu juga yang sudah menyebabkan terjadinya musibah kebakaran di rumah kita," geram Bima.


Bella menutup mulut dengan kedua tangannya karena saking terkejutnya.


"Apa, Pa?" geram Syafiq emosi dengan mengepalkan kedua tangannya erat.


"Ya. Papa sudah menyelidiki semuanya ini. Dan itulah hasil yang Papa dapat," jawab Bima.


Sean dan Adrian berjalan menghampiri Syafiq.


"Tahan emosi kamu. Saat ini istrimu lebih membutuhkan dirimu di sisinya," nasehat Sean seraya memegang pundak adiknya yang nampak dikuasai oleh emosi itu.


"Serahkan masalah ini sama kita, Fiq. Kita yang akan ngurus semuanya. Lo fokus aja dulu ke istri Lo," kata Adrian juga.


Syafiq menghembuskan nafasnya, mencoba meredam emosinya sendiri.


"Thanks ya Bang, Mas. Gue serahin masalah ini ke kalian," kata Syafiq pada akhirnya.


"Pasti. Lo tenang aja," balas Adrian.


"Kakak," panggil Sheila yang ternyata sudah berdiri di dekat mereka bertiga.


Syafiq mengalihkan pandangannya ke arah wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


"Maafin kakak, Bun. Kakak nggak bermaksud menyembunyikan semuanya ini dari Bunda," sesal Syafiq dengan menundukkan kepalanya.


Sheila mengesah pelan. Sheila kemudian menarik putra keduanya itu ke dalam pelukannya.


"Maafin kakak, Bun. Maafin kakak," pinta Syafiq dengan setetes air mata yang mengalir di pipinya, merasa sangat bersalah kepada ibunya itu.


Sheila sendiri tidak mampu untuk membalas perkataan Syafiq. Rasanya dada Sheila sesak mengetahui kenyataan yang mengejutkan ini. Sheila hanya bisa mengusap lembut punggung putranya itu.


'Yaa Allah, kenapa dua anak laki-laki hamba harus menikah dengan cara yang seperti ini.'


Sheila diam-diam menghapus air mata yang menetes di pipinya. Tidak ingin orang lain mengetahui kalau dirinya menangis. Tapi tetap saja, Steven tau akan hal itu. Jangan lupakan kejelian Steven yang melebihi kebanyakan orang pada umumnya. Apalagi jika menyangkut orang-orang yang dia sayangi. Kejelian Steven bisa meningkat berkali-kali lipat.

__ADS_1


__ADS_2