Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Butuh Waktu


__ADS_3

Saat ini Sena, Naura, dan Rey sudah duduk di sofa ruang tamu di rumah Sean. Mereka bertiga sedang menunggu Mbak Sumi yang sedang memberitahu tentang kedatangan mereka kepada Sean dan Sonia. Tidak lama kemudian Mbak Sumi kembali seraya membawa tiga cangkir teh dan camilan untuk mereka.


"Silahkan diminum dulu Non, Den. Sebentar lagi Den Sean dan Non Sheila akan turun," kata Mbak Sumi setelah menghidangkan teh dan camilan di atas meja.


"Iya Mbak, terima kasih," balas Sena, Naura, dan Rey.


"Loh, Sena?" kaget Suci setelah mengetahui kedatangan Sena dan yang lainnya.


"Ibu, assalamu'alaikum," sapa Sena yang langsung bangun dan mencium punggung tangan kanan Suci.


"Wa'alaikumsalam, nak," balas Suci.


Naura dan Rey pun juga ikut bangun dan mencium punggung tangan kanan Suci seperti yang dilakukan Sena.


"Tumben kamu dateng pagi-pagi? Loh, Syafiq mana? Dia nggak ikut ya?" tanya Suci.


"Eh, e-enggak Bu. Sena ada keperluan sama Bang Sean sama Mbak Sonia aja," jawab Sena sedikit gugup seraya menahan rasa sesak di dadanya mendengar nama suaminya itu disebut.


"Oh, gitu ya."


Tidak lama kemudian Sean dan Sonia pun terlihat menuruni anak tangga lalu menghampiri mereka semua.


"Sena," panggil Sonia.


Sena tidak mampu lagi menahan rasa sesaknya. Sena langsung menghambur memeluk Sonia dan menangis di pelukan kakak iparnya itu.


"Sena, ada apa?" tanya Sonia bingung seraya membalas pelukan Sena.


Sean merasa ada sesuatu yang tidak beres sudah terjadi.


"Bawa Sena ke ruang kerja Mas, sayang. Nanti Mas nyusul," kata Sean kepada Sonia.


"Baik, Mas," balas Sonia.


Sonia dan Suci kemudian memapah Sena dan membawanya naik menuju ke ruang kerja Sean.


"Duduk Rey, Nau," kata Sean mempersilahkan kedua tamunya yang nampak ikut bingung melihat semua yang baru saja terjadi itu.


"Eh, baik Bos, makasih," balas Rey.


"Makasih, kak," balas Naura juga.


Rey dan Naura kemudian kembali mendudukkan dirinya di sofa. Sean pun lalu ikut duduk di sofa tunggal disana.


"Apa yang sebenarnya sudah terjadi? Bisa kalian ceritakan kepada saya?" tanya Sean.


"Kami juga tidak tau apa yang sebenarnya sudah terjadi, Bos. Tadi kami bertemu dengan Sena di taman. Lalu Sena meminta kami untuk mengantarkan dia kesini," jawab Rey.

__ADS_1


"Iya kak. Sena melarang kami untuk bertanya. Bahkan tadi selama dalam perjalanan kesini pun, Sena juga terus melamun dan tidak bicara apa-apa," lanjut Naura.


"Oh, begitu ya. Ya sudah, kalian berdua tunggu disini dulu ya. Saya naik dulu sebentar," kata Sean sekaligus pamit.


"Baik Bos."


"Iya kak."


Jawab Rey dan Naura bersamaan.


"Oh iya, silahkan diminum tehnya dan dinikmati camilannya, ya," kata Sean lagi sebelum pergi.


Rey dan Naura pun mengiyakan sekaligus mengucapkan terima kasih. Sean tersenyum kemudian meninggalkan Rey dan Naura untuk naik ke lantai atas.


🌺🌺🌺


"Diminum dulu, Sen," kata Suci seraya menyodorkan segelas air putih kepada Sena yang masih juga menangis di pelukan Sonia.


Dengan dibantu Suci, Sena meminum sedikit air putih dari gelas tersebut. Suci kemudian ikut mendudukkan dirinya di sebelah Sena. Ketiganya duduk di sofa yang ada di dalam ruang kerja Sean tersebut.


"Kamu kenapa, Sen? Ada masalah apa? Kenapa kamu nangis kayak gini?" tanya Sonia lembut.


Sena nampak masih enggan untuk bercerita. Tentu saja, Sena tidak enak hati kepada Suci. Selain itu Sena juga masih menunggu Sean. Tidak lama kemudian Sean pun masuk ke dalam ruangan tersebut. Sean melihat ke arah Suci kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Suci paham apa yang Sean maksudkan.


"Ya udah, kalau gitu ibu keluar dulu, ya," pamit Suci seraya berdiri dari duduknya.


Setelah Suci keluar dari ruangan tersebut, Sean pun kemudian mendudukkan dirinya di sebelah Sena, di tempat ibu mertuanya tadi duduk.


"Kenapa? Kamu sudah tau yang sebenarnya?" tanya Sean to the point.


"Abang juga tau kalau kak Syafiq bohongin Sena?" tanya Sena balik seraya menegakkan tubuhnya, bangun dari pelukan Sonia.


"Iya, Abang sudah tau sebelum kita berangkat ke KUA hari itu," jawab Sean.


"Mbak?" tanya Sena yang beralih menatap ke arah Sonia.


"Mbak tau, tapi baru beberapa hari ini. Dulu Mas Sean cuma bilang kalau itu semua demi kebaikan kamu. Dan ya, Mbak percaya sama Mas Sean," jawab Sonia.


"Kenapa semuanya merahasiakan hal sebesar ini dari aku?" tanya Sena yang kembali menangis seraya menyembunyikan wajahnya pada kedua telapak tangannya.


Sonia kemudian menarik Sena ke dalam pelukannya lagi dan membelai lembut kepala Sena.


"Waktu itu Abang dan Papa kamu setuju sama pemikiran Syafiq. Untuk sementara waktu, kamu lebih aman kalau keluar dari rumah dulu. Karena Rudi dan Cinthya pasti masih mencari kamu untuk melancarkan niat buruknya lagi. Dan kami juga yakin kalau Syafiq bisa melindungi kamu dengan baik," kata Sean.


"Tapi kenapa harus dengan membohongi aku, dan memaksa aku untuk menikah dengan kak Syafiq?" tanya Sena lagi di sela-sela isak tangisnya.


"Kalau untuk masalah itu, Syafiq langsung yang minta kamu ke Papa kamu. Syafiq yang secara pribadi langsung ngelamar kamu ke Om Bima karena dia bilang dia sayang sama kamu dan pengen bisa selalu melindungi kamu. Dan juga, Papa kamu emang udah tau juga kalau dari dulu Syafiq selalu diam-diam mengawasi dan membantu kamu. Jadi ya, setelah mempertimbangkan semuanya, akhirnya Papa kamu menyetujui ide Syafiq dan merestui Syafiq untuk menikah dengan kamu," jawab Sean panjang lebar.

__ADS_1


"Lalu masalah Vira?" tanya Sena lagi.


"Kami juga sudah tau kalau Syafiq tidak ada hubungan apa-apa dengan Vira. Bukan Syafiq pacarnya Vira, tetapi Lucky," jawab Sean juga.


"Oh, astaga," lirih Sena. "Jadi cuma aku yang nggak tau apa-apa?"


"Jangan bicara seperti itu, Sen. Kami semua melakukan ini demi kebaikan kamu juga," kata Sean.


"Tapi kenapa harus dengan berbohong seperti ini, Bang?" tanya Sena tidak habis pikir.


"Kami minta maaf untuk yang satu itu, kami akui kami salah. Tapi seandainya kami mengatakan yang sebenarnya, apa kamu mau dengan sukarela pergi dari rumah? Apa kamu mau menikah dengan Syafiq, sementara setahu kamu, Syafiq adalah pacarnya Vira?"


Sena terdiam mendengar semua perkataan Sean. Tangisannya juga sudah mulai mereda sejak beberapa saat yang lalu.


"Sena, pasti ada hikmah di balik setiap kejadian. Ambil sisi positifnya saja. Bukankah kamu jadi bisa menikah dengan laki-laki yang kamu sukai sejak kecil? Begitu juga dengan kak Syafiq, dia bisa menikahi gadis yang dia suka sekaligus bisa melindungi gadis tersebut, yaitu kamu. Terlepas dari adanya kebohongan ini atau tidak, anggap saja itu sudah menjadi garis takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT untuk kalian jalani," nasehat Sonia.


Hening. Sena, Sonia, dan Sean sama-sama terdiam. Hingga beberapa saat kemudian,


"Aku masih butuh waktu, Bang, Mbak. Aku perlu menenangkan diriku sendiri terlebih dahulu untuk bisa menerima semuanya ini," kata Sena pada akhirnya.


"Abang ngerti. Jadi sekarang kamu mau gimana?" tanya Sean.


"Tolong sembunyiin Sena dulu untuk sementara waktu ini, Bang. Sungguh, aku belum siap untuk ketemu kak Syafiq dulu saat ini. Tolong biarkan aku menyembuhkan rasa kecewaku ini terlebih dahulu," pinta Sena.


Sean dan Sonia saling berpandangan. Sean kemudian menganggukkan kepalanya pelan kepada Sonia.


"Oke. Abang akan kirim kamu ke kota S. Ke rumah almarhumah nenek Sonia dulu. Syafiq tidak akan bisa menemukan kamu, dia tidak tau tempat itu," putus Sean.


"Iya Bang," balas Sena dengan menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Kamu nggak bawa HP kamu kan?"


"Enggak Bang. Jam sama kalungnya juga aku tinggal," jawab Sena.


"Baguslah. Dengan begitu nggak ada yang bisa melacak keberadaan kamu. Tapi Abang akan nyuruh Rey dan Naura untuk ikut dan menemani kamu disana."


"Nggak perlu Bang. Aku bisa sendiri," tolak Sena merasa tidak perlu.


"No. Tanpa membawa mereka berdua, Abang nggak ngijinin kamu pergi," tegas Sean.


"Ya udah kalau gitu, aku ikutin apa kata Abang aja," balas Sena pada akhirnya.


"Semoga suasana pedesaan disana bisa segera mengobati rasa kecewa kamu ya, Dek. Jangan terlalu larut dengan rasa sedih dan kecewa kamu. Ingat, disini ada suami dan keluarga kamu yang lainnya, yang pasti akan sangat kebingungan mencari kamu dan menunggu kamu kembali," kata Sonia.


"Iya Mbak," lirih Sena.


'Maaf kak, tapi aku butuh waktu untuk bisa menerima semuanya ini. Maafkan aku karena memilih untuk pergi terlebih dahulu. Aku ingin menenangkan diriku dulu untuk saat ini. Tolong maafkan istrimu ini, kak,' lirih batin Sena.

__ADS_1


__ADS_2