
Dengan memakai pakaian steril khusus berwarna hijau, masker, dan juga topi bedah, Sena kemudian diantar oleh seorang perawat untuk masuk ke dalam ruang ICU. Sena melangkah memasuki ruangan ICU tersebut dengan tubuh yang masih sedikit bergetar karena tangisnya. Perlahan Sena mulai mendekat ke arah bed hospital dimana Syafiq sedang terbaring, kemudian duduk di kursi di sebelahnya. Sena mengangkat tangan kanan Syafiq yang terbebas dari jarum infus kemudian menciumnya dengan takdzim.
Cup.
Cukup lama Sena mencium tangan kanan suaminya itu, mengobati kerinduannya selama lebih dari sepuluh hari ini. Setelah puas mencium tangan kanan suaminya yang sangat dia rindukan itu, Sena kemudian merangkumkan tangan tersebut ke pipinya sendiri.
"Aku datang, kak. Aku sudah kembali. Tolong maafkan aku yang udah pergi ninggalin kakak. Maafkan aku karena merasa kecewa dan butuh waktu untuk menenangkan diri, untuk menyembuhkan rasa kecewaku," lirih Sena dengan berlinang air mata, mengajak bicara Syafiq.
Seperti yang sudah disarankan oleh dokter sebelum Sena masuk ke dalam ruang ICU tadi, Sena dianjurkan untuk sering-sering mengajak bicara Syafiq agar Syafiq bisa memiliki keinginan yang kuat untuk segera sadar kembali.
Sena mencium telapak tangan kanan Syafiq sekali lagi kemudian kembali merangkumkannya ke pipinya seperti tadi. Air mata itu masih terus turun membasahi wajah cantik Sena. Bahkan juga sudah membasahi tangan kanan Syafiq yang berada di pipi Sena.
"Aku mohon bangunlah, kak. Berikan kesempatan untuk istrimu yang sudah bersalah ini untuk memperbaiki kesalahannya. Hukum aku, kak. Tolong bangun dan hukum aku, hiks hiks."
Sena justru semakin terisak dalam tangisannya, merasa sangat bersalah dan menyesal.
"Aku sangat merindukan kakak. Tidakkah kakak juga rindu padaku? Bangun kak. Tolong bangunlah. Aku janji akan menuruti apapun permintaan kakak asalkan kakak segera bangun."
"Tolong maafkan semua kesalahanku, kak. Tolong bangunlah. Aku sangat merindukan kakak."
Sena masih terus terisak di sebelah Syafiq sambil sesekali mengajak bicara suaminya itu. Mengungkapkan permintaan maafnya dan juga rasa rindunya. Sekaligus meminta agar suaminya itu segera bangun.
Sekitar setengah jam kemudian. Tanpa Sena sadari, perlahan-lahan Syafiq mulai menggerakkan jari-jari tangan kirinya yang tertancap jarum infus itu. Ternyata Syafiq sudah mulai sadar. Dan ketika Sena menyadari bahwa jari-jari tangan Syafiq yang berada di pipinya juga mulai bergerak, Sena pun terperanjat.
"Kak Syafiq. Kakak sudah sadar?" tanya Sena antara kaget dan senang.
Sena melihat Syafiq yang perlahan-lahan mulai membuka kedua matanya. Segera Sena bangun dari duduknya dan memencet tombol di samping tempat tidur Syafiq untuk memanggil dokter dan perawat.
"Kak Syafiq," panggil Sena seraya membelai lembut kepala suaminya itu.
Tidak lama kemudian dokter dan perawat pun datang. Sena menyingkir sejenak, memberikan ruang kepada dokter dan perawat untuk memeriksa kondisi kesehatan Syafiq saat ini. Beberapa saat kemudian,
"Syukurlah, kondisi pasien sudah berangsur-angsur membaik. Kita observasi dulu selama dua jam kedepan, kalau kondisi pasien sudah semakin stabil maka pasien bisa dipindahkan ke kamar rawat inap VIP sesuai permintaan pihak keluarga," kata dokter yang baru saja selesai memeriksa kondisi Syafiq, menginformasikan kepada Sena.
"Alhamdulillaah, syukurlah kalau begitu. Terima kasih banyak ya, Dok," balas Sena sumringah.
"Sama-sama Bu. Saya permisi dulu kalau begitu. Suster Raya yang akan menemani ibu disini sekaligus memantau kondisi pasien selama dua jam kedepan," kata dokter lagi memberitahu.
"Baik Dok. Sekali lagi terima kasih ya, Dok," ucap terima kasih Sena sekali lagi.
"Sama-sama, Bu," balas dokter seraya tersenyum.
Dokter itupun kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut. Sena kemudian kembali duduk di kursi di sebelah bed hospital Syafiq dan kembali menggenggam tangan kanan suaminya itu.
__ADS_1
"Kak," panggil Sena.
"Sena?" lirih Syafiq. "Ini beneran kamu kan?" tanya Syafiq dengan suara lemahnya.
"Iya kak, ini aku. Aku sudah kembali," jawab Sena dengan tersenyum.
Sena kemudian bangun dari duduknya, mencondongkan tubuhnya kemudian mencium kening Syafiq dalam. Keduanya sama-sama memejamkan mata, meresapi rasa rindu dan juga sayang mereka untuk satu sama lain.
"Aku sangat merindukan kakak," lirih Sena di depan wajah Syafiq.
"Kakak juga sangat merindukan kamu," balas Syafiq.
"Tolong maafkan aku karena sudah memilih untuk pergi, kak," sesal Sena dengan mata yang kembali berkaca-kaca.
"Kamu nggak salah, sayang. Kakak yang salah karena sudah membohongi kamu," balas Syafiq.
"Enggak. Kakak juga nggak salah. Aku tau kakak ngelakuin semua itu demi kebaikan aku juga," kata Sena. "Ya udah, sekarang kakak istirahat lagi ya. Biar kakak cepet pulih," lanjut Sena.
"Kamu nggak akan pergi lagi kan?" tanya Syafiq khawatir.
Sena tersenyum sebelum menjawab.
"Aku nggak akan pergi, kak. Aku janji akan tetap disini nemenin kakak," janji Sena.
"Kakak istirahat lagi, ya."
Menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, Syafiq kemudian kembali memejamkan kedua matanya. Sena pun kemudian kembali mendudukkan dirinya di kursi di sebelah bed hospital Syafiq. Sena juga kembali menggenggam tangan kanan Syafiq kemudian mengelus-elusnya, memberikan perasaan nyaman kepada Syafiq.
Suster Raya mengulum senyum kecil melihat dan mendengar interaksi pasangan di sebelahnya itu.
"Ibu istrinya pasien, ya?" tanya suster Raya.
"Iya, sus. Saya istrinya," jawab Sena dengan tersenyum lembut.
"Suami ibu sayang banget ya Bu sama ibu, begitu ibu datang suami ibu juga langsung sadar. Padahal sejak dibawa kesini tadi siang kondisi suami ibu cukup mengkhawatirkan loh, Bu," kata suster Raya memberitahu.
Sena hanya membalas perkataan suster Raya dengan senyuman manisnya.
πΊπΊπΊ
Setelah melewati dua jam masa observasi, akhirnya kondisi Syafiq dinyatakan sudah membaik oleh dokter. Saat ini Syafiq juga sudah dipindahkan ke kamar rawat inap VIP. Dan sesuai janjinya tadi, Sena juga terus menemani Syafiq. Sena bahkan juga terus menerus menggenggam tangan kanan Syafiq sejak tadi.
"Syukurlah kakak udah baik-baik aja," kata Sheila.
__ADS_1
"Iya Bun. Maaf ya udah ngerepotin semuanya," balas Syafiq.
"Jangan bicara seperti itu, Fiq. Kita semua nggak ada yang merasa direpotkan kok," kata Bella.
"Makasih, Ma," balas Syafiq juga.
"Syafiq, Sena, jadikan ini pelajaran untuk kalian berdua. Kedepannya kalau ada masalah, apapun itu, bicarakan baik-baik di antara kalian berdua. Jangan ada kebohongan lagi. Seburuk apapun, sepahit apapun, bicarakan. Bukankah lebih baik kalau mendengar dari pasangan sendiri daripada mengetahuinya dari orang lain? Jadi bicarakan baik-baik dengan kepala dingin. Ingatlah, komunikasi dan saling percaya adalah kunci langgengnya sebuah rumah tangga, ingat itu baik-baik," nasehat Steven kepada Syafiq dan Sena.
"Baik, Yah," balas Syafiq dan Sena bersamaan.
"Kamu juga Sena, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri. Jangan bersikap kekanakan lagi. Berpikir matang-matang sebelum mengambil suatu tindakan. Kamu harus bisa menjadi lebih dewasa sekarang. Jangan mendahulukan ego, pikirkan dengan matang perbuatan kamu, demi kebaikan bersama," nasehat Bima kepada Sena.
Sena menundukkan kepalanya, benar-benar merasa bersalah dan menyesal atas semua yang sudah dia lakukan kemarin.
"Iya, Pa," balas Sena lirih.
Syafiq mengeratkan genggaman tangannya pada Sena yang berada di sampingnya, menyalurkan dukungan kepada istrinya itu.
"Sudah-sudah. Tidak perlu dibahas lagi. Yang lalu biarlah berlalu. Yang penting sekarang Sena sudah kembali, kakak juga sudah baik-baik saja, tinggal memulihkan kondisi tubuh. Jadikan ini pelajaran untuk kalian berdua agar kedepannya kalian berdua bisa lebih baik lagi dalam mengarungi bahtera rumah tangga kalian, ya," nasehat Sheila juga.
"Iya, Bun," balas Syafiq dan Sena.
"Sudah hampir tengah malam, kami semua pulang dulu, ya. Kalian berdua kan juga butuh istirahat," kata Steven setelah melihat ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.
"Kalian beneran nggak pa-pa kalau kami tinggal semua?" tanya Bella memastikan.
"Nggak pa-pa kok, Ma. Mama, Papa, Bunda, sama Ayah pulang aja dulu. Kalian kan juga butuh istirahat," jawab Syafiq.
Bima memegang pundak Bella kemudian menganggukkan kepalanya pelan setelah istrinya itu menoleh ke arahnya.
"Ya sudah kalau begitu. Mama sama Papa pulang dulu, ya," pamit Bella.
"Iya, Ma," balas Sena.
"Bunda sama Ayah juga pulang, ya. Besok kita kesini lagi." pamit Sheila juga.
"Oke, Bun," balas Syafiq.
Sena dan Syafiq kemudian mencium punggung tangan kanan keempat orang tuanya itu secara bergantian.
"Assalamu'alaikum," salam Steven, Sheila, Bima, dan Bella.
"Wa'alaikumsalam," balas Syafiq dan Sena.
__ADS_1
Steven, Sheila, Bima, dan Bella pun kemudian meninggalkan kamar rawat inap Syafiq tersebut, meninggalkan pasangan suami istri itu berdua. Sekaligus memberikan kesempatan kepada keduanya untuk berbicara, menyelesaikan permasalahan yang sedang mereka hadapi.