
Saat ini Syafiq dan Sena sedang dalam perjalanan pulang dari kantor.
"Hari ini Mbak Ratmi nggak ke apartemen kan, kak?" tanya Sena yang pandangannya masih terarah keluar jendela mobil.
"Harusnya sih enggak, sayang. Sekarang kan Mbak Ratmi bersihin apartemen cuma tiga kali dalam seminggu. Dan hari ini kayaknya bukan jadwal Mbak Ratmi untuk bersihin apartemen deh," jawab Syafiq, menolehkan kepalanya sesaat kepada Sena kemudian kembali fokus mengemudi lagi.
"Kalau gitu kita pulang ke apartemen aja dulu. Nggak enak juga sama Bunda, masih jam segini kita udah pulang."
"Oh, oke deh, sayang."
Syafiq kemudian mengemudikan mobilnya menuju ke arah apartemen mereka.
πΊπΊπΊ
Membuka pintu apartemennya, Sena kemudian langsung masuk dan naik menuju ke lantai dua, ke kamar mereka. Setelah menutup kembali pintu apartemen dan menguncinya, Syafiq pun segera menyusul istrinya itu naik ke lantai dua.
Membuka pintu kamarnya, Syafiq mendapati kamar dalam keadaan kosong.
"Sayang," panggil Syafiq.
Tidak ada jawaban. Tapi samar-samar Syafiq mendengar suara gemericik air dari arah kamar mandi. Syafiq pun kemudian berjalan menuju ke arah kamar mandi.
"Sayang," panggil Syafiq sekali lagi seraya membuka pintu kamar mandi yang ternyata tidak terkunci.
"Astaghfirullah hal adziim. Sena!!!" pekik Syafiq terkejut.
Dilihatnya Sena yang sedang terduduk di bawah pancuran shower dengan memeluk kedua lututnya sendiri. Baju yang dipakai Sena juga sudah basah kuyup terkena guyuran air dari shower. Syafiq segera berlari menghampiri Sena kemudian mematikan aliran air dari shower tersebut.
"Kamu kenapa basah-basahan gini, sayang?" tanya Syafiq cemas seraya berjongkok di depan Sena dan memegangi kedua pundak istrinya itu.
Sena terisak pelan. Syafiq segera menarik istrinya itu ke dalam pelukannya, tanpa menghiraukan bajunya yang juga jadi ikut basah.
"Kamu kenapa, sayang? Kenapa nangis? Kamu marah ya sama kakak?"
Syafiq dapat merasakan Sena menggelengkan kepalanya di dalam pelukannya.
"Terus kenapa?" tanya Syafiq lagi.
"Aku marah sama diri aku sendiri, kak. Hiks hiks," jawab Sena lirih.
Syafiq melerai pelukan mereka. Dijauhkannya tubuh Sena sedikit untuk dapat melihat wajah cantik istrinya itu.
"Kenapa, hmm?"
"Aku tau kalau Aletta cuma bagian dari masa lalu kakak. Tapi kenapa aku nggak bisa menahan diriku sendiri untuk tidak cemburu sama dia, kak?" sesal Sena yang kembali mulai terisak pelan.
Syafiq tersenyum kecil kemudian kembali memeluk tubuh istrinya itu.
"Jadi kamu cemburu sama Aletta?" tanya Syafiq pelan.
__ADS_1
"Hati aku rasanya sesek banget setelah mendengar tentang kisah cinta masa lalu kalian dulu. Hiks hiks," lirih Sena.
"Maaf ya, kak. Aku masih kayak anak kecil. Padahal itu cuma masa lalu aja. Sudah terjadi, sudah berlalu, dan tidak bisa untuk dirubah lagi. Seharusnya aku nggak boleh merasa cemburu karena hal itu," sesal Sena.
Syafiq tersenyum mendengar semua perkataan istri cantiknya itu. Sekali lagi dijauhkannya tubuh Sena untuk bisa melihat wajah istrinya itu.
"Sayang, kamu nggak salah kok. Justru kakak seneng banget karena kamu merasa cemburu seperti ini. Itu artinya kamu sangat mencintai kakak, iya kan?" kata Syafiq menggoda Sena.
"Kakak,,," wajah Sena seketika memerah.
Syafiq tertawa.
"Hahaha. Ya udah, ganti baju dulu yuk. Biar nggak sakit."
Sena menganggukkan kepalanya beberapa kali. Syafiq kemudian membantu Sena untuk kembali berdiri bersama dirinya.
"Maaf ya kak, udah buat baju kakak jadi ikutan basah," sesal Sena.
"Nggak pa-pa kok, sayang," balas Syafiq seraya merangkul pundak Sena kemudian membawanya berjalan keluar dari kamar mandi.
"Tapi kakak heran deh, sayang. Kamu itu suka banget sih mainan air. Kemarin hujan-hujanan. Hari ini basah-basahan di bawah shower."
"Hehe, main air tuh asyik tau kak. Bisa ngilangin badmood juga. Bisa nyamarin air mata kita kalau pas lagi nangis. Pokoknya seru deh," kata Sena.
"Dasar kamu itu," cibir Syafiq seraya mencubit pelan hidung Sena.
"Kak Syafiq aaahhh. Sakit," keluh Sena dengan memegangi hidungnya.
Sampai di dalam kamar, Sena kemudian mengambil pakaian ganti untuk dirinya sendiri dan juga Syafiq. Keduanya kemudian segera berganti pakaian.
"Aku buatin minuman hangat dulu ya, kak," kata Sena setelah selesai berganti pakaian.
"Oke. Kakak tunggu disini aja, ya."
"Iya kak."
Sena kemudian turun ke lantai bawah untuk membuat minuman hangat.
Beberapa saat kemudian Sena sudah kembali ke dalam kamar mereka dengan membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. Sena melihat Syafiq yang sedang tiduran di atas ranjang.
"Kepala kakak pusing lagi?" tanya Sena seraya mendekat ke arah tempat tidur.
Sena teringat kalau dulu setelah mereka hujan-hujanan Syafiq juga sempat mengeluh sakit kepala. Itu kenapa Sena sedikit merasa khawatir saat ini.
"Hmm. Enggak kok, sayang," jawab Syafiq yang kemudian segera mendudukkan tubuhnya.
Sena duduk di sebelah Syafiq.
"Diminum dulu, kak," kata Sena seraya mengangsurkan secangkir teh hangat kepada Syafiq.
__ADS_1
Syafiq menerima cangkir teh tersebut dari tangan Sena.
"Makasih ya, sayang."
"Sama-sama kak."
Syafiq dan Sena kemudian meminum teh hangat mereka masing-masing. Setelah selesai, Sena meletakkan cangkirnya ke atas nakas. Kemudian Sena mengambil cangkir teh milik Syafiq lalu meletakkannya juga ke atas nakas.
"Sini sayang," panggil Syafiq seraya menepuk space kosong di sebelahnya, meminta Sena untuk naik ke atas tempat tidur juga.
Sena tersenyum kemudian menuruti permintaan suaminya itu. Setelah Sena berada di sebelahnya, Syafiq kemudian mengajak istri cantiknya itu untuk berbaring bersama. Keduanya merebahkan tubuh mereka di atas tempat tidur dengan Syafiq yang memeluk tubuh Sena. Sena meletakkan kepalanya di dada bidang suaminya itu.
"Kakak minta maaf sama kamu ya, sayang," kata Syafiq seraya mengelus-elus lembut kepala Sena.
"Minta maaf untuk apa, kak?" tanya Sena.
"Minta maaf karena kakak dulu sempat tergoda dan menyukai gadis lain. Bahkan sampai kakak mengabaikan kamu selama beberapa bulan," sesal Syafiq.
Sena mendongakkan wajahnya dan melihat ke arah suaminya itu.
"Kakak nggak salah. Kenapa kakak harus minta maaf sama aku? Itu semua cuma masa lalu, kak, udah berlalu. Dan kita nggak bisa ngerubah masa lalu yang udah terjadi itu."
"Harusnya aku yang minta maaf sama kakak. Maaf karena aku belum bisa bersikap dewasa. Maaf karena aku sempat cemburu dengan cinta masa lalu kakak itu," lanjut Sena penuh penyesalan.
"Enggak, sayang. Kamu juga nggak salah kok. Bahkan itu adalah sesuatu hal yang sangat wajar. Tapi seperti yang udah kamu dengar sendiri tadi, kamu adalah perempuan yang kakak sayangi, bahkan sejak kakak masih kecil dulu, sebelum kakak tau apa itu arti cinta yang sebenarnya."
"Entahlah, perasaan kakak kepada Aletta dulu itu bisa disebut sebagai cinta atau enggak. Karena jujur aja, perasaan yang dulu kakak rasain ke Aletta, sama perasaan yang kakak rasain ke kamu sekarang, itu beda banget, sayang. Dan yang jelas, saat ini cuma ada kamu di hati kakak. Kakak sangat mencintai kamu, sayang."
"Kakak sendiri juga nggak tau, dulu itu kakak bener-bener suka sama Aletta atau enggak. Karena jujur aja, ketika Aletta nolak kakak, bahkan ketika Aletta akhirnya menikah dengan laki-laki lain pun, kakak nggak sehancur seperti ketika kamu pergi ninggalin kakak kemarin itu, sayang. Semuanya sangat berbeda kakak rasakan."
"Tapi satu hal yang bisa kakak pastikan sama kamu, sayang. Bahwa kakak sangat mencintai kamu. Hanya ada kamu di dalam hati kakak. Baik dulu, sekarang, maupun nanti."
Cup.
Syafiq mencium bibir mungil istrinya itu.
"Hanya ada kamu."
Cup.
Lagi Syafiq mencium bibir istri cantiknya itu.
"Kakak cuma milik kamu."
Cup.
"Jiwa dan raga kakak, semuanya adalah milik kamu, sayang."
Dan kembali Syafiq mencium bibir mungil istri cantiknya itu. Kali ini lebih lama, bahkan disertai l u m a t a n yang juga dibalas oleh Sena. Perlahan Syafiq mulai membalikkan posisi mereka. Syafiq yang sudah berada di atas tubuh Sena pun kemudian mulai melancarkan serangan-serangan terhadap istri cantiknya itu.
__ADS_1
Bersama, keduanya akhirnya larut dan tenggelam dalam kegiatan halal yang semakin mempererat hubungan di antara mereka. Memperkuat pondasi hubungan rumah tangga mereka, agar ujian apapun yang akan datang menghampiri mereka, bisa mereka hadapi dan selesaikan dengan baik.