
Beberapa hari kemudian, Aletta beberapa kali datang ke kantor Syafiq. Tetapi seperti yang sudah direncanakan oleh Syafiq sebelumnya, Syafiq tidak pernah membiarkan Aletta hanya berduaan dengan dirinya saja di dalam ruangan Syafiq. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan untuk terjadi.
Sesaat setelah Aletta masuk ke dalam ruangannya, Syafiq pasti mengirimkan chat kepada Sena untuk masuk juga ke ruangannya. Atau kalau tidak, maka Alvin yang akan datang dan ikut bergabung dengan pembicaraan Syafiq dan Aletta. Tentu saja dengan alasan ingin membantu menyelesaikan permasalahan Aletta.
Aletta tentu saja merasa dongkol. Karena dirinya selalu tidak bisa memiliki kesempatan untuk berdua saja dengan Syafiq. Bagaimana Aletta mau menjalankan rencananya untuk kembali mendekati Syafiq kalau dia saja selalu tidak memiliki kesempatan untuk bisa berdua saja dengan Syafiq?
Tetapi, setelah beberapa kali selalu mengalami hal yang hampir sama, akhirnya Aletta pun mulai memahami situasinya. Aletta pun akhirnya membuat rencana baru.
Siang ini Aletta kembali datang ke kantor Syafiq.
"Hai, Fiq," sapa Aletta.
"Hai, Let. Duduk," balas Syafiq sekaligus mempersilahkan.
"Thanks," kata Aletta yang kemudian mendudukkan dirinya di kursi di depan meja kerja Syafiq.
"Jadi gimana hasil penelitian pengacara Lo?" tanya Syafiq seraya mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja.
Aletta sudah hafal betul dengan situasi ini. Sesaat lagi pasti Sena akan masuk ke dalam ruangan Syafiq. Berbasa-basi menanyakan kabar Aletta maupun perkembangan kasus perceraian Aletta. Berpura-pura peduli terhadap Aletta, padahal hanya tidak ingin membiarkan Aletta berduaan saja dengan Syafiq. Begitulah yang selalu ada di dalam pikiran Aletta.
Tetapi kali ini Aletta punya rencana sendiri. Aletta akan membalikkan keadaan, sehingga bukan dirinya tetapi justru Sena yang akan merasa emosi. Aletta menyunggingkan senyum liciknya melihat Syafiq yang meletakkan kembali ponselnya ke atas meja.
"Oh iya, Fiq. Kebetulan ini gue ada sebuah video. Menurut Lo kira-kira video ini bisa memperkuat gugatan gue apa enggak ya?"
"Video apaan? Kenapa nggak Lo tanyain langsung ke pengacara Lo aja?"
"Video yang agak pribadi, Fiq. Itu kenapa gue mau minta pendapat sama Lo dulu sebelum gue nunjukin video ini ke pengacara gue."
Aletta kemudian berdiri dari duduknya dan beranjak untuk menghampiri Syafiq.
"Nih, coba Lo lihat dulu," kata Aletta seraya membawa ponselnya mendekat ke arah Syafiq.
Syafiq merasakan ada sesuatu yang tidak beres. Tinggal menyerahkan ponselnya kepada Syafiq, kenapa Aletta harus menghampiri Syafiq segala?
Sayangnya, belum sempat Syafiq menemukan jawaban dari pertanyaannya, tiba-tiba saja,
"Aaahhh,,," pekik Aletta yang tersandung meja kerja Syafiq.
Bruk. Cup.
__ADS_1
Aletta yang jatuh menimpa Syafiq segera menggunakan kesempatan itu untuk mencium bibir Syafiq.
Ceklek.
Sena membelalakkan kedua matanya karena terkejut melihat pemandangan yang terjadi di dalam ruangan Syafiq tersebut.
'Yes. Berhasil. Sesuai rencana gue,' sorak batin Aletta.
'Oh S H I T !!!' geram batin Syafiq.
Syafiq segera mendorong Aletta dan memutus ciuman yang terjadi secara tidak sengaja itu. Syafiq segera berdiri dari duduknya.
"Sorry Fiq. Gue beneran nggak sengaja," sesal Aletta.
Mengabaikan perkataan Aletta, Syafiq langsung melihat ke arah Sena yang masih diam terpaku di tempatnya berdiri saat ini.
"Sayang," panggil Syafiq menghiba.
Aletta mengepalkan tangannya erat. Tetapi sesaat kemudian, senyum licik itu kembali terbit di bibirnya.
Sena memejamkan matanya sekilas. Menghirup nafas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Sena berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya sendiri saat ini.
"Maaf. Aku nggak ganggu kan, kak?" tanya Sena dengan raut wajah polos seakan-akan takut karena sudah mengganggu.
Aletta dan Syafiq sama-sama tertegun sejenak. Aletta mengerutkan keningnya karena bingung.
'Kenapa reaksinya malah kayak gitu?'
Syafiq tersenyum kecil. Sepertinya dia memahami apa yang sedang dipikirkan oleh istrinya itu saat ini. Syafiq kemudian berjalan menghampiri Sena.
"Kamu ngomong apa sih, sayang? Ganggu apaan coba? Tadi itu Aletta mau nunjukin video tentang suaminya ke kakak. Siapa tau video itu bisa dijadikan bukti untuk memperkuat gugatan Aletta. Eh, tiba-tiba dia tersandung terus jatuh deh nimpa kakak," kata Syafiq seraya berjalan menghampiri Sena, meninggalkan Aletta yang masih diam terpaku di dekat meja kerjanya.
"Oh, gitu ya, kak. Tapi kak Aletta nggak apa-apa kan? Ada yang luka enggak?" tanya Sena beralih ke Aletta.
Aletta benar-benar merasa dongkol melihat wajah Sena yang seolah-olah peduli itu. Dan rasa dongkol yang dirasakan oleh Aletta bertambah menjadi berkali-kali lipat karena ternyata rencananya untuk membuat Sena cemburu telah gagal.
"Oh, gue nggak pa-pa kok, Sen. Tenang aja," jawab Aletta dengan memaksakan senyumnya.
"Syukurlah kalau gitu," kata Sena lega.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Alvin datang menghampiri mereka.
"Nah, kebetulan Lo ada disini, Ta. Tadi pengacara telepon gue, katanya ada bukti baru yang bisa digunakan untuk menguatkan gugatan Lo nanti di pengadilan. Gue disuruh bawa Lo kesana sekarang juga," kata Alvin menjelaskan.
"Oh ya? Kalau gitu kalian berangkat aja sekarang," balas Syafiq menanggapi perkataan Alvin.
"Yuk, Ta. Kita berangkat kesana sekarang juga," ajak Alvin.
"Oh, oke deh, Vin. Kalau gitu gue duluan ya, Fiq, Sen," balas Aletta sekaligus berpamitan kepada Syafiq dan juga Sena.
"Oke," kata Syafiq.
"Hati-hati ya kak, kalian berdua," pesan Sena juga.
Aletta kemudian mengambil tasnya lalu berjalan menghampiri Alvin. Keduanya kemudian pergi meninggalkan ruangan Syafiq tersebut.
"Sayang," panggil Syafiq kembali setelah pintu ruangannya tertutup.
Diluar dugaan, bukannya menjawab panggilan Syafiq, Sena justru berjalan ke arah meja sofa yang ada di dalam ruangan suaminya itu kemudian menarik dua lembar tisu dari kotak tisu yang berada di atas meja sofa tersebut.
Kembali menghampiri Syafiq, Sena kemudian mengusap-usap bibir Syafiq menggunakan tisu yang dia pegang.
"Buat ngilangin bekas dari calon pelakor," kata Sena seakan menjawab pertanyaan di dalam pikiran Syafiq.
Diam-diam Syafiq mengulum senyum kecil. Ternyata istrinya bisa sepintar itu menyembunyikan emosinya di depan Aletta.
"Udah sayang. Cukup, udah hilang," kata Syafiq seraya menggenggam tangan Sena yang mengusap-usap bibirnya menggunakan tisu.
"Enggak. Belum cukup," ketus Sena.
"Kalau gitu kita bersihkan dengan cara yang lain," kata Syafiq yang kemudian langsung menyatukan bibirnya dengan bibir mungil istrinya itu.
Sena sempat membelalakkan kedua matanya karena terkejut. Tetapi sesaat kemudian justru Sena membalas pagutan bibir Syafiq dengan sangat agresif. Syafiq sempat kewalahan menghadapi serangan dari Sena kali ini. Perpaduan antara rasa cemburu dan emosi membuat Sena seakan memiliki tenaga yang lebih besar dari Syafiq. Sena m e l u m a t bibir suaminya itu begitu ganas.
Perlahan-lahan Syafiq mulai membimbing Sena menuju ke arah pintu kamar istirahatnya di dalam ruangan tersebut, tanpa melepaskan pertautan bibir keduanya. Dan setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar istirahat tersebut, Syafiq pun langsung mengunci pintunya dari dalam.
Sena melepaskan pertautan bibir mereka berdua. Dengan nafas yang tersengal-sengal, Sena kemudian mendorong tubuh Syafiq hingga terjatuh ke atas tempat tidur di dalam kamar istirahat tersebut. Secepat kilat Sena langsung menerjang tubuh suaminya itu kemudian kembali menyatukan bibir mereka berdua.
Sena bahkan mulai membuka satu per satu kancing kemeja Syafiq dengan tidak sabarannya. Dan kali ini, Sena melampiaskan emosinya dengan membiarkan Syafiq berada di bawah kendali kuasa permainannya.
__ADS_1
Syafiq tersenyum di dalam hatinya. Ternyata istrinya yang sedang marah karena cemburu bisa berbuat se-agresif ini. Tapi jujur Syafiq sangat menyukai Sena yang berinisiatif untuk memegang kendali permainan seperti ini. Sebuah suasana baru dalam hubungan rumah tangga mereka. Dan sepertinya Syafiq akan ketagihan dengan Sena yang bertindak dominan seperti ini.