Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Kelahiran Baby Shailendra


__ADS_3

Sesuai dengan instruksi dari dokter kandungan kemarin, untuk sementara waktu ini Sena tidak berangkat ke toko kue dulu. Sena menghabiskan waktunya di rumah bersama dengan Sheila. Lebih banyak beristirahat, atau hanya sekedar melakukan aktivitas ringan yang tidak begitu menguras banyak tenaga.


Sheila tentu saja sangat paham dengan kondisi menantunya itu saat ini. Itu kenapa Sheila pun juga selalu berusaha menjaga dengan baik dan mengawasi setiap aktivitas menantunya itu. Dan tentu saja, Syafiq merasa aman meninggalkan Sena di rumah karena ada pengawasan dari bundanya tersebut yang selalu siaga.


"Makan buahnya dulu ya, sayang," kata Sheila seraya berjalan menghampiri Sena.


Sheila membawa sepiring buah-buahan yang sudah diiris-iris untuk Sena yang saat ini sedang duduk di sofa ruang keluarga.


"Bunda kenapa harus repot-repot gini sih, Bun? Sena masih bisa sendiri kok. Sena tuh sehat dan baik-baik saja, Bun. Nggak perlu dilayanin terus begini. Sena jadi ngerasa nggak enak, malah jadi ngerepotin kayak gini," ucap Sena sungkan, setelah Sheila duduk di sebelahnya.


Sheila tersenyum kemudian memegang lembut pundak menantunya itu.


"Sayang, Bunda paham banget gimana perasaan kamu saat ini. Tapi tolong kamu sabar dulu untuk sementara waktu ini, ya. Semua ini demi calon buah hati kamu yang sedang mencoba untuk tumbuh dan berkembang di dalam rahim kamu ini," kata Sheila seraya mengusap lembut perut Sena yang masih rata itu.


"Lagian Bunda juga sama sekali nggak merasa direpotkan kok, sayang. Bunda melakukan ini semua dengan senang hati, demi kamu dan juga calon cucu, Bunda. Jadi kamu nggak perlu merasa nggak enak hati atau gimana-gimana, sayang. Oke?" lanjut Sheila lagi, tersenyum meyakinkan.


"Iya, Bun. Makasih banyak ya, Bun," balas Sena yang juga ikut tersenyum.


"Cuma satu bulan ini kan, sayang. Kamu sabar dulu, ya. Semoga saja setelah satu bulan ini kondisi kehamilan kamu benar-benar sehat dan sudah kuat. Jadi kamu juga bisa beraktivitas dengan lebih leluasa lagi."


"Iya Bun, aamiin," balas Sena lagi.


🌺🌺🌺


Satu minggu kemudian.


Sheila saat ini sedang menemani Sena mengerjakan beberapa data pengeluaran toko kue milik Safa melalui laptopnya. Keduanya sedang duduk bersama di teras halaman samping rumah saat ini.


Dering suara ponsel Sheila yang berbunyi nyaring seketika mengalihkan perhatian Sheila dan juga Sena. Sheila kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja tersebut.


"Mbak Suci?" ucap Sheila sedikit heran begitu mengetahui bahwa itu adalah telepon dari Suci.


"Angkat, Bun. Takutnya ada sesuatu yang terjadi sama Mbak Sonia," kata Sena menanggapi.


Sheila menganggukkan kepalanya. Sheila kemudian menggeser tombol hijau pada layar ponselnya tersebut.


"Assalamu'alaikum Mbak," sapa Sheila.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Mbak Sheila. Mbak, Sonia udah mulai kontraksi. Ini kita lagi dalam perjalanan ke rumah sakit."


Sena bisa melihat raut wajah ibu mertuanya itu yang berubah menjadi panik.


"Masya Allah. Bukannya HPL-nya masih sekitar satu minggu lagi Mbak?" tanya Sheila terkejut.


Sena pun jadi ikut terkejut mendengar perkataan ibu mertuanya itu. Karena memang setahu Sena dan yang lainnya, menurut perkiraan dokter, HPL ( hari perkiraan lahir ) bayi Sonia seharusnya memang masih sekitar satu minggu lagi.


"Sepertinya maju Mbak. Soalnya ini tadi di rumah air ketuban Sonia juga udah pecah duluan. Makanya langsung saya bawa ke rumah sakit."


"Oke-oke Mbak, saya segera nyusul ke rumah sakit sama Sena ya. Sean udah dikabarin kan Mbak?" tanya Sheila.


"Udah Mbak. Tapi kebetulan dia lagi peninjauan ke lapangan. Tadi sih Sean bilang secepatnya dia usahakan langsung nyusul ke rumah sakit."


"Oke Mbak. Saya nyusul kesana sekarang juga. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Sheila kemudian mematikan sambungan teleponnya.


"Iya Bun," balas Sena mengiyakan.


Sheila dan Sena kemudian bersiap dan langsung menyusul ke rumah sakit saat itu juga.


🌺🌺🌺


Saat ini Sena, Safa, Dennis, dan Sendy sedang duduk di depan ruangan persalinan. Sena dan Safa bahkan saling berangkulan, saling menguatkan satu sama lain. Sementara Sheila sudah masuk ke dalam ruangan persalinan menemani Sonia bersama dengan Suci.


Tidak lama kemudian Sean dan Nadirga datang dengan terburu-buru.


"Sonia dimana?" tanya Sean begitu tiba di depan Sena dan yang lainnya.


Sena, Safa, Dennis, dan Sendy pun langsung berdiri.


"Di dalam, Bang. Tadi kata dokter, Abang langsung disuruh masuk kalau udah datang," jawab Safa.


"Oke. Abang masuk dulu kalau gitu."

__ADS_1


Setelah berkata demikian Sean pun segera masuk ke dalam ruangan persalinan. Tidak lama setelah Sean masuk, Sheila dan Suci nampak keluar dari dalam ruangan tersebut.


Sheila dan Suci kemudian bergabung dengan Sena, Safa, Dennis, Sendy, dan Nadirga. Mereka bersama-sama menunggu di depan ruangan persalinan tersebut.


Sekitar satu jam kemudian.


Pintu ruangan persalinan terbuka dari dalam. Sean berjalan keluar seraya mendorong box bayi akrilik dari kaca yang berisikan bayi mungilnya. Seorang perawat yang tadi membukakan pintu untuk Sean kemudian mengikuti di belakangnya.


Steven, Sheila, Suci, Syafiq, Sena, Adrian, Safa, Dennis, Sendy, dan Nadirga pun kompak langsung berdiri kemudian menghampiri Sean dan bayinya. Kebetulan waktu sudah bertepatan dengan jam makan siang. Itu kenapa Steven, Syafiq, dan Adrian juga sudah berada disana.


"Subhanallah," pekik lirih Sheila dan yang lainnya, merasa sangat bahagia melihat Sean bersama bayi mungilnya.


"Laki-laki atau perempuan, Sean?" tanya Suci.


"Alhamdulillaah, bayi laki-laki yang sehat, Bu," jawab Sean.


"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin,,," sambut bahagia semuanya.


"Gimana keadaan Sonia, Bang?" tanya Sheila lagi.


"Alhamdulillaah Sonia juga baik-baik saja, Bun. Tadi masih ada beberapa tindakan dari dokter pasca melahirkan. Ini dedek bayinya mau dibawa ke ruangan bayi dulu untuk observasi lebih lanjut," jawab Sean.


"Syukurlah kalau begitu," balas Sheila dan Suci bersamaan.


"Udah ada namanya, Bang?" tanya Steven.


"Kebetulan udah ada, Yah. Shailendra Arshaka Setyo Aji," jawab Sean begitu bangga.


"Subhanallah, namanya bagus banget, Bang," Safa dan Sena menanggapi.


Sean hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kepalanya. Semua yang hadir disana pun ikut tersenyum bahagia. Mereka kemudian satu per satu mengucapkan selamat kepada Sean atas kelahiran putra pertamanya dan Sonia, baby Shailendra Arshaka Setyo Aji.


..._ _ _ _ _ _ _...


Otewe novel pertama dulu ya habis ini,,, bonus extra chapter tambahan di novel pertama 'Cinta Sheila',,, kelahiran baby Shailendra πŸ€—πŸ€—πŸ€—


Nanti jangan lupa mampir juga ya semuanya 😊

__ADS_1


__ADS_2