
Beberapa hari kemudian.
Siang ini Aletta mendatangi kantor Syafiq bersama dengan Nina, sepupunya. Alvin dan Sena ikut menemui Aletta di dalam ruangan Syafiq, sekaligus menanyakan kabar Aletta yang sudah pulang dari rumah sakit.
"Gimana kabar kak Aletta? Udah sehat kan kak?" tanya Sena perhatian.
"Seperti yang Lo lihat, gue udah mendingan. Thanks," jawab Aletta.
"Syukurlah kalau gitu," balas Sena lega.
"Tapi gue bener-bener nggak nyangka kalau Lo akan setega ini sama gue, Fiq," kata Aletta tiba-tiba.
Syafiq, Sena, dan Alvin sama-sama mengerutkan kening. Bingung dengan maksud dari perkataan Aletta tersebut.
"Maksud Lo apa, Let?" tanya Syafiq datar.
"Tiga hari gue opname dan Lo sekalipun nggak pernah dateng buat jengukin gue. Hmh, ternyata hubungan persahabatan kita emang udah nggak ada artinya lagi ya buat Lo," jawab Aletta dengan nada sendu yang terdengar sangat sedih.
Syafiq melihat Sena yang nampak menundukkan wajahnya. Ah, istri cantiknya itu pasti sedang merasa bersalah dan tidak enak hati saat ini.
"Jangan ngomong kayak gitu, Let. Sorry, tapi beberapa hari kemarin gue emang bener-bener sibuk, ada acara keluarga juga," kata Syafiq.
"Lo berubah, Fiq. Semuanya berubah setelah Lo nikah," keluh Aletta, masih dengan nada suara yang terdengar sedih.
"Bukankah memang seharusnya seperti itu, Let? Kita semua harus berubah, menyesuaikan dengan kondisi keadaan kita saat ini. Gue udah nikah, jadi wajar dong kalau gue mau menjaga perasaan istri gue. Dan satu lagi, gimana bisa Lo bilang kalau hubungan persahabatan kita udah nggak ada artinya lagi buat gue? Bukankah kenyataannya sekarang gue juga lagi bantuin Lo buat ngurusin masalah Lo?" tembak Syafiq tepat sasaran.
Baik Aletta maupun Sena sama-sama tersentak mendengar semua perkataan Syafiq tadi. Syafiq memang sengaja, di satu sisi dia ingin membuat kepercayaan diri istrinya kembali. Dan di sisi lain Syafiq juga ingin membenarkan jalan pikiran Aletta, agar tidak berharap terlalu berlebihan lagi.
"Assalamu'alaikum."
Terdengar suara salam bersamaan dengan pintu ruangan Syafiq yang mengayun terbuka.
Syafiq, Sena, Alvin, Aletta, dan Nina sama-sama mengalihkan perhatian mereka ke arah pintu. Nampak Sean berdiri disana bersama dengan Ega dan seorang laki-laki lain yang belum terlihat wajahnya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Syafiq dan yang lainnya bersamaan.
"Bang Sean. Masuk, Bang," kata Syafiq mempersilahkan seraya berdiri dari duduknya.
Sena dan yang lain pun juga ikut bangun dari duduk mereka. Sean menganggukkan kepalanya. Sean, Ega, dan laki-laki yang berdiri di belakangnya itu kemudian berjalan masuk ke dalam ruangan Syafiq.
__ADS_1
"Bang Andre?" pekik Aletta tertahan begitu melihat laki-laki yang ikut masuk bersama dengan Sean dan Ega.
Ya, ternyata itu adalah Andre, kakak kandung Aletta yang selama ini tinggal dan berbisnis di Singapura.
Aletta langsung berlari dan menghambur memeluk kakak laki-lakinya itu.
"Abang," lirih Aletta di dalam pelukan kakaknya.
"Abang udah datang. Jangan khawatir, semua pasti baik-baik saja," kata Andre seraya mengelus rambut adiknya itu.
"Iya, Bang."
Setelah selesai acara kangen-kangenan kedua kakak beradik itu, Syafiq kemudian mempersilahkan mereka semua untuk duduk di sofa di dalam ruangannya tersebut.
"Ada masalah sebesar ini, tapi kenapa kamu nggak cerita ke Abang sih Dek?" tanya Andre yang duduk di sebelah Aletta.
"Maafin aku, Bang," sesal Aletta, menundukkan kepalanya. "Aku cuma nggak mau ngerepotin Abang aja."
Andre membuang nafasnya kasar.
"Hmh, kamu bilang kamu nggak mau ngerepotin Abang, terus apa ini? Kamu justru ngerepotin orang lain kayak gini Dek. Abang ngerasa nggak berguna jadi Abang kamu," keluh Andre.
"Syafiq, Alvin, Ega, bener mereka sahabat kamu semasa kuliah dulu. Tapi kan sekarang mereka juga punya urusan masing-masing. Mereka harus bertanggung jawab dengan pekerjaan mereka juga. Apalagi Syafiq yang udah nikah. Kamu harusnya bisa menempatkan diri kamu dong Dek. Gimana coba perasaan kamu kalau tiba-tiba sahabat cewek semasa kuliah Gibran datang meminta bantuan sama suami kamu dan sering menyita waktu suami kamu itu? Apa yang kamu rasakan?"
Deg.
Aletta benar-benar merasa tertohok dengan semua perkataan kakaknya itu.
"Ma-maaf," sesal Aletta lagi seraya kembali menundukkan wajahnya.
Andre menggenggam tangan Aletta.
"Kemarin aku bingung mau gimana. Mau hubungi Papa, Mama, sama Abang juga nggak enak. Akhirnya cuman ini yang kepikir, minta bantuan sama Syafiq. Kebetulan Alvin dan Ega juga kerja disini. Jadi bisa bantuin juga," terang Aletta.
Aletta lalu mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Sena.
"Sorry ya, Sen. Maaf banget kalau gue udah ngerepotin suami Lo, dan yang lainnya juga," sesal Aletta sepenuh hati.
"Nggak pa-pa kok, kak. Kita nggak merasa direpotkan kok," balas Sena seraya tersenyum lembut.
__ADS_1
"Ya udah, karena sekarang Abang udah disini, semuanya biar Abang yang ngurusin ya Dek," kata Andre kepada Aletta.
"Syafiq, Alvin, Ega, terima kasih banyak untuk bantuan kalian selama ini. Mulai sekarang biar Abang yang ambil alih masalah Aletta ini. Semuanya biar Abang yang ngurusin." lanjut Andre beralih kepada Syafiq, Alvin dan Ega.
"Oke, Bang. Sama-sama," balas Syafiq mewakili Alvin dan Ega juga.
"Maaf ya udah ngerepotin kalian," kata Andre.
"Nggak ngerepotin kok, Bang," balas Alvin.
"Dan untuk Sena, maaf ya kalau Aletta sempat menimbulkan kesalahpahaman dalam rumah tangga kamu sama Syafiq," Andre beralih meminta maaf kepada Sena.
"Eh, enggak kok, Bang. Nggak pa-pa kok," balas Sena sedikit sungkan.
"Sean, thanks banget ya udah susah payah nyari gue buat ngabarin masalah ini. Kalau nggak ada Lo, entah kapan gue baru bisa tau masalah yang sedang dihadapi sama adek gue ini," kata Andre kepada Sean.
"Sama-sama Bro. Menurut gue Lo berhak untuk tau. Dan juga, gue percaya kalau Lo pasti bakalan bisa ngurusin masalah ini jauh lebih baik daripada adek gue yang emang sering sibuk ini," balas Sean seraya mengendikkan dagunya ke arah Syafiq.
"Gue paham maksud Lo. Sekali lagi, terima kasih banyak ya semuanya. Sorry udah ngerepotin kalian semua."
"Sama-sama Bang," balas Syafiq dan yang lain bersamaan.
"Kalau gitu kita pamit dulu ya semuanya. Assalamu'alaikum," pamit Andre.
"Wa'alaikumsalam," sekali lagi semua menjawab bersamaan.
"Thanks ya Fiq, Vin, Ga, Sena juga. Sorry banget udah ngerepotin kalian semua," kata Aletta.
"Sama-sama, Let. Nggak ngerepotin kok," balas Syafiq mewakili yang lainnya.
Akhirnya Andre, Aletta dan Nina pun pergi meninggalkan ruangan Syafiq tersebut.
"Huft, akhirnya," ucap Alvin lega setelah kepergian Andre, Aletta, dan Nina.
"Thanks banget ya, Bang," kata Syafiq kepada Sean.
"Nggak perlu. Kamu adik Abang. Jadi Abang cuma ngelakuin yang seharusnya aja," balas Sean seraya menepuk pundak adik laki-lakinya itu.
Kedua kakak beradik itu tersenyum lega. Senyum penuh kelegaan juga nampak terukir di wajah Sena, Alvin, dan juga Ega. Akhirnya masalah Aletta selesai untuk mereka karena sudah diambil alih oleh kakak kandung Aletta sendiri.
__ADS_1