
Sheila, Sonia, dan Sena menunggu dengan gelisah di depan ruangan IGD. Di dalam sana Safa sedang diperiksa oleh dokter jaga yang kebetulan adalah Kikandrya, putri kedua Ken dan Santi.
Tidak berapa lama kemudian Kikan nampak keluar dari dalam ruangan IGD. Sheila, Sonia, dan Sena pun segera bangun dan menghampiri Kikan.
"Gimana keadaan Safa, nak?" tanya Sheila memburu, mewakili Sonia dan Sena yang juga sama khawatirnya.
Kikan nampak tersenyum sebelum menjawab pertanyaan dari Sheila yang sarat akan kekhawatiran itu.
"Bunda nggak perlu khawatir. Keadaan Safa baik-baik saja kok, Bun," jawab Kikandrya.
"Syukur alhamdulillah," ucap Sheila, Sonia, dan Sena bersamaan, merasa lega.
"Dan Kikan juga ada sebuah kabar baik untuk semuanya," kata Kikan kemudian.
"Kabar baik apa, Kikan?" tanya Sonia.
"Alhamdulillaah Safa sekarang sedang hamil. Sudah tiga minggu," jawab Kikandrya mantap.
"Alhamdulillaah hirobbil 'aalamiin," pekik bahagia Sheila, Sonia, dan Sena bersamaan.
"Syukur alhamdulillah, Yaa Allah," ucap syukur Sheila.
Tanpa sadar air mata Sheila mengalir di pipinya. Air mata kebahagiaan. Sonia dan Sena kemudian memeluk Sheila dari samping kanan dan kirinya.
__ADS_1
"Alhamdulillaah ya, Bun. Ini bener-bener kabar yang menggembirakan untuk kita semua," kata Sena.
"Iya, sayang. Alhamdulillaah," balas Sheila.
πΊπΊπΊ
Safa diharuskan untuk menginap di rumah sakit selama satu malam, karena kondisinya yang masih lemah dan juga untuk observasi lebih lanjut.
Kabar bahagia tentang kehamilan Safa disambut dengan suka cita oleh seluruh keluarga besar mereka. Dan Adrian tentu saja menjadi orang yang paling berbahagia di antara yang lainnya. Dirinya akan menjadi seorang ayah. Puji syukur tak henti-hentinya mereka panjatkan kehadirat Allah SWT atas kabar bahagia yang mereka dapatkan ini.
Sesaat tadi, Sheila dan Sonia sempat merasa khawatir dan merasa tidak enak hati kepada Sena. Mereka berdua takut kalau Sena sampai merasa berkecil hati. Sena yang lebih dulu menikah, tetapi justru Safa yang lebih dulu mendapatkan amanah dari Allah SWT melalui kehamilannya ini.
Tetapi syukurlah ketakutan Sheila dan Sonia terbantahkan. Sena terlihat baik-baik saja. Bahkan Sena juga sangat antusias setelah mengetahui tentang kabar kehamilan Safa itu. Sena begitu bersemangat, menanyakan apa saja yang sedang diinginkan oleh Safa. Dan juga membantu Safa yang memang masih sangat dibatasi gerakannya itu.
πΊπΊπΊ
Syafiq tau Sena sedang tidak baik-baik saja. Semua senyuman dan tingkah lakunya yang begitu antusias itu hanyalah sebuah kamuflase untuk menutupi perasaan Sena yang sesungguhnya. Syafiq tau benar bagaimana istrinya itu.
Syafiq berdiri di belakang Sena yang sedang duduk di depan meja riasnya saat ini, mengaplikasikan krim malam pada wajahnya. Dipegangnya kedua pundak istrinya itu.
"Kak," panggil Sena seraya tersenyum melihat Syafiq melalui cermin riasnya.
Syafiq membalas senyum manis istrinya itu dengan senyuman yang lembut dan hangat. Syafiq memutar tubuh Sena sehingga menghadap ke arah dirinya. Syafiq kemudian berjongkok di depan istrinya itu, mensejajarkan dirinya dengan posisi duduk Sena saat ini.
__ADS_1
Cup.
Syafiq mengecup bibir mungil Sena sekilas. Syafiq kemudian menyatukan kening keduanya.
"Jangan pernah merasa berkecil hati, sayang. Kakak tidak pernah menuntut apapun dari kamu. Masalah anak, biarkan semuanya menjadi rahasia takdir dari Allah SWT."
Deg.
Sena merasa sangat terkejut. Ternyata Syafiq tau apa yang sedang menjadi beban pikirannya saat ini. Padahal Sena sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi kegelisahannya itu. Ah, Sena tidak akan pernah bisa menyembunyikan apapun dari suaminya itu.
"Satu hal yang harus selalu kamu ingat, sayang. Ada atau tidaknya anak di antara kita, itu bukan suatu masalah bagi kakak. Karena bagi kakak yang terpenting itu adalah kamu. Kakak membutuhkan kamu, sayang. Kakak sangat mencintai kamu. Kamu adalah hal yang paling penting dan paling berharga untuk kakak."
Tes. Tes.
Air mata Sena mengalir membasahi kedua pipinya. Sena benar-benar merasa tersanjung mendengar semua perkataan suaminya itu.
"Dari awal kakak sudah sering bilang sama kamu. Jangan pernah menjadikan masalah tentang anak ini menjadi beban pikiran untuk kamu, sayang. Biarkan semuanya mengalir seperti air. Kita hanya perlu berusaha sebaik mungkin. Dan untuk masalah hasilnya, kita pasrahkan semuanya kepada Allah SWT."
"Dan meski apapun yang terjadi, ada atau tidaknya anak di antara kita, itu tidak akan pernah bisa merubah perasaan kakak sama kamu, sayang. Kakak sangat mencintai kamu, sampai kapanpun dan meski apapun yang terjadi. Jadi jangan pernah kamu merasa berkecil hati lagi. Ya sayang ya," tegas Syafiq kepada Sena.
"Iya, kak," lirih Sena menanggapi semua perkataan suaminya itu.
Syafiq menghapus air mata di kedua pipi Sena menggunakan jari-jari tangannya. Syafiq kemudian menarik tubuh istrinya itu dan memeluknya penuh sayang. Sebuah pelukan hangat penuh kasih sayang. Dan memang inilah yang sangat dibutuhkan oleh Sena saat ini.
__ADS_1