Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Sena Sadar


__ADS_3

Ketika Syafiq dan yang lainnya tiba di rumah sakit, mereka melihat Bima sedang berbicara dengan Kiara dan seorang perawat.


"Assalamu'alaikum. Gimana Pa, kak Kiara?" tanya Syafiq memburu.


"Wa'alaikumsalam," jawab Bima, Kiara, dan si perawat bersamaan.


"Fiq, syukurlah kamu sudah datang. Kamu langsung masuk ke dalam, ya. Biar suster bantu kamu bersiap," kata Kiara. "Sus, tolong dibantu, ya," Kiara beralih kepada perawat di sebelahnya.


"Baik, Dok. Mari bapak, silahkan ikut saya," balas si perawat.


Syafiq mengangguk kemudian mengikuti langkah perawat tersebut untuk masuk ke dalam ruangan ICU.


"Gimana keadaan Sena, Pa?" tanya Bella juga kepada Bima.


"Biar Kiara saja yang menjelaskan ya, Tante," sahut Kiara seraya tersenyum.


Bella menoleh ke arah Kiara kemudian menganggukkan kepalanya.


"Alhamdulillaah Sena sudah berhasil melewati masa kritisnya. Perlahan namun pasti, kesadaran Sena juga sudah mulai pulih. Dan dari pertama kali Sena sadar tadi dia terus memanggil nama Syafiq. Itu kenapa dokter yang menangani Sena berpesan untuk langsung menyuruh Syafiq masuk ke dalam begitu dia sampai," kata Kiara menjelaskan.


"Oh, gitu ya. Syukur alhamdulillah kalau Sena akhirnya sudah sadar," balas Bella lega.


"Untuk kondisi Sena sendiri gimana, Ki?" tanya Steven juga kepada Kiara.


"Kondisi Sena alhamdulillah cukup stabil Om. Tapi tim dokter masih perlu untuk melakukan observasi lebih lanjut terhadap Sena. Baru setelah itu Sena bisa kita pindahkan ke kamar rawat inap VIP," jawab Kiara.


"Syukur alhamdulillah," kata Steven, Sean, Vira, dan Azka merasa lega.


🌺🌺🌺


Setelah selesai memakai pakaian steril khusus, Syafiq kemudian diantar oleh perawat untuk masuk ke dalam ruangan tempat Sena dirawat.


Begitu masuk ke dalam, Syafiq dapat melihat Sena yang masih memejamkan kedua matanya. Seorang dokter laki-laki paruh baya kemudian menghampiri Syafiq.


"Anda suami pasien yang bernama Syafiq?" tanya sang dokter.


"Benar, Dok," jawab Syafiq. "Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" tanya Syafiq kemudian.


"Alhamdulillaah pasien sudah berhasil melewati masa kritisnya," jawab sang dokter.


"Alhamdulillaah," lirih Syafiq merasa lega.

__ADS_1


"Pasien juga sudah sadar. Bapak sudah boleh mengajak komunikasi pasien. Tetapi perlahan-lahan saja dulu ya, Pak. Kondisi pasien belum pulih sepenuhnya," pesan dokter selanjutnya.


"Baik, Dok. Terima kasih banyak, dokter."


"Sama-sama, Pak. Itu sudah menjadi kewajiban kami. Saya tinggal dulu kalau begitu. Bapak boleh menemui istri bapak sekarang."


"Iya, Dok, silahkan. Sekali lagi terima kasih banyak, Dok," kata Syafiq.


Sang dokter menganggukkan kepalanya sebagai jawaban, kemudian berlalu meninggalkan Syafiq.


Syafiq kemudian berjalan menghampiri hospital bed Sena. Syafiq lalu duduk di kursi di sebelah hospital bed Sena.


"Assalamu'alaikum, sayang," panggil Syafiq pelan seraya menyentuh lembut punggung tangan kanan Sena.


Perlahan-lahan Sena mulai membuka kedua matanya. Senyum Sena langsung terkembang begitu melihat wajah tampan suaminya itu. Sena bisa melihat Syafiq yang juga tersenyum lembut dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kak Syafiq. Wa'alaikumsalam," balas Sena masih lemah.


Syafiq kemudian bangun dari duduknya. Mencondongkan tubuhnya, Syafiq kemudian mencium lembut kening Sena cukup lama, menyalurkan kerinduannya selama satu minggu ini.


Sena pun juga memejamkan kedua matanya, meresapi luapan kerinduan dan kasih sayang dari sang suami tercinta. Setelah beberapa saat akhirnya Syafiq melepaskan ciumannya.


"Syukur alhamdulillah, akhirnya kamu sadar juga, sayang," kata Syafiq penuh syukur.


"Gimana keadaan kamu sekarang, sayang? Ada yang sakit?" tanya Syafiq.


Sena menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku udah nggak pa-pa kok, kak," jawab Sena pelan. "Putri kita dimana, kak?" tanya Sena kemudian.


"Putri kita sama Bunda di rumah. Ada Sonia, Safa, dan yang lainnya juga. Kebetulan hari ini ada acara syukuran aqiqah untuk putri kita," jawab Syafiq.


"Oh ya? Siapa namanya, kak?" tanya Sena antusias.


"Shakila Arnelle Setyo Aji. Sesuai dengan kesepakatan kita dulu, sayang," jawab Syafiq dengan tersenyum.


"Syukurlah kalau begitu," balas Sena ikut tersenyum.


"Cepat pulih ya, sayang. Biar kita bisa berkumpul lagi. Kakak dan yang lainnya, kami semua sangat merindukan kamu, sayang. Terutama putri kita, dia juga sangat ingin bertemu dengan Mama-nya selama satu minggu ini," kata Syafiq.


"Iya kak, aku juga ingin segera bertemu dengan Arnelle dan yang lainnya juga," balas Sena.

__ADS_1


Syafiq tertawa kecil. Ya, panggilan itu dulu pernah menjadi topik pembicaraan mereka. Sena bilang kalau dia ingin memanggil putrinya nanti dengan nama Arnelle saja. Berharap putrinya nanti bisa menjadi setangguh dan sekuat elang. Sama seperti Syafiq yang juga memiliki nama tengah Aquila yang juga berarti elang.


"Ya sudah. Kamu istirahat lagi ya, sayang. Biar cepet pulih kondisinya. Biar bisa segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Jadi kamu bisa ketemu baby Arnelle nanti," kaya Syafiq seraya mengelus lembut kepala Sena.


"Iya kak," balas Sena tersenyum lembut.


Sena kemudian kembali memejamkan kedua matanya untuk beristirahat. Syafiq pun terus menemani di sebelah istri cantiknya itu seraya menggenggam lembut tangan kanan Sena yang terbebas dari jarum infus.


🌺🌺🌺


Malam harinya.


Kondisi Sena sudah semakin membaik. Malam ini Sena pun akhirnya bisa dipindahkan ke kamar rawat inap VIP. Karena waktu yang sudah sangat larut, Syafiq kemudian meminta Steven, Sean, Bima, Bella, Vira, dan Azka untuk pulang terlebih dahulu.


"Kamu yakin nggak mau ditemenin, Fiq?" tanya Bima sekali lagi.


"Yakin, Pa. Tenang aja, Syafiq bisa kok. Kan kondisi Sena sudah baik juga," jawab Syafiq.


"Ya sudah. Kalau gitu kita semua pulang dulu ya," kata Steven.


"Iya, Yah. Kasian juga Bunda sama yang lain nungguin," balas Syafiq.


"Sena, Mama dan yang lainnya pulang dulu ya. Besok pagi kami kesini lagi," kata Bella berpamitan kepada Sena.


"Iya, Ma. Hati-hati ya kalian semuanya," balas Sena.


Bella menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Setelah semuanya selesai berpamitan, Steven, Sean, Bima, Bella, Vira, dan Azka pun kemudian meninggalkan kamar rawat inap Sena untuk pulang terlebih dahulu.


"Jadi masih tetep Arnelle nih panggilan dari Mama-nya? Nggak Shakila aja?" tanya Syafiq setelah hanya tinggal mereka berdua saja di dalam kamar rawat inap tersebut.


Sena tersenyum kecil.


"Yang lain kalau mau manggil Shakila juga boleh. Atau mau ikutan manggil Arnelle juga boleh kok. Tapi dari Mama-nya tetep Arnelle aja. Biar dia bisa setangguh dan sehebat elang. Seperti Papa-nya yang tangguh dan hebat juga," jawab Sena.


"Mama-nya juga hebat kok. Tangguh, tidak mudah menyerah, kuat, dan mandiri," balas Syafiq yang juga memuji Sena.


"Jangan berlebihan, kak. Aku belum sehebat itu," tolak Sena tidak ingin tinggi hati.


"Kakak nggak berlebihan, sayang. Memang sehebat itulah kamu di mata kakak. Kakak sangat bersyukur karena memiliki istri seperti kamu, sayang," balas Syafiq mantap seraya menggenggam lembut tangan kanan Sena.


"Sena juga bersyukur banget karena memiliki suami seperti kak Syafiq," kata Sena juga.

__ADS_1


Sepasang suami istri itu kemudian tersenyum lembut. Keduanya bersyukur atas segala nikmat dan karunia yang telah Allah SWT limpahkan kepada mereka.


__ADS_2