Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Pengganggu Lama


__ADS_3

Sena, Sonia, dan Safa masih asyik menikmati waktu bersantai mereka seraya berbincang dan bercanda bersama. Tawa riang sering terdengar dari ketiga wanita cantik itu karena mereka saling menggoda satu sama lain.


Tanpa mereka bertiga sadari, ternyata ada beberapa orang yang sedari tadi terus mengamati mereka bertiga dari tempat yang tidak begitu jauh dari tempat mereka bertiga duduk saat ini.


"Nggak salah lagi, itu emang Ana," kata salah satu dari kelima laki-laki tersebut.


"Mereka cuma bertiga, cewek semua juga. Ini kesempatan yang bagus untuk menjalankan rencana balas dendam kita," sahut laki-laki yang lainnya.


"Iya, dari tadi kita lihatin, mereka cuma bertiga aja tuh. Nggak ada cowok yang jagain mereka," imbuh yang lainnya lagi.


"Oke. Kita maju kalau gitu!" ajak seorang laki-laki yang sepertinya adalah pemimpin di antara kelima laki-laki tersebut.


Keempat laki-laki yang lainnya mengangguk. Mereka berlima kemudian berjalan menghampiri Sena, Sonia, dan Safa yang sedang duduk bersama.


"Apaan, nggak ada ya aku tiap malam," sayup-sayup terdengar suara Sena yang menyangkal dengan tegas.


"Alaaahhh, jujur aja dong kak. Orang dulu aja aku sering mergokin sendiri kok, kak Sena tiap pagi rambutnya pasti basah," goda Safa lagi.


"Eh, nggak tiap hari juga kali. Kamu tuh Sa yang tiap hari. Kan masih anget-angetnya, jadi masih semangat-semangatnya juga. Iya kan? Hayo ngaku?" giliran Sena yang balik menggoda Safa.


"Isshhh, apaan sih kak," elak Safa salah tingkah dengan wajah yang merona merah.


"Nah kan bener, hahahahaha..."


Sena dan Sonia tertawa bersamaan, sementara Safa tersipu karena malu.


"Kak Sena iiihhh," rajuk Safa lagi.


"Wah wah wah, asyik bener ngobrolnya neng. Kita ikutan boleh dong?"


Sena, Sonia, dan Safa sama-sama terkejut. Ketiganya kemudian mengalihkan perhatian mereka ke arah asal suara yang tiba-tiba menginterupsi obrolan mereka tadi.


"Jordan?" kaget Sonia tidak percaya.


Ya, ternyata kelima laki-laki itu adalah Jordan dan teman-temannya.


Sena dan Safa seketika ikut waspada. Mereka berdua tentu saja sudah mengetahui tentang siapa Jordan ini dan bagaimana cerita tentang dia dulu. Ketiga wanita cantik itu kemudian berdiri dari duduk mereka.


"Hai, Ana. Kita ketemu lagi," kata Jordan seraya tersenyum menyeringai.


Sena dan Safa melihat Sonia yang nampak sedikit ketakutan. Keduanya kemudian berdiri di samping kiri dan kanan Sonia seraya memegangi pundak Sonia, berusaha menyalurkan keberanian dan kekuatan kepada Sonia.


"Mau apa kalian?" tanya Sena galak.

__ADS_1


"Weiss, jangan galak-galak dong, neng," kata salah satu teman Jordan.


"Iya, entar cantiknya ilang loh," lanjut yang lain.


Jordan dan teman-temannya lalu tertawa bersama menanggapi lelucon teman mereka itu.


"Tekan jam kita," bisik Sena sepelan mungkin.


Sonia dan Safa mengerti maksud Sena. Tanpa sepengetahuan Jordan dan teman-temannya, ketiga wanita cantik itu menekan tombol pada jam tangan masing-masing.


"Hmh, gue nggak nyangka. Akhirnya gue punya kesempatan juga untuk membalas semua rasa sakit hati gue sama Lo dan suami brengsek Lo itu, An," kata Jordan seraya berjalan maju, lebih mendekat ke arah Sonia, Sena, dan Safa.


Sonia refleks langsung mundur satu langkah seraya memegangi perutnya. Sena dan Safa bisa merasakan tubuh Sonia yang sedikit bergetar. Sena dan Safa tentu sangat bisa memahami ketakutan Sonia saat ini.


Sonia bukan hanya membawa dirinya sendiri, ada calon bayinya yang sedang berkembang di dalam perutnya saat ini. Belum lagi dengan kejadian keguguran yang dulu pernah Sonia alami. Itu kenapa ketakutan Sonia menjadi berlipat ganda saat ini.


Jordan mengangkat tangan kanannya dan hendak menyentuh Sonia. Tetapi secepat kilat Sena segera menepis dengan kasar tangan Jordan itu. Sena kemudian maju dan berdiri tepat di depan Sonia dan juga Safa, berhadapan langsung dengan Jordan.


"Jangan macam-macam Lo ya ," gertak Sena garang.


"Nggak usah ikut campur. Lo cuma seorang cewek. Atau Lo akan merasakan akibatnya," ancam Jordan berang.


"Cih, gue nggak takut sama ancaman Lo," balas Sena meremehkan.


"Sialan Lo. Kalau gitu rasain nih,,,"


Bugh!!!


Tepat sasaran mengenai wajah Jordan.


"Aaarrrggghhh," erang Jordan seraya memegangi hidungnya.


Sonia dan Safa yang terkejut pun langsung saling berangkulan.


"Bangs4t!!!" umpat Jordan. "Dasar cewek sialan. Gue nggak akan segan-segan lagi sama Lo. Maju semua. Kita kasih pelajaran sama cewek kurang ajar ini lebih dulu," kata Jordan memerintahkan kepada teman-temannya untuk maju dan menyerang Sena.


"Oke Jo," balas teman-teman Jordan.


"Kalian berdua mundur dulu, ya. Safa jaga Mbak Sonia," kata Sena kepada Sonia dan Safa.


"Oke," balas Safa.


"Hati-hati Sen," pesan Sonia.

__ADS_1


Sena menganggukkan kepalanya pelan.


"Tenang aja. Kita cuma harus mengulur waktu. Suami-suami kita pasti segera datang kesini," kata Sena yakin seraya menengok ke belakang.


Memanfaatkan situasi Sena yang sedikit lengah, Jordan kemudian langsung memukul wajah Sena dan mengenai pipi kanan Sena.


Bugh.


"Akhht," ringis Sena terkejut.


"Sena!"


"Kak Sena!"


Pekik Sonia dan Safa bersamaan.


Terdengar Jordan dan teman-temannya tertawa bersama-sama.


"Rasain Lo. Dasar cewek sialan. Sok-sok-an mau nantangin kita," ejek Jordan kembali menyeringai.


"Dasar licik," umpat Sena.


Sena kemudian kembali melayangkan pukulannya kepada Jordan. Jordan bisa menangkisnya. Tetapi sayangnya serangan Sena ternyata tidak berhenti sampai disitu saja. Sena kemudian secepat kilat menendang perut Jordan menggunakan kaki kirinya.


Jordan jatuh tersungkur. Teman-teman Jordan pun kemudian mulai maju dan menyerang Sena. Sena yang memang sudah memiliki dasar ilmu bela diri sejak kecil tentu saja bisa menghadapi Jordan dan teman-temannya, meskipun mereka main keroyokan.


Beberapa kali terkena pukulan dan tendangan lawan, tetapi Sena masih mampu untuk bertahan dan melawan balik.


Sayangnya, Sena tetaplah seorang wanita, kemampuan dan kekuatannya tentu saja terbatas. Belum lagi dirinya yang harus menghadapi lima orang sekaligus.


Sena sudah nampak ngos-ngosan dan kelelahan. Dan dengan liciknya Jordan yang berada di belakang Sena hendak memanfaatkan kesempatan itu kemudian menyerang Sena dari belakang. Entah darimana Jordan tiba-tiba saja sudah memegang balok kayu di tangannya. Jordan mengangkat balok kayu tersebut dan hendak memukulkannya ke arah Sena.


"Sena awas,,," teriak Sonia.


"Kak Sena," Safa pun ikut berteriak.


Sena seketika langsung membalikkan tubuhnya.


'Astaga,' Sena berucap dalam hati.


Sadar dirinya sudah tidak memiliki kesempatan untuk menghindar lagi, Sena pun hanya bisa memejamkan kedua matanya, sudah pasrah dengan pukulan yang akan dia terima.


"SENA!!!"

__ADS_1


"KAK SENA!!!"


Sonia dan Safa pun berteriak bersamaan, panik melihat Sena yang hendak terkena pukulan balok kayu dari Jordan.


__ADS_2