Jerat Cinta CEO Arrogant

Jerat Cinta CEO Arrogant
Perjuangan Seorang Ibu


__ADS_3

Sena mengalami pendarahan ketika sedang dalam perjalanan menuju ke rumah sakit. Hal itu tentu saja membuat Syafiq, Sheila, dan juga Steven menjadi semakin panik. Bima dan Bella juga sudah ditelepon oleh Steven tadi. Keduanya juga langsung menuju ke rumah sakit.


Setibanya di rumah sakit, Sena langsung dibawa masuk ke ruang bersalin untuk mendapatkan penanganan dari dokter. Steven sudah terlebih dahulu menghubungi pihak rumah sakit Opa Wirawan sebelumnya, itu kenapa semua sudah siap ketika mereka tiba di rumah sakit tersebut.


Bella meminta ijin untuk bisa ikut masuk ke dalam ruang bersalin dan menemani Sena dalam proses persalinannya. Tetapi sayangnya dokter hanya mengijinkan Syafiq saja yang bisa ikut masuk ke dalam ruang bersalin dan menemani istrinya itu untuk berjuang dalam proses persalinannya.


🌺🌺🌺


Di dalam ruang bersalin.


"Fiq, pendarahan Sena sudah terlalu banyak. Gimana kalau kita operasi caesar aja?" saran Kiara yang saat itu bertugas mendampingi dokter kandungan dalam proses persalinan Sena.


"Tapi Sena selalu bilang kalau dia pengen ngelahirin secara normal, kak," balas Syafiq.


"Tapi kita khawatir pendarahan akan semakin parah ketika Sena mengejan nanti, Fiq. Dan itu bisa sangat berbahaya untuk Sena," kata Kiara lagi.


Syafiq nampak mulai meragu.


"Kak," panggil Sena lirih.


Syafiq langsung berbalik dan bergegas menghampiri Sena. Digenggamnya tangan kanan istrinya itu yang terbebas dari jarum infus.


"Iya, sayang," balas Syafiq.


"Aku tetep pengen lahiran secara normal," pinta Sena di sela-sela rasa sakitnya.


"Tapi dengan kondisi pendarahan kamu yang seperti ini, lahiran normal sangat beresiko, Sen," kata Kiara.


"Nggak pa-pa kak. Aku pasti bisa," balas Sena mantap. "Kakak percaya kan sama aku?" tanya Sena beralih kepada Syafiq.


Syafiq terdiam untuk sesaat. Kebimbangan sedang menghampiri Syafiq saat ini.


Sebagai sesama wanita, Kiara sangat memahami keinginan Sena itu. Kiara kemudian menoleh ke arah rekannya, sang dokter kandungan. Dan ketika dokter kandungan tersebut menganggukkan kepalanya, Kiara pun tersenyum lega. Kiara kemudian menepuk pelan pundak Syafiq. Setelah Syafiq menolehkan kepalanya, Kiara kemudian menganggukkan kepalanya pelan seraya tersenyum.


Senyum kelegaan nampak di wajah Syafiq begitu dia memahami maksud dari Kiara itu.


"Iya, sayang. Kakak percaya sama kamu. Kamu pasti bisa. Tapi kamu juga harus janji sama kakak, ya. Kamu harus bertahan," kata Syafiq yang sudah kembali beralih kepada Sena.

__ADS_1


"Pasti kak," balas Sena seraya tersenyum lembut.


"Kita induksi ya, Bu Sena. Biar bukaan-nya bisa makin cepat. Tapi ini juga berarti kontraksi yang ibu rasakan akan jadi semakin intens. Nggak pa-pa kan?" kata sang dokter kandungan.


"Iya, Dok. Nggak pa-pa," balas Sena yakin.


Setelah mempersiapkan semuanya, dokter kemudian menyuntikkan obat untuk induksi persalinan melalui infus Sena. Dan benar saja, beberapa saat kemudian kontraksi yang dirasakan oleh Sena menjadi semakin sering intensitasnya dan serasa berkali-kali lipat lebih sakit daripada yang dia rasakan sebelumnya.


Ketika rasa sakit itu menyerangnya dengan begitu hebatnya, Sena hanya mampu beristighfar seraya meremas kuat tangan Syafiq yang sedang dia genggam.


"Atur nafasnya ya, Bu. Biar pembukaannya semakin cepat," kata seorang perawat yang berdiri di sisi kiri Sena seraya melakukan pijatan-pijatan rangsangan pada perut Sena.


Beberapa saat kemudian, dokter kembali melakukan pemeriksaan pada bagian bawah Sena.


"Nah, akhirnya pembukaannya sudah sempurna. Mari Bu Sena, kita mulai proses persalinan ibu sekarang, ya," kata sang dokter kandungan.


"Bapak, terus support istrinya, ya. Suster, bantu arahkan dari sana. Bu Sena, saat kontraksi datang, tarik nafas yang dalam lalu dorong sekuat tenaga ya, Bu. Tunggu aba-aba dari saya," sang dokter menginstruksikan kepada semuanya.


"Bu Sena, nanti saat mengejan angkat kepala ibu, ya. Pandangan jatuh ke perut ibu. Sekiranya sudah tidak kuat, berhenti untuk atur nafas lagi," lanjut sang dokter kandungan.


"Oke Bu Sena, atur nafas dulu. Tarik nafas yang dalam. Dorong sekarang Bu," perintah sang dokter kandungan.


Syafiq meringis merasakan genggaman tangan Sena yang begitu kuatnya.


"Semangat, sayang. Kamu hebat. Kamu kuat. Kamu pasti bisa," kata Syafiq menyemangati Sena.


"Oke, stop. Nah, betul seperti itu. Sudah mulai turun. Kita ulangi lagi ya, Bu. Atur nafasnya lagi. Tarik nafas dalam-dalam. Dorong lagi, Bu," perintah sang dokter kandungan lagi.


"Heeeeeeeeennnggghhhh,,," kembali Sena mengejan dengan sekuat tenaga.


"Huft, huft, huft," nafas Sena sudah sangat ngos-ngosan dengan keringat yang memenuhi seluruh tubuhnya.


"Atur nafasnya dulu ya, Bu," kata perawat di sebelah Sena.


"Sudah kelihatan, Bu. Sekali lagi ya, Bu. Kerahkan seluruh tenaga ibu. Ayo Bu, demi bayi ibu. Ibu Sena pasti bisa," kata sang dokter kandungan yang juga memberikan semangat kepada Sena.


"Ayo, sayang. Kamu pasti bisa. Kakak tau kamu kuat," Syafiq kembali berusaha memberikan semangat kepada istrinya itu.

__ADS_1


Kiara tau pendarahan Sena semakin parah, itu kenapa rekan dokternya itu berusaha untuk menyelesaikan proses persalinan ini secepat mungkin. Sementara Sena sendiri sudah mulai kehabisan tenaga. Sena merasa dirinya hampir berada di ambang batas kemampuannya.


"Tarik nafas dalam-dalam, Bu. Dan, dorong sekuat tenaga, Bu," aba-aba sang dokter kandungan lagi.


'Bismillaah hirrohmaan nirrohiim. Allaahu akbar,' Sena mengucap basmalah dan bertakbir dalam hati.


"Heeeeeeeeennnggghhhh,,," kembali Sena mengejan dengan sekuat tenaga yang dia mampu.


Dan,


"Oeeek, oeeek, oeeek,,," terdengar suara tangisan bayi yang memenuhi ruang persalinan tersebut.


Ketegangan itu seketika berubah menjadi kebahagiaan. Senyuman lebar sudah menghiasi wajah Syafiq. Bahkan Syafiq sampai berkaca-kaca karena saking bahagianya.


"Kamu berhasil, sayang. Kamu hebat. Terima kasih banyak, sayang. Terima kasih untuk perjuangan kamu ini," kata Syafiq seraya menciumi kening dan pipi Sena berulang kali.


"Selamat ya, bapak, ibu. Bayinya perempuan. Cantik seperti ibunya," kata sang dokter kandungan.


"Alhamdulillaah," pekik bahagia Syafiq dengan wajah berseri-seri.


Sena tersenyum lembut, bahagia mendengar perkataan sang dokter kandungan tersebut. Apalagi ketika melihat kebahagiaan di wajah suaminya itu, Sena benar-benar merasa sangat bahagia. Namun sedetik kemudian, Sena yang sudah kepayahan itu tiba-tiba saja jatuh pingsan dan tidak sadarkan diri.


"Sayang," panggil Syafiq terkejut ketika melihat Sena yang tiba-tiba memejamkan matanya.


Perawat segera memeriksa keadaan Sena.


"Ibu Sena pingsan, dok," kata si perawat.


Ketegangan kembali memenuhi wajah Syafiq.


"Sena, sayang, kamu kenapa? Bangun sayang," pekik Syafiq seraya menepuk-nepuk pipi Sena.


Kiara segera menghampiri Syafiq dan memegang pundaknya.


"Fiq, kamu ikut perawat membersihkan putri kamu dulu. Biar dokter dan kakak bisa segera memberikan pertolongan kepada Sena," perintah Kiara tegas.


"Tolongin Sena, kak," pinta Syafiq.

__ADS_1


"Pasti. Kami akan berusaha semampu kami," balas Kiara.


Syafiq mencium kening Sena sekali lagi. Dengan berat hati akhirnya Syafiq pun menuruti perkataan Kiara lalu mengikuti perawat yang hendak membersihkan putri kecilnya itu.


__ADS_2