
"Ekhem," Sena berdehem sekali untuk meminta perhatian dari suaminya itu yang masih saja terus melihat ke arah pintu ruangannya yang baru saja ditutup oleh Aletta.
"Hmh, kenapa sayang?" tanya Syafiq seraya mengalihkan perhatiannya kepada istri cantiknya itu.
"Entahlah. Mungkin ada yang ingin menjelaskan sesuatu ke aku," jawab Sena dengan mengangkat kedua bahunya.
Syafiq tertawa kecil. Ditariknya Sena ke arah kursi kebesarannya. Syafiq mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya tersebut kemudian menarik Sena untuk duduk menyamping di atas pangkuannya. Syafiq pun segera melingkari perut Sena dengan kedua tangannya, memeluk istri cantiknya itu dari samping.
"Itu tadi Aletta. Dia teman kuliah kakak dulu. Temennya Alvin sama Ega juga."
"Terus masalah cinta masa lalu tadi?"
Syafiq tersenyum kecil sebelum menjawab pertanyaan dari istrinya itu.
"Yakin nih mau dengar cerita itu? Entar kamu jadi marah lagi sama kakak," tanya Syafiq mencoba menanyakan keyakinan Sena.
"Enggak kok. Pokoknya aku mau tau tentang cerita itu," kekeuh Sena.
"Seriusan nih nggak akan marah?"
"Iya, nggak akan marah. Buruan ihh kak, ayo ceritain!" seru Sena mulai tidak sabar.
"Hmh, iya deh kakak ceritain," Syafiq akhirnya mengalah. "Memang, jujur kakak akui, dulu kakak sempet suka sama Aletta. Tapi yah, seperti yang sudah kamu dengar sendiri tadi. Dia nolak kakak. Dia bilang kalau hubungan kami cukup sebatas teman aja. Dia juga nyuruh kakak untuk melupakan perasaan kakak ke dia. Bahkan dia juga berharap kalau kakak bisa mendapatkan seseorang yang lebih tepat buat kakak nantinya."
"Dan kakak sangat bersyukur karena sekarang kakak udah nemuin kamu dan memiliki kamu sebagai istri kakak, sayang," kata Syafiq kemudian mencium pipi kiri Sena yang tepat berada di depan wajahnya.
Cup.
"Kakak,,, jangan bercanda dulu," elak Sena seraya sedikit menjauhkan wajahnya dari Syafiq.
Syafiq terkekeh kecil.
"Iya deh, iya. Maaf."
"Jadi bener, dulu kakak suka sama si Aletta itu tadi?" tanya Sena dengan memicingkan kedua matanya.
"Hehe, harap maklum ya, sayang. Biasa lah, masih jiwa-jiwa anak muda gitu," jawab Syafiq mencoba mencari pembelaan, karena Syafiq mulai mencium bau-bau api cemburu tersulut saat ini.
"Oh, pantes aja, dulu pas waktu kelas 3 SMP itu aku sempat ngerasa kehilangan seseorang yang selalu ada untuk melindungi aku. Ternyata karena ada gadis lain yang sedang dia sukai ya, makanya terus aku ditinggalkan," sindir Sena secara halus.
Syafiq tersenyum canggung. Dia benar-benar merasa sangat bersalah. Ya, apa yang dikatakan oleh Sena itu adalah benar. Waktu itu Syafiq memang sempat teralihkan selama beberapa bulan. Syafiq jadi melupakan kebiasaannya untuk mengawasi dan melindungi Sena. Karena Syafiq sibuk dengan usahanya untuk mendekati Aletta.
Entah kenapa ada perasaan sesak yang dirasakan oleh Sena saat ini. Apalagi melihat keterdiaman suaminya itu, yang tidak mencoba untuk mengelak. Dengan kata lain, Syafiq membenarkan semua yang Sena katakan tadi. Seketika wajah Sena berubah sendu. Ada rasa sesak dan perih yang Sena rasakan di dalam hatinya. Ya, Sena akui Sena sedang cemburu saat ini.
"Huft,,," Sena membuang nafasnya kasar. "Kepala aku agak pusing. Aku ijin pulang duluan ya, kak."
Sena kemudian melepaskan secara paksa kedua tangan Syafiq yang melingkar di perutnya. Sena pun segera berdiri, bangun dari pangkuan suaminya itu.
__ADS_1
"Kamu pusing, sayang? Kakak anterin pulang, ya," kata Syafiq seraya memegangi tangan kiri Sena, menghentikan langkah istrinya itu yang ingin segera pergi.
"Nggak usah. Kerjaan kakak kan masih banyak. Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Sena.
Sena kemudian menarik tangannya lalu segera berbalik dan pergi meninggalkan ruangan Syafiq tersebut.
"Sayang," panggil Syafiq seraya berdiri kemudian mengejar langkah istrinya yang sedikit terburu-buru itu.
'H**aish, dasar cewek. Dia sendiri tadi yang maksa-maksa buat cerita, katanya juga nggak bakalan marah. Tapi nyatanya apa, tetep marah juga kan. Hadeh, nasib-nasib,' keluh Syafiq di dalam hatinya.
πΊπΊπΊ
Ega dan Alvin yang masih termenung tiba-tiba saja dikejutkan dengan pintu ruangan Syafiq yang kembali terbuka. Sena keluar dari ruangan Syafiq. Tidak lama kemudian Syafiq pun juga menyusul di belakangnya.
"Eh, ada kak Alvin juga," sapa Sena.
"Hai, Sen," Alvin balas menyapa Sena.
"Hai juga, kak. Loh, Naura mana kak?" tanya Sena kepada Ega.
"Lagi ke bawah nganterin tamu kita tadi," jawab Ega, sengaja tidak menyebutkan nama Aletta lagi.
"Oohhh," balas Sena seraya membereskan meja kerjanya.
Ega dan Alvin nampak mengerutkan keningnya melihat Sena beres-beres. Namun tatapan mata Syafiq yang mengisyaratkan mereka untuk diam, akhirnya mengurungkan niat mereka berdua untuk bertanya.
"Kak, tolong nanti bilangin ke Naura, ya. Kepala aku pusing, jadi aku ijin pulang duluan," pesan Sena kepada Ega.
"Kalau gitu aku pamit duluan ya, kak. Duluan ya kak Alvin," pamit Sena kepada Ega dan Alvin.
"Iya, Sen," balas Ega dan Alvin bersamaan.
"Ga, Vin, gue pulang juga ya. Tolong masalah kantor kalian handle dulu. Kalau ada apa-apa kalian bisa hubungi gue," pamit Syafiq juga.
"Baik Bos."
"Oke deh, Fiq."
Lagi-lagi Ega dan Alvin menjawab bersamaan.
"Assalamu'alaikum," salam Sena dan Syafiq.
"Wa'alaikumsalam," jawab Ega dan Alvin.
Tidak ingin berdebat di hadapan Ega dan Alvin, akhirnya Sena pun membiarkan Syafiq pulang bersama dirinya. Sena dan Syafiq kemudian berjalan beriringan menuju ke arah lift khusus direksi.
Setelah kepergian Sena dan Syafiq, Ega dan Alvin saling melempar pandangan. Melihat Alvin yang menggelengkan kepalanya beberapa kali, Ega pun hanya bisa mengesah pelan. Saat ini keduanya hanya bisa mendo'akan semoga rumah tangga Sena dan Syafiq akan baik-baik saja.
__ADS_1
πΊπΊπΊ
Sesaat sebelum jam pulang kantor, Sean datang berkunjung ke perusahaan Syafiq. Ada beberapa masalah proyek yang perlu untuk mereka bahas bersama-sama.
"Assalamu'alaikum, Ga. Syafiq ada kan?" salam Sean sekaligus bertanya kepada Ega.
"Eh, wa'alaikumsalam Bos," balas Ega seraya berdiri dari duduknya. "Maaf Bos, tapi Bos Syafiq sedang tidak ada di ruangannya saat ini."
"Hmh, Syafiq kemana emangnya?" tanya Sean lagi.
"Tadi Sena bilang kepalanya pusing, Bos. Jadi Bos Syafiq pamit pulang lebih awal bersama Sena," jawab Ega.
Sean bisa menangkap gelagat kegelisahan Ega.
"Ada apa, Ga? Ada masalah apa sebenarnya?" tanya Sean to the point.
Ega semakin gelisah, bingung harus menjawab bagaimana.
"Itu Bos ---"
"Bang Sean," panggil Alvin tiba-tiba seraya melangkah dengan lebar untuk menghampiri Sean.
Ega sedikit bernafas lega, terhindar dari pertanyaan sulit Sean tadi untuk sesaat.
"Vin," balas Sean.
Alvin berdiri di hadapan Sean. Sesaat, Alvin dan Ega saling bertukar pandangan. Dan hal tersebut tidak luput dari perhatian Sean.
"Ada apa sebenarnya,Vin?" tanya Sean menyelidik.
"Aletta balik, Bang. Dia tadi kesini," jawab Alvin lirih.
"Astaga. Sena tau?" tanya Sean lagi.
"Iya, Bang," jawab Alvin.
"Cerita itu?"
"Sepertinya juga udah, Bang."
"Ceritain semuanya ke Abang, Vin, Ga," pinta Sean kepada Alvin dan juga Ega.
Alvin dan Ega kemudian bersama-sama menceritakan semua yang terjadi tadi kepada Sean, saling melengkapi cerita satu sama lain.
"Yaa Allah," keluh Sean setelah Alvin dan Ega selesai bercerita. "Ujian apalagi ini? Kenapa harus sekarang sih dia balik?"
"Itu juga yang tadi sempat gue pikirin sama Ega, Bang," imbuh Alvin.
__ADS_1
"Hmh, kita hanya bisa ikut mendo'akan saja saat ini. Semoga rumah tangga Syafiq dan Sena baik-baik saja. Semoga mereka bisa menghadapi ujian rumah tangga mereka yang selanjutnya ini dengan baik," do'a Sean tulus.
"Aamiin," balas Alvin dan Ega ikut meng-amin-kan.