
Sena yang hendak memasuki dapur produksi di toko kue milik Safa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya begitu mendengar suara obrolan pegawai di dalam dapur produksi tersebut.
"Bu Sena sama Bu Safa nikahnya bukannya duluan Bu Sena, ya?" tanya salah satu pegawai.
"Iya, duluan Bu Sena. Selisih tiga bulan kalau nggak salah. Kenapa emangnya?" jawab pegawai yang lain sekaligus bertanya balik.
"Enggak. Cuma kepikiran aja. Bu Safa aja yang nikahnya belakangan malah udah hamil loh. Kok Bu Sena yang nikahnya lebih dulu malah belum, ya? Apa jangan-jangan ada masalah gitu?" tanya si pegawai pertama.
Deg.
Lagi dan lagi, Sena merasa tertohok mendengar topik pembicaraan tentang kehamilan itu. Bahkan saat ini dari pegawai-pegawai di toko kue milik Safa itu. Mengesah pelan, Sena kemudian menyandarkan tubuhnya pada dinding di dekat pintu masuk dapur produksi.
"Sssttt. Hati-hati kalau ngomong. Jangan menduga yang enggak-enggak deh," tegur pegawai yang kedua tadi.
"Apa sih? Kan cuma ngobrol juga. Nggak ada niatan aneh-aneh kok," kata si pegawai pertama membela diri.
"Iya, tapi nggak usah ngomongin masalah itu juga. Itu bukan urusan kita. Jadi kita jangan ikut campur," tegur si pegawai kedua lagi.
"Siapa yang mau ikut campur sih? Kan cuma cari bahan buat ngobrol aja," si pegawai pertama masih membela diri.
"Kalau gitu cari bahan obrolan yang lain. Udah-udah, buruan kita selesai-in dulu kerjaan kita ini. Jangan ngobrol mulu. Ketahuan Pak Dodi bisa dimarahin kita," kata pegawai kedua mengingatkan.
"Iya-iya," akhirnya si pegawai pertama pun mengalah.
Tanpa disadari ternyata ada setetes air mata yang mengalir di pipi Sena. Sena segera menghapus air matanya itu. Membuang nafas pelan, Sena kemudian berbalik meninggalkan dapur produksi tersebut.
__ADS_1
Sena kembali ke dalam ruangannya dan Safa. Nampak Safa yang masih berkutat dengan nota-nota di depannya. Sena tau dirinya sedang tidak baik-baik saja. Tidak ingin membuat Safa dan yang lainnya terkena imbas akibat perasaannya, akhirnya Sena pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.
"Sa, kakak agak nggak enak badan nih. Kakak ijin pulang duluan nggak pa-pa, ya," kata Sena meminta ijin kepada Safa.
Safa yang terkejut segera mengalihkan perhatiannya kepada Sena.
"Kak Sena sakit?" tanya Safa khawatir.
"Enggak kok. Cuma agak pusing aja. Kayaknya mau masuk angin deh," jawab Sena mencari alasan.
"Ya udah kalau gitu kakak pulang duluan aja terus langsung istirahat. Mau Safa telponin kak Syafiq?"
"Nggak usah, Sa. Kak Syafiq pasti lagi repot. Kakak masih bisa kok pulang sendiri."
"Ya udah kalau gitu. Kakak hati-hati ya."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati ya, kak."
Sena menganggukkan kepalanya seraya tersenyum. Sena kemudian mengambil tasnya lalu pergi meninggalkan ruangan kerjanya tersebut.
πΊπΊπΊ
Sena yang baru saja selesai melaksanakan sholat Maghrib kemudian berdzikir, saat ini sedang mengangkat kedua telapak tangannya. Menengadah, memohon kepada Allah SWT melalui lantunan do'a-do'anya.
"Yaa Allah, Yaa Rohman, Yaa Rohim... Hanya kepada-Mu lah hamba-Mu ini memohon pertolongan. Hanya kepada-Mu lah hamba-Mu ini meminta. Yaa Allah, hamba memohon dengan sangat kepada-Mu, tolong berikanlah kepercayaan kepada hamba-Mu ini untuk bisa mengemban amanah dari-Mu melalui seorang anak. Yaa Allah, Yaa Rohman, Yaa Rohim, Engkau lah Dzat yang Maha Berkehendak atas segala sesuatu. Hamba memohon kepada-Mu berikanlah hamba-Mu ini kemuliaan itu untuk bisa mengandung dan merasakan menjadi seorang wanita yang sempurna. Atas izin dan kehendak-Mu, berikanlah kemudahan kepada hamba-Mu ini, Yaa Allah. Hamba ingin melanjutkan garis keturunan untuk suami hamba. Hamba ingin untuk bisa membahagiakan suami hamba dan juga seluruh keluarga besar kami. Oleh karena itu hamba memohon kepada-Mu Yaa Allah, berikanlah hamba-Mu ini kemuliaan itu. Berikanlah hamba-Mu ini kesempatan untuk bisa mengandung dan merasakan menjadi seorang wanita yang sesungguhnya, Yaa Allah,,, hiks hiks..."
__ADS_1
Terlarut dalam do'anya, air mata Sena pun tanpa sadar sudah mengalir menganak sungai. Bahkan tanpa Sena sadari, ternyata Syafiq yang baru saja pulang dari kantor pun juga sudah berdiri di belakangnya. Syafiq menghapus setetes air mata yang mengalir turun tanpa ijin di pipinya. Syafiq sangat bisa memahami apa yang sedang dirasakan oleh istrinya itu.
Menarik nafasnya dalam, Syafiq berusaha menguatkan dirinya sendiri, agar dia juga bisa menguatkan istrinya yang sedang rapuh itu.
"Assalamu'alaikum," salam Syafiq lembut.
Sena yang masih hanyut dalam tangisannya itupun sedikit terkejut. Segera ditengoknya ke belakang tubuhnya.
"Kak... Wa'alaikumsalam. Kakak udah pulang?" jawab Sena kaget, Sena kemudian menghapus air mata di pipinya dengan terburu-buru.
Syafiq berjongkok di depan istrinya itu.
"Kenapa menangis, sayang?" tanya Syafiq seraya menangkup kedua pipi Sena.
"Ah, enggak kok, kak. Cuma nggak sadar aja tadi, terlalu larut saat berdo'a," jawab Sena berkilah seraya menunjukkan senyuman manisnya.
Syafiq menarik Sena ke dalam pelukannya.
"Kamu nggak bisa membohongi kakak, sayang. Menangislah kalau itu bisa membuat hatimu merasa lega. Tapi hanya kali ini saja. Okey?"
Mendengar perkataan Syafiq tersebut, Sena pun akhirnya menumpahkan tangisannya di dalam pelukan suaminya itu. Sena meluapkan semua kegelisahan dan kekhawatirannya melalui tangisannya sampai sesenggukan.
Hati Syafiq rasanya ngilu, rasanya seperti disayat-sayat, mendengar tangisan Sena yang seperti itu. Berkali-kali diusapnya lembut kepala istrinya itu, mencoba menenangkan hati istri cantiknya itu.
"Kamu kuat sayang, kakak tau itu. Kita sama-sama berusaha lebih keras lagi ya. Semoga Allah SWT segera mengabulkan semua do'a dan permohonan kita, aamiin," kata Syafiq.
__ADS_1
"Iya, kak. Aamiin," lirih Sena di dalam pelukan Syafiq.