
Seperti yang sudah mereka bicarakan sebelumnya, akhirnya Sena pun mulai ikut bekerja membantu di toko kue milik Safa untuk mengurusi masalah pembukuan di komputer dan juga pengiklanan melalui online.
Sudah satu bulan Sena ikut bekerja membantu di toko kue milik Safa. Dan alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar. Sena langsung bisa menguasai dan menjalankan pekerjaannya dengan baik. Dan setelah Sena ikut bergabung, toko kue milik Safa juga perlahan-lahan mulai kembali stabil bahkan meningkat sedikit demi sedikit omset penjualannya karena pengiklanan yang lebih gencar dan kreatif yang dilakukan oleh Sena.
Seminggu dua kali Sonia juga pasti datang ke toko kue milik Safa tersebut. Kadang bersama dengan Sheila juga. Sekedar berkunjung atau ikut membantu hal-hal kecil yang sekiranya bisa mereka bantu.
Seperti siang ini, Sheila dan Sonia juga datang berkunjung ke toko kue milik Safa, sekaligus membawakan makan siang untuk Sena dan Safa.
"Assalamu'alaikum," sapa Sheila dan Sonia seraya membuka pintu ruangan kerja Sena dan Safa.
"Wa'alaikumsalam," jawab Sena dan Safa bersamaan.
"Bunda," lagi-lagi Sena dan Safa berucap bersamaan begitu melihat Sheila yang datang.
Sena dan Safa kemudian bangun dari kursi kerjanya masing-masing dan berjalan menghampiri Sheila. Keduanya lalu mencium punggung tangan kanan Sheila dan juga saling berciuman pipi kanan dan kiri dengan bundanya itu.
"Ada aku juga loh," protes Sonia.
"Hehe, maaf So nggak kelihatan. Ketutupan sama Bunda tadi," canda Safa.
Mereka pun kemudian tertawa bersama-sama.
"Mari masuk Bun, Mbak Sonia," kata Sena mempersilahkan.
Sheila dan Sonia menganggukkan kepalanya. Mereka berempat kemudian duduk di sofa yang terdapat di dalam ruang kerja Sena dan Safa tersebut.
"Kalian berdua pasti belum makan siang kan? Nih Bunda tadi udah masakin buat makan siang kita berempat," kata Sheila seraya mengeluarkan beberapa kotak makanan yang sudah dia bawa dari rumah.
Sonia, Sena, dan Safa refleks langsung membantu Sheila menata semua makanan yang dia bawa itu ke atas meja.
"Wah, semur daging, kesukaan aku," girang Safa dengan mata yang berbinar-binar melihat ada makanan kesukaannya di atas meja.
__ADS_1
"Bunda sengaja masakin buat kamu, sayang. Ini ada capcay udang juga, kesukaan kamu kan Sen?" balas Sheila sekaligus bertanya kepada Sena.
"Iya Bun. Makasih banyak ya, Bun," jawab Sena.
"Sama-sama, sayang. Dan juga ada sambal teri kacang kesukaannya Sonia. Tenang aja, Bunda udah buat yang nggak begitu pedas kok, jadi aman untuk kandungan kamu, sayang," kata Sheila lagi.
"Subhanallah. Makasih banyak, Bun. Bunda emang terbaik deh. Paling tau makanan kesukaan kita," puji Sonia.
"Iya nih. Bunda tau aja kalau semenjak tinggal bareng sama Opa dan Oma aku tuh kangen banget sama semur daging buatannya Bunda. Makasih ya, Bun," kata Safa juga.
"Sama-sama. Kalian bertiga kan putri kesayangan Bunda, jadi wajar dong kalau Bunda tau apa makanan kesukaan kalian," balas Sheila.
"Aaahhh, sayang Bunda banyak-banyak," kata Safa yang kemudian langsung memeluk Sheila dari samping.
"Dasar kamu itu, putri Bunda yang paling manja," ledek Sheila seraya tersenyum.
"Biarin," balas Safa tidak perduli.
"Udah-udah. Sekarang kita makan siang bareng-bareng yuk," ajak Sheila.
Safa kemudian melepaskan pelukannya.
"Iya Bun," Sonia, Sena, dan Safa pun menjawab bersamaan.
Mereka berempat kemudian makan siang bersama. Sesekali juga terdengar tawa kecil dari mereka, akibat dari aksi saling menggoda mereka satu sama lain.
πΊπΊπΊ
Selesai makan siang bersama, Sheila kemudian mengajak ketiga putrinya itu untuk masuk ke dapur produksi di toko kue tersebut. Ada sebuah resep kue baru yang akan dibuat oleh Sheila. Dan Sheila ingin meminta pendapat dari ketiga putrinya itu. Sheila juga berharap resep barunya ini bisa menjadi menu baru di toko kue Safa nantinya.
Dengan cekatan Sheila mulai membuat kue. Sonia, Sena, Safa, dan juga Pak Dodi, kepala koki di toko kue Safa, memperhatikan dengan seksama semua yang dikerjakan oleh Sheila dan juga penjelasan-penjelasan yang diberikan oleh Sheila.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian, kue baru buatan Sheila pun sudah selesai dipanggang di dalam oven.
"Tadaaa, ini dia coklat cake almond terbaru buatan Bunda," kata Sheila dengan bangga seraya mengangkat sepiring coklat cake almond yang sudah selesai dia hias.
"Wuahhh, cantik banget Bun," puji Safa.
"Hmm, baunya juga harum banget," puji Sonia juga setelah menghirup aroma kue tersebut.
"Coba kalian cicipi, terus kasih tau Bunda gimana pendapat kalian. Mungkin ada yang kurang, jadi nanti bisa kita tambahin ke dalam resepnya," kata Sheila.
Sonia, Sena, Safa, dan Pak Dodi kemudian mencicipi kue buatan Sheila tersebut.
"Mmm, ini sih udah enak banget, Bun. Nggak ada yang kurang," komentar Safa setelah mencicipi kue Sheila.
"Iya Bun, ini sih udah enak banget," puji Sena juga.
"Gimana menurut Pak Dodi?" tanya Sheila kepada Pak Dodi.
"Manisnya sudah pas, Bu. Kuenya juga lembut dan rasanya juga enak. Cocok sekali untuk menu baru di toko kue kita ini," jawab Pak Dodi.
"Syukurlah kalau begitu," balas Sheila lega.
Sheila, Sonia, Sena, dan Safa kemudian keluar dari dapur produksi, hendak kembali ke ruangan Sena dan Safa. Tetapi baru saja mereka berempat keluar dari pintu dapur tiba-tiba saja Safa menghentikan langkahnya.
Safa nampak mengerutkan kening seraya memegangi kepalanya dengan tangan kanan. Sena yang berdiri di belakang Safa pun ikut menghentikan langkahnya. Sena bisa melihat tubuh Safa yang mulai terhuyung. Beruntung Sena dengan sigap dapat segera menangkap tubuh Safa yang tiba-tiba saja jatuh melemas.
"SAFA!!!" pekik Sena seraya menangkap tubuh Safa yang sudah tidak sadarkan diri.
Sheila dan Sonia yang terkejut pun segera membalikkan tubuh mereka. Dan betapa terkejutnya mereka berdua ketika melihat Safa sudah dalam keadaan pingsan di dalam pelukan Sena.
"Astaga, Safa,,," teriak Sheila dan Sonia.
__ADS_1