
"Bu, ngapain ibu ngomong seperti itu ke Bu Nunung?" kata Erna setelah mereka sampai di rumah.
"Ibu hanya gak tahan kamu dikatai seperti itu, Nak.
"Tapi gak gitu juga BU. Itu sama aja ibu meng iyakan fitnahan Bu Nunung padaku."
"Maafkan ibu, Nak.''
"Sudah Bu, Aku hanya gak mau lihat ibu diperlakukan kayak gitu tadi.'' ucap Erna.
"Meski hidup kita seperti ini, tapi jangan ada yang merendahkan kita seperti kita hidup dari tangan mereka.'' tambah Erna masih dengan keadaan kesal.
Ibu dan anak itu saling berpelukan menguatkan hati masing masing.
"Bu, aku lapar.'' ucap Erna di sela sela pelukannya.
"Ya udah mari kita makan.'' kata ibunya mengajak.
Mereka berdua duduk di meja bundar tua miliknya. Menikmati nikmatnya sayur lodeh dan ikan asin masakan sang ibunya.
"Bu, tadi Bu Disa kenapa dikejar anjing?'' tanya Erna disela sela suapannya.
"Oh, ya. Itu karena dia terlalu kepo sama tetangga sebelah. Niatnya mau nguping, eh masuk kandang gukguk. Mana gukguknya jahat lagi, ya udah dikerjar dah itu dikira pencuri.'' tutur Idah.
Mendengar cerita sang ibu, Erna tertawa terbahak bahak. Astaga, sampai segitunya kah mereka mencari informasi? Keberanian mereka sudah sama dengan para petugas menara sutet. Harus diberi penghargaan oleh pemerintah setempat.
"Nyuci piringnya nanti aja, Nak. Ibu mau istirahat dulu ya.''
Tak seperti biasanya habis makan Idah langsung tidur. Biasanya ia akan menonton tv dulu, tetapi hari ia langsung tidur. Gadis itu tahu ibunya merasa sakit hati atas kejadian tadi tetapi ia tak mau menceritakannya pada Erna. Erna mengerti dan membiarkan ibunya menenangkan dirinya dulu.
Setelah Erna mencuci piring, dan merapihkan meja makan, Dia beralih ke jemuran. Dia membalik balikkan jemurannya yang tadi pagi agar cepat kering. Setelah itu dia bersantai di depan, di bawah pohon mangga. Angin yang sejuk membuatnya mengantuk dan tertidur.
"Ernaaaa, Bangun Nak.''
BAru saja Ia nyenyak dan masuk ke alam mimpi namun sang ibu menyadarkan dari mimpi indahnya itu yang disiang bolong itu.
"Kenapa sih, Bu?'' tanya Erna kaget.
"Bangun dulu Nak, di depan ada yang berkelahi,'' kata ibunya.
"Hah, berkelahi?''
Benar. dari tempat dia duduk saat ini ada sudah terdengar suara ribut ribut di depan.
"Siapa yang kurang kerjaan di siang bolong gini sih, Oranng lagi tidur malah membuat keributan!'' gerutu Erna.
"Yuk kita lihat ke depan.'' ajak Idah.
Dengan rasa malas tetapi kepo juga Erna bangkit dan mengikuti Idah ke depan.
"Hey, dasar pelakor, Masih kecil udah berani ya!''
"Aku bukan pelakor, Kamu saja yang sudah tidak menarik lagi makanya suamimu lebih memilih aku!''
__ADS_1
Teriakan demi teriakan terdengar dari luar sana. Entah siapa itu, yang pasti ada yang sudah menjadi pelakor disini.
Erna dan ibunya lebih memilih menonton dari teras depan saja karena sudah kelihatan.
Wah wah wah..... Ternyata oh ternyata ada yang kena labrak selingkuh dengan laki orang. Huh, jaman sekarang memang lagi tenar tenarnya pertumbuhan pesat pelakor. Kira kira siapa yang jadi pelakor ya? Eh, tapi kok ramainya di depan rumah di Rani. Upss, jangan jangan si rani lagi, karena profesinya kan gak beda tipis sama pelakor. Wah, padahal Erna barusan diancam sama dia untuk tidak membocorkan rahasia pekerjaannya. Tanpa diminta pun Erna tak tertarik ikut campur.
Rumag Rani semakin ramai kedatangan para tetangga. Tak lupa kehadiran para pemburu berita alias ibu ibu julid. Mereka nampak antusias sekali dengan kejadian di rumah Rani itu.
"Akhirnya ketahuan juga,'' ucap Erna tidak sengaja.
"Hah? Ketahuan apa Er?'' tanya Idah.
"Tuh, si Rani ketahuan selingkuh sama laki orang.'' ujarnya.
"Lah, kok kamu tahu Er?'' tanya Ibunya kaget.
"Itu kan tadi kedengaran teriak nyebut pelakor, Bu.'' jawab Erna ngeles agar sang ibu tidak penasaran lagi.
"Tapi kan belum tentu si Rani. Anaknya baik dan polos gitu, mana mungkin menjadi pelakor.'' kata Idah dengan masih tidak percaya.
"Bu, jaman sekarang mau pelakor gak kenal umur!'' ujar Erna.
"Ih, kamu mah pikirnya yang gak benar.''
"Lagian Bu, kerjaan si Rani itu menjadi wanita panggilan.'' ujar Erna setengah berbisik.
"Hah!'' Idah sangat terkejut dengan perkataan Erna. "Yang benar kamu Er? Jangan fitnah loh.''
"Hotel tempat kamu kerja?''
Erna mengangguk, membenarkan pertanyaan Idah. Sedangkan ibunya hanya bisa geleng geleng kepala. Jaman sekarang lagi musim pelakor. Dimana mana ada aja berita atau cerita tentang pelakor. Huh,ini sih sangat meresahkan tetapi mereka menyebar sama cepat dengan virus covid 19.
Terdengar wanita itu masih berteriak di depan rumah Rani. Ia mengeluarkan semua jenis cacian dan emosi untuk meluapkan sakit hatinya. Sedangkan si Rani juga terdengar tak mau kalah. Ah, dasar wanita sinting. Sudah salah malah masih melunjak. Ibu ibu yang lain malah makin terlihat tegang menyaksikan tontonan seru nan gratis itu.
"Hey, Idah, kamu gak ikutan nonton? Seru tau,'' ajak Bu Mirna.
"Gak, Na, Saya nonton dari sini aja.'' jawab Ibunya.
"Lebih dekat lebih seru,'' katanya dengan senang.
Dirikiranya itu pertunjukan ondel ondel apa sehingga semakin seru. Dasar ibu ibu otak somplak.
Tin.....Tin.....Tinnn.....
Sebuah mobil mewah mengejutkan para ibu ibu yang sedang berdiri di bahu jalan. Serentak mereka minggir sambil tetap mengawasi siapa yang berada di dama mobil itu. Jiwa kepo mereka memang selalu ada di setiap kondisi.
Tak lama keluarlah seorang lelaki yang tidak muda juga tidak tua.
"Itu lelaki pertama yang kulihat dihotel saat kejadian pagi itu di hotel.'' batin Erna.
"Wih, keren dahh.'' ujar para ibunya.
Astaga Idah malah terpana dengan lelaki itu.
__ADS_1
"Bu, lelaki itu yang aku lihat di hotel bersama dengan Rani.'' kata Erna langsung dikala ibunya mengatakan hal seperti itu.
"Seriusan kamu Er?"
"Iya, Bu.''
"Pantas saja istrinya ngamuk, suaminya keren gitu. Kalau ibu sih juga bakal ngamuk karena gak rela.'' ucap Idah dengan masih memperhatikan.
"Hahahaha, Ibu ada ada aja deh,''
Lelaki itu segera masuk ke dalam rumah dan beberapa saat kemudian ia keluar kembali dengan menyeret seorang wanita. Wanita itu berteriak berusaha melepaskan diri dari lelaki itu.
"Lepasin aku, Mas. Aku mau buat pelajaran untuk pelakor kecil itu!'' ucap wanita yang mungkin istrinya.
"Cantik juga ya, Bu.'' kata Erna sama ibunya disaat melihat wanita itu.
"Ho oh cantik, mana lagi hamil pula,'' kata Idah.
Ya benar, wanita itu dalam keadaan hamil tetapi suaminya sangat kasar.
"Pulang yah, jangan buat malu disini. Aku bisa jelaskan semuanya.'' ujar si lelaki itu.
"Jelaskan sekarang juga, Mas! Aku butuh kejelasan darimu dan dari wanita itu,'' katanya sambil meronta.
"Kubilang pulang!''
Astaga, kasar sekali dia pada istrinya.
"Mas Astar?,'' Rani berteriak dari pintu rumahnya.
Sungguh tak tahu malu si Rani itu, masih punya muka juga memanggil suami orang.
"Apa kau pelakor!'' hardik sang istri.
"Ayo pulang Nanda, kau sedang hamil.'' ujar lelaki itu membawa istrinya masuk ke dalam mobil.
Setelah itu mereka langsung pergi begitu saja meninggalkan gang ini yang sempat heboh.
Para ibu ibu masih belum bubar juga padahal tontonan sudah selesai. Rupanya mereka masih ingin menggali lebih dalam mengenai kasus si Rani. Suara mereka bergosip macam lebah madu.
"Gila ya si rani, dikira anak baik baik, Eh ternyata dia suka main sama laki orang.'' ujar Bu Disa.
"Kayak gak tahu anak jaman sekarang aja.'' tambah Bu Nunung tetapi matanya melirik ke arah Erna.
"He, eh kelihatannya saja alim, padahal kelakuannya hanya sang pencipta yang tahu,''' balas Bu Fira.
"Bu, ayo masuk.'' ajak Erna yang sudah tidak tahan dengan ocehan ibu ibu itu.
"Heh, sepertinya ada yang tersinggung.'' tambah Bu Disa.
"Iya, mungkin pas yah.'' sahut Bu Nunung.
Ingin sekali Erna meremas mulut mereka pakai cabe biar tambah dower.
__ADS_1