Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 12


__ADS_3

Tapi.......


Bukannya Rani banyak uang ya harusnya? Ia kan selingkuh dengan orang kaya, pasti punya uang simpanan yang ia tabung.


"Bu, ingat ya uang segitu banyak loh. Entar kalau Rani gak mau balikin gimana?" ujar Erna ragu.


"Tapi dia udah janji sama ibu untuk dikembalikan secepatnya, Nak." jawab ibunya.


"Dikembalikan dengan uang haram hasil memeras laki orang?" kata Erna mencibir.


"Astaga, Erna. Jangan bicara seperti itu." ibunya mengingatkan.


Erna yang malas menanggapi berjalan meninggalkan ibunya sendiri di dapur. Lebih baik ia menonton tv saja daripada emosi dengan sikap kebaikan ibunya. Semoga aja uang itu cepat dikembalikan sebab itu uang tabungan gadis itu untuk membeli motor.


"Permisi, selamat malam."


Erna melihat ke arah ruang tamu. Sepertinya ada yang datang.


"Iya siapa?" sahutnya sebelum membuka pintu.


"Saya, Raffi." jawabnya.


Erna langsung membuka pintu dan benar saja ada Rafi di sana.


"Eh, ada apa ya?'' tanya Erna ramah.


"Ini Er, apa ibu kamu ada?" tanyanya sopan.


"Ada. Lagi masak di dapur. Sebentar aku panggilin dulu. Kamu duduk aja." kata gadis itu dan berlalu kebelakang.


"Baik Erna," jawabnya.


Erna langsung ke dapur dan mendapati ibunya sedang menuangkan rendang itu kedalam wadah.


"Bu, ada Rafi di depan. Katanya mau ada perlu sama ibu." katanya.

__ADS_1


"Oh, iya." jawab Ibunya dan langsung menuju ke depan.


Erna langsung meletakkan rendang itu di atas meja lalu menyusul ibunya ke depan.


"Bu, maaf saya mengganggu. Saya mau tanya, apa tadi Rani kesini meminjam uang?" tanya Rafi.


Loh.... loh... Ada apa ini? Apakah Rani meminjam uang tanpa sepengetahuan Kakaknya Rafi?


"Iya benar, Nak. Rani kesini meminjam uang berobat ibu kalian yang katanya gak sadarkan diri." jawab Idah.


Seketika wajah Rafi tampak pucat pasi.


"Berapa banyak yang ia pinjam, Bu?''


"Empat juta, Nak." jawab Idah.


Seketika Rafi menyugar rambutnya kasar.


"Ia tega untuk menjual ibu untuk meminjam uang, sungguh keterlaluan," ucap Rafi.


"Gak, Bu. Tadi saat pulang dari rumah sakit bersama ibu, saya di kasih tahu sama ibu disebelah yang kemarin dikejar anjing saya," katanya.


"Jadi ibumu sudah pulang?'' tanya Erna yang juga kaget.


"Iya, Ern. Syukurnya ibu sudah pulih dan tidak perlu di rawat inap. Tapi kaget lagi katanya Rani meminjam uang kesini." ucapnya.


"Berarti kami ditipu dong, Uangnya banyak loh Rafi." kata Erna sedikit marah.


"Tuh kan, Bu. Aku bilang juga apa? Jangan dikasih pinjam ke Rani. Lihat sekarang kita ditipu," ujarnya.


"Ibu masih gak tau, Nak. Ibu kasihan saja karena ia memintanya dengan wajah sedih." jawab ibunya.


"Saya minta maaf atas kelakuan adik saya." ucap Rafi.


"Jangan hanya minta maaf, tapi tolong secepatnya dikembalikan." ketus Erna.

__ADS_1


"Iya, Ern. Aku akan usahakan mengembalikan uang itu." jawab Rafi menatapnya.


Erna benar benar marah dengan kelakuan Rani. Baru saja menjadi tetangga sehari, ia malah sudah berani menipu mereka. Idah sudah takut melihat ke arah Anaknya semata wayangnya itu karena wajahnya sudah marah. Begitu pula si Rafi yang hanya bisa menunduk malu dengan kelakuan adiknya.


Entah digunakan untuk apa uang hasil pinjamannya itu.


"Bu, aku pamit pulang dulu ya. Aku janji secepatnya kaan mengembalikan uang yang dipinjam Rani." katanya sedikit menundukkan kepalanya.


"Baik, Nak." jawab Idah dengan ramah dan sedikit kasihan.


Erna dan Ibunya mengantarkan Rafi hingga ke teras. Namun, Erna begitu terkejut melihat Rani yang turun dari taksi sambil menenteng berbagai macam tas dan barang belanjaan.


"Rani! Keterlaluan kamu!" bentak Rafi.


"Kak Rafi?'' matanya membulat terkejut melihat kakaknya.


Dengan cepat Rafi menghampiri Rani yang masih kaget itu.


"Dari mana kamu?!"


"Aa---aku dari----" ucapnya terbata.


"Kamu minjam uang ke ibunya Erna untuk ini?!" tunjuknya marah ke barang belanjaan Rani.


"Eng---enggak, Kak." jawabnya masih terbata menatap kakaknya itu.


"Kamu masih bisa bohong? Puas kamu melihat ibu stroke? Dan kamu menjual nama ibu untuk meminjam uang? Dimana hati kamu Rani?'' kata Rafi dengan sangat marah.


"Aku gak bisa hidup susah, Kak. Kalau saja Kakak bisa kasih aku semua hal yang aku mau, aku gak akan begini," jawabnya.


Mereka tak lagi peduli berkelahi di luar rumah seperti ini dan menjadi bahan tontonan tetangga.


Rafi yang sadar sudah menjadi bahan tontonan tetangga memilih untuk masuk ke dalam rumah. Sedangkan Rani, ia masih berdiri menatap ke arah Erna.


"Awas kamu, Erna!" hardiknya lalu mengikuti Rafi untuk masuk.

__ADS_1


Lah, kenapa lagi dengannya???


__ADS_2