Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 37


__ADS_3

Pagi hari kembali menyapa gadis itu, hari ini dia tak bangun sepagi biasanya. Dia langsung merapihkan tempat tidurnya lalu beranjak untuk mencuci muka.


"Selamat pagi, Bum" sapanya.


"Pagi, Nak." balas ibunya.


Wangi masakan ibunya tercium sampai menggelitik perutnya yang sudah minta diisi.


"Ibu masak apa? Wanginya menggoda sekali," kata Erna sembari mendekati ibunya.


"Ibu masak nasi goreng spesial dengan ayam goreng dan perkedel tahu untuk anak ibu." ujarnya tersenyum.


"Wah, bisa gendut nih anak ibu tiap hari makannya enak terus," kata Erna.


"Kita harus makan enak, Nak. Biar otak kita jalan. Kalo makan angin nanti kesumbat," celetuk ibunya.


"Hahaha, ada ada aja ibu." jawab Erna sambil tertawa.


Ibu dan anak itu sarapan dengan banyak canda tawa hari ini. Mereka sudah berjanji untuk tetap kuat apapun yang terjadi.


Setelah sarapan, Erna membantu ibunya terlebih dahulu sebelum pergi mengantar lamaran. Erna menyapu halaman dan menyiram bunga yang sedang bermekaran.


"Gak kerja kamu, Erna?" tanya Bu Disa.


"Gak, Bu." jawabnya sambil bersiul.


"Udah resmi pengangguran ya?" sindirnya tanpa beban.


"Kata siapa?'' tanya gadis itu acuh.


"Itu kamu kan udah gak kerja di hotel lagi," ujarnya.

__ADS_1


"Kata siapa?'' tanya Erna lagi.


"Pasti kamu dipecat paksa ya," ujar Disa mulutnya belum mau diam.


"Kata siapa?''


"Ih malas ngomong sama kamu!'' kesal Disa lalu berjalan menjauh dari rumah Erna.


"Hahaha, rasain kubuat jengkel." kata Erna sembari melihat kepergian Disa.


Seusai menyiram bunga, Erna langsung masuk ke dalam dan bersiap untuk berangkat. Gadis itu mandi sambil bernyanyi untuk menghilangkan kegundahan di hatinya.


"Semangat sekali anak ibu."


"Harus dong, Bu." jawab Erna dari kamar mandi.


Pagi itu Erna memilih untuk memakai celana panjang berbahan kain dipadu dengan blouse batik agar terlihat elegan. Setelah bersiap dan memakai sedikit make up, gadis itu lalu keluar dari kamar.


"Bu, Erna pamit dulu ya." katanya sambil memakai sepatunya.


"Iya, Bu. Ibu hati hati di rumah ya."


Erna berangkat menuju tempat les yang hendak dilamar itu, kebetulan ia sudah mencari alamatnya sebelum dia kesana jadi dia tidak perlu bingung lagi untuk mencari cari alamatnya itu. Naik angkot sekali juga langsung sampai.


Erna sebelum berangkat mampir dulu ke warung julid untuk membeli minuman.


"Bu, beli air mineral satu," kata Erna ke pemilik warung tempat ibu ibu berjulid dan bergosip itu.


"Oke, neng cantik. Wihh, udah kerja lagi nih? Kok gak pake seragam lama?'' tanya Bu Asri.


Erna tersenyum menanggapi ibu yang satu itu.

__ADS_1


"Ya kan udah di pecat di tempat lama. Padahal itu tempat milik Bapaknya." ujar Disa yang muncul dan paling sok tahu.


"Lah, terus kenapa dipecat?'' tanya Asri penasaran.


"Mungkin Erna terlalu pembangkang jadi anak," ujar Disa melirik ke arah gadis itu.


"Bu, uang kembaliannya," kata Erna menyadarkan Asri.


"Eh, Maaf Neng. Ini kembaliannya enam belas ribu." katanya sambil memberikan uang pecahan dua ribuan.


"Oke, makasih ya Bu. Aku permisi." ujar Erna.


Erna berjalan kaki ke depan dan menyetop angkot yang lewat. Erna sudah langsung merasa gugup saja meski masih baru di dalam angkot menuju tempat les itu. Erna sempat mencari tahu di internet, dan ternyata tempat les itu cukup terkenal. Biasanya banyak anak kalangan atas yang dibimbing di sana. Gadis itu makin bersemangat tetapi juga gugup takut tak diterima.


Lumayan lama waktu perjalanan dan akhirnya ia tiba di sana. Tempatnya agak masuk ke dalam gang tetapi tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima puluh meter saja.


Sesampainya di depan gerbang, gadis itu bertanya pada satpam yang berjaga.


"Nanti Non lurus aja dari sini ke samping belakang. Di sana sudah ada petugas untuk menyeleksi berkas administrasi," ujar sang satpam.


"Baik, Pak. Terima kasih."


Erna berjalan sesuai arahan dari Pak Satpam. Benar saja, sampai di sana sudah ada sekitar lima orang yang duduk mengantri. Terlebih dahulu, Erna memberikan mapnya kepada petugas lalu dia duduk diurutan ke enam.


Gadis itu benar benar gugup. Dia menghela nafasnya dan dia hembuskan berulang kali agar dirinya merasa tenang.


Semua peserta terlihat tenang dan menunggu namanya dipanggil.


"Atas nama Erna Sulistiawati?"


Namanya di panggil untuk maju ke depan.

__ADS_1


Deg.....deg.... deg....


"Bantu doa ya, biar gadis itu bisa lolos."


__ADS_2