
"Nak, ponselmu bunyi tuh tadi.'' kata ibunya.
Gadis itu langsung mengambil ponselnya yang ada di atas meja lalu membukanya, ternyata itu pesan dari tempat les tadi. Perlahan lahan, Erna membacanya dan Yes, dia diterima menjadi pengajar di sana.
"Bu, Aku diterima jadi pengajar di tempat les itu,'' ujarnya dengan sangat senang dan senyum sumringah terlihat di wajah gadis itu.
"Benar, Nak? Selamat ya. Ibu senang sekali,'' kata ibunya memeluk Erna.
"Makasih, Bu. Udah selalu dukung Erna,''
"Sama sama, Nak. Terus kapan mulai kerjanya?'' tanya ibunya yang sudah tidak sabar.
"Emm, bentra Erna baca lagi pengumumannya.'' jawabnya, "Besok jam dua siang, Bu.'' ujarnya setelah membaca pengumuman itu.
"Iya, Nak. Semoga pekerjaanmu kali ini membawa berkat ya,'' doa ibunya.
"Amin.''
Erna sangat senang, Tuhan menggantikan pekerjaan baru untuknya begitu cepat. Lalu gadis itu teringat akan Naya, apakah dia lolos atau tidak? HArapannya semoga aja lolos karena ia sudah merasa akrab dengannya.
Hay, Nay. Apa kamu sudah mendapat pesan hasil wawancara?
Erna mengirim pesan singkat untuk Naya, untung saja mereka sempat saling tukar nomor.
Tingg....
Hay, Erna. Sudah, aku baru aja dapat pesan dan Aku lolos tahap wawancara dan diterima kerja di sana. Senang bangat, Erna. Kamu gimana?
Pesan dari Naya membuat Erna tersenyum senang.
Wahh, Selamat ya, Nay. Aku juga lolos dan diterima. Kalau begitu sampai jumpa besok di sana
Setelah mengirim pesan balasan untuk Naya, Erna langsung pamit duluan untuk tidur kepada ibunya.
Pukul enam pagi, Erna sudah bangun dan beres beres. Hari ini adalah hari pertamanya bekerja sehingga dia begitu merasa bersemangat. Setelah menyelesaikan rutinitas di dalam kamar mandi, ia langsung menuju halaman untuk menyapu dedaunan yang jatuh.
Sambil bersenandung Erna menyapu dan mengumpulkan dedaunan kering yang berserakan.
"Pagi Sarjana nganggur,''
Perkataan itu sontak membuatnya jengkel.
"Ngapain kamu datang kesini?'' ujar Erna melihat Rani berdiri di depan pagar rumahnya.
"Aku mau ketemu Bu Idah,'' katanya lalu berjalan masuk.
"Ngapain kamu mau ketemu ibuku?'' tanya Erna penasaran.
"Bukan urusanmu!'' ia berkata sembari memanggil ibunya.
"Pagi Bu Idah,'' ujarnya sopan.
Lohhh..... Lohh.... Baik amat, kesambet apa ini anak? Sungguh, saat dengan Erna dia begitu galak sekali, sedangkan pada ibunya ia begitu baik sekali. Dasar memang manusia berkepribadian ganda.
Erna melihat mereka duduk di kursi teras sambil bercakap cakap. Erna tak bisa mendengar karena suara berisik sapu dan dedaunan kering itu. Cukup lama mereka berbincang hingga akhirnya Rani pamit pulang. Saat berpapasan dengannya pun ia tak menyapa dan melongos pergi begitu saja. Erna hanya bisa geleng geleng melihat sikap anehnya.
Setelah menyapu halaman dan menyiram bunga, Ibunya memanggilnya untuk sarapan.
"Bu, si Rani ngapain kesini?'' tanya Erna penasaran.
__ADS_1
"Si Rani bertanya sama ibu, ciri ciri orang hamil muda gimana,''
"Hah? Maksudnya apa, dia nanya begitu ke ibu?'' kata Erna heran.
"Hhmm, Dia curiga jika dirinya sedang hamil muda. Tapi ia belum sempat mengecek, nanti mau ke klinik untuk periksa sama si Rafi,'' jawab ibunya.
"Astaga, mungkin ia masih menekuni dunia gelap itu,'' ujar Erna geleng geleng.
"Tak usah menduga duga aib seseorang, Nak. Sebaiknya kamu sarapan dan bersiap siap berangkat.'' nasihat ibunya.
"Siap Bos.''
Setelah makan Erna langsung membersihkan dapur lalu duduk santai di teras sambil memotong kuku.
"Pagi pagi udah cantik aja, mau kemana Ran?'' tanya Nunung.
"Mau keluar bentar bareng kak Rafi, Bu.'' balas Rani.
Erna duduk dan menyimak tanpa melihat mereka.
"Pagi Nak Rafi,'' sapa Bu Nunung.
"Pagi juga Bu Nunung,'' jawab Rafi.
"Mau kemana kakak beradik ini?''
"Ada urusan bentar keluar bu, permisi,'' ucap Rafi.
Motor mereka perlahan menjauh meninggalkan halam rumahnya.
"Hey Erna,'' panggil Bu Nunung.
"Mana ibumu?'' tanyanya.
"Lagi sibuk. Ngapain nanya?'' jawab Erna sewot.
Erna masih sebal dengan kelakuannya yang membuat ibunya menangis kemarin itu.
"Ibu kesini mau minta maaf,'' ujarnya yag berhasil membuat Erna menoleh ke arahnya.
"Hah? Gak salah tuh?''
"Enggak, Erna. Ibu rasa sudah keterlaluan mengatai ibumu demikian,'' katanya tertunduk.
"Semoga beneran nyesel dan jangan ngulang lagi. Aku sama ibu capek, sakit hati.'' ujar Erna.
Bu Nunung tak mengangkat mukanya sedikit pun dan hanya menunduk.
"Kenapa, Nak? Ngomel ngomel kamu,'' kata ibunya yang muncul dari dalam.
Erna menunjuk ke arah Bu Nunung dengan mulutnya.
"Ada apa kesini Nung? Mau ngomongin saya sama Erna lagi?'' sembur ibunya.
"Rasain,'' umpat Erna pelan.
"Aku kesini mau minta maaf, Dah. Aku sadar perkataan aku udah buat kamu sama Erna sakit hati. Maafin aku ya, Dah.'' pinta Bu Nunung.
Idah tak segera membalas ucapannya dan malah melihat Bu Nunung.
__ADS_1
"Kenapa aku dilihatin gitu? Ada yang salah?'' tanyanya.
"Enggak, saya gak yakin aja setelah maafin kamu, kamu bakal tobat,'' ujar Idah.
"Aku manusia, Dah. Bisa khilaf juga,'' kata Bu Nunung yang membuat Erna mau tersedak.
"Sama aja bohong dong!'' kata Idah.
"Ya udah, aku pamit dulu ya. Intinya udah minta maaf, dimaafin atau gak itu bukan urusan aku lagi. Itu urusan kalian sama yang di atas.'' ucapnya lalu pergi dari rumah mereka.
Erna dan ibunya saling tatap dan geleng geleng kepala melihat tingkah absurd tetangga ajaibnya itu.
"Nak, kalo tukang sayur lewat tolong beliin cabe sama ikan dan tahu tempe ya, Lauk kita habis, kalo sayur dikebbun belakang banyak,'' ujar ibunya sambil menyodorkan lembaran uang biru kepadanya.
"Baik Bu.''
Erna masih duduk di depan sembari menunggu kang sayur lewat. Gadis itu sambil menikmati jagung goreng renyah pedas yang ia beli kemarin.
"Sayurrrr..... Sayuuurrrr....''
Bergegas Erna langsunng menuju kang sayur itu di tempat pangkalannya berhenti. Dari beberapa arah juga sudah keluar ibu ibu yang hendak membeli sayur.
"Pagi bu...'' sapa Erna sambil melihat lihat pesanan ibunya.
''Pagi eneng cantik, Mau beli apa nih?'' ujarnya ramah.
"Aku mau beli cabe, ikan sama tahu dan tempe. Dipasin aja jadi lima puluh ribu ya, Bu.'' katanya.
"Siap eneng,''
"Erna, si Rafi sama si Rani pagi pagi tadi kemana tuh?'' tanya Bu Disa.
"Gak salah ibu nanya saya? Biasa kan tahu sendiri,'' jawab Erna.
"Idih, gitu amat jawabannya, Ern. Apalagi ibu lihat pagi pagi sekali Rani udah mampir ke rumah kamu. Ada apa sih?'' tanyanya mulai kepo.
"Mana ku tahu, Tanya aja sendiri sama Rani!'' cetusnya.
"Kan aneh aja lihatnya,'' ucapnya lagi.
"Ya kalo aneh jangan dilihat toh, Bu. Ribet amat, aneh deh,'' ujar Erna heran,
"Namanya juga punya mata,'' katany tak mau kalah.
"Bu, kerupuknya dua ya. Ini aku tambahin lima ribu.'' kata Erna.
"Tarik aja Neng. Ini pesanannya.'' ucap kang sayur menyodorkan kresek putih berisi belanjaannya.
"Makasih ya, Bu.''
Erna masih berdiri membuka bungkusan kerupuk untuk dia makan langsung.
"Hey, kalian lihat si Rani gak? Auranya lain ya?'' ujar Bu Fira.
"Lain gimana?'' tanya Bu Ros.
"Aku kayak curiga gitu si Rani hamil, " kata Bu Fira.
"Hah? Yang bener?''
__ADS_1