
Tak lama setelah ia sampai di Hotel, tempat dimana dia mengais rejeki, Ia langsung bekerja seperti biasa. Semua pekerjaannya hari ini lancar tanpa ada kekacauan.
"Mir? Kata Tini ada tetangga kalian yang meninggal?'' tanya Tikno.
"Iya, Tik. Eh, btw kalian udah baikan?" tanya Erna.
Tikno menanggapinya dengan senyuman.
"Selamat ya, Tik." ujar Erna.
"Setelah Aku pikir pikir, omongan kamu waktu itu ada benarnya juga. Dan si Tini juga udah janji gak akan bersikap seenaknya lagi." kata Tikno.
"Syukurlah, Tik." kata Erna ikut senang.
Semoga Tikno benar benar kuat dan Tini benar benar berubah.
Shift pagi sudah berakhir dan Erna sedang bersiap siap untuk pulang.
"Semangat, Yok. Besok gajian." ujar Ema.
"Iya, Ma. Akhirnya hari yang kita tunggu tunggu datang juga." jawab Erna dengan senyum sumringah terpancar dari wajah keduanya.
"Besok jalan jalan yuk, kan gajian." ajak Ema.
"Hm, aku gak janji ya. Soalnya besok itu ada pemakaman tetanggaku, Gak enak kalau gak hadir." ucap Erna.
__ADS_1
"Waduh, gitu ya, Ern. Ya udah nanti aja deh kalau kamu gak sibuk,"
"Oke, Siap."
Seperti biasa mereka berdua berpisah di halte depan karena naik angkot yang berbeda. Tak butuh waktu lama Erna sudah sampai di tujuan.
Kembali dia berjalan dari depan menuju ke rumahnya. Sampai di depan warung, dia mampir dulu untuk beli minuman.
"Permisi, Dek." sapa seorang lelaki yang datang menghampiri gadis itu.
"Iya, Pak. Ada apa?" tanya Erna.
"Apa adek kenal sama Rani? katanya dia tinggal disini,"
"Boleh nunjukin dimana rumahnya, Dek?''
"Oh, boleh Pak. Apa Bapak mau pergi melayat?'' tanya Erna memastikan.
"Hah? Melayat? Emang ada yang meninggal?!" tanyanya kaget.
"Iya, Ibunya Rani meninggal dunia." jawab Erna.
"Astaga, turut bersuka cita," ucapnya. ''Kalau gitu batal deh kami jalan jalannya. Si Rani juga gak ngasih tahu, Ia hanya bilang untuk menjemputnya disini." katanya sambil melihat ponselnya.
Mendengar perkataan lelaki itu, sontak membuat Erna sangat terkejut dan tidak habis pikir. Bisa bisanya dia janjian untuk jalan sama laki laki, sedangkan di rumahnya masih ada jasad ibunya. Erna hanya menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan Rani. Ingin rasanya marah dan mengomeli Rani, tapi apa daya, gadis itu bukan keluarga dan bukan siapa siapanya juga.
__ADS_1
Herni si pemilik warung hanya menatap tetapi telinganya menyerap semua pembicaraan mereka.
Akhirnya, Erna pamit pulang pada lelaki itu. Sampai di rumah, ia langsung mandi dan ganti pakaian. Dia langsung ke rumah Bu Disa untuk membantu membuat kue.
"Ooooh, jadi gitu ya ceritanya?''
"Wah, kurang ajar sekali si Rani!''
"Kalau anakku cewek kayak gitu, udah kukasih cabe matanya biar buta!''
Berbagai jenis obrolan Erna dengar di sana. Pastinya mereka sedang bergosip ria sekarang.
"Kamu juga, Ern. Jadi anak yang bener, jangan suka kibulin orang tua. Apalagi kamu kerja di Hotel." kata Bu Nunung.
Baru juga sampai, hatinya sudah langsung panas dibuatnya.
"Lihat tuh si Rani, gara gara dia ibunya meninggal," tambah Bu Disa.
Gadis itu diam tak menanggapi semua ucapan mereka. Malas sekali rasanya, dia di sana juga hanya karena rasa kekeluargaan bukan untuk meladeni omongan mereka.
Ruangan itu rasanya sesak sekali dengan omongan julid ibu ibu itu. Mereka asyik sekali menceritakan kejelekan orang lain. Erna jadi kasihan sama keluarganya Rani karena mendapat julidan tiada henti.
Erna terus asyik membungkus kue dalam plastik lalu ditaruh di kotak hingga dia merasa aura ruangan itu berbeda. Semua diam tak bersuara, Erna mengangkat kepalanya dan mendapati semua diam terkejut.
"Sudah puas kalian membicarakan diriku!''
__ADS_1