
Rani terbangun dan mendapati Erna berada di ruangan yang berbeda. Indera penciumannya merasakan bau khas rumah sakit. Tangannya juga sedang diinfus. Wanita itu melihat Erna yang sedang duduk didepannya sambil melamun. Mengapa ada Erna di sana?
"Erna?'' panggilnya membuyarkan lamunan Erna.
"Eh, kamu sudah sadar?" tanya Erna sedikit terkejut.
"Hah, apa tadi aku pingsan? Lah, bagaimana bisa?'' batin Rani.
Saat Erna hendak memanggil dokter, Rani langsung menahan tangannya. Rani menggelengkan kepalanya berharap ia mengerti jika Rani tak menyuruhnya memanggil dokter.
Perasaan wanita itu seketika merindukan sosok ibunya yang sudah tiada. Ia menangis sesenggukan, mengingat mimpinya, ia bertemu dengan sang ibu. Dalam mimpinya itu, ibunya terlihat murung dan tak tersenyum padanya. Ibunya bahkan pergi meninggalkannya. Meski Rani berlari dan berteriak tapi ibunya tak mendengarkannya.
"Kamu kenapa, Ran?'' tanya Erna lembut.
"Aku kangen sama ibuku, Ern." jawabnya dengan suara serak.
"Pantesan aja tadi kamu ngigau panggil ibumu,"
Ah, rupanya mimpinya sampai terbawa ke dunia nyata.
Erna lalu melepas tangannya dan pergi untuk memanggil dokter. Dan tak lama lelaki berjas putih itu sudah menampakkan wujudnya di depan Rani. Dokter itu langsung memeriksa mata dan dadanya menggunakan stetoskopnya.
"Anda keracunan makanan, Mba. Sebaiknya periksa dahulu tanggal expired makanan tersebut agar tidak menimbulkan keracunan seperti ini. Bisa sangat membahayakan janin di perut anda," kata sang dokter.
Rani hanya diam dan tak menyahut perkataan dokter itu. Perasaannya saat ini benar benar tak menentu.
"Baik, Dok. Terima kasih." jawab Erna.
Setelah dokter pergi, Erna tampak memperhatikan Rani.
"Kamu udah baikan?'' tanyanya.
Rani hanya menjawabnya dengan anggukan. Tak lama Idah datang menghampiri mereka.
"Gimana, Bu? Pak Santo udah pulang?''
__ADS_1
"Udah, Nak. Tadinya mau nungguin kita tapi ibu enggak enak. Jadi ibu bilang untuk pulang saja," jawab Idah.
Rani merasa malu pada dirinya sendiri karena kebaikan Erna dan ibunya selama ini padanya. Padahal dirinya selalu membuat masalah dengan mereka.
Itulah arti tetangga yang sebenarnya, menjadi penolong pertama selain keluarga.
Karena efek obat, Rani jadi mengantuk dan akhirnya ia pun tertidur. Sebelum benar benar lelap, Rani seperti mendengar suara laki laki dan seperti suara kakaknya Rafi. Tetapi matanya enggan terbuka karena sudah sangat berat. Semoga saja saat ia bangun nanti, ia bisa melihat kakaknya di sana. Rani benar benar merindukannya.
*********
Perlahan, Rani membuka matanya dan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Rani masih terbaring di tempatnya tapi Idah dan Erna sudah tidak ada lagi di sana ia temukan.
Lantas siapa yang menungguinya semalaman? Apakah ia dibiarkan sendirian saja? Air mata wanita tiba tiba menetes begitu saja. Ah, rasanya wanita itu benar benar merindukan ibu dan kakaknya Rafi.
"Hey, kenapa menangis?''
Suara kakaknya membuat wanita itu kaget dan langsung menoleh ke arah suara itu. Benar, kakaknya ada di sana.
"Kakak?'' katanya dengan mata berbinar binar.
"Gimana? Udah merasa enakan?'' tanya Rafi.
"Jangan menangis, Rani. Pikirkan kondisimu dan anak dalam kandunganmu sekarang. Usahakan agar cepat sehat.'' kata Rafi.
"Emang kalo aku sehat, kakak mau pergi lagi?'' tanya Rani takut.
"Iya, Rani. Aku harus kembali bekerja," ucapnya.
Rani yang mendengar itu langsung saja menangis. Tidak, kali ini wanita itu tidak akan membiarkannya pergi dari hidupnya lagi.
"Kalo kakak pergi, aku lebih baik mati saja!''
Rafi mendelik tajam ke arahnya, wajahnya menunjukkan rasa tak suka dari kalimat yang adiknya itu lontarkan.
"Aku tidak akan meninggalkanmu jika saja kamu menurut perkataan kakak, Rani. Apa gunanya aku tinggal dengan adik kelapa batu sepertimu? Bukankah kamu merasa sudah bisa hidup tanpa aku? Kamu tak pernah menurut ucapanku? Kenapa sekarang kamu memohon untuk kakak tidak pergi?!''
__ADS_1
Kata kata kakaknya membuatnya membisu terdiam. Semua yang dia katakan benar sekali. Ia yang terlalu pembangkang disini dan selalu melawan apa yang kakaknya katakan.
"Aku minta maaf, Kak." ucapnya menyesal.
"Dulu juga kamu minta maaf, Ran. Tapi apa? Kamu tetap bandel, kamu udah dewasa Ran, harusnya kamu mikir. Ah, udahlah. Makan ini agar tubuhmu ada energi."
Rafi memberinya sebungkus bubur ayam yang masih hangat. Ia lalu menutup sekat antar ranjang pasien satu dengan yang lain agar adiknya itu nyaman makan.
Pelan pelan, bubur ayam itu Rani makan. Rafi menungguinya hingga ia selesai makan.
"Kak? Erna sama ibunya kemana?'' tanyanya.
"Udah pulang. Kasihan mereka," jawab Rafi.
"Aku belum sempat ucapin terima kasih." katanya pelan.
"Hm, bukankah kamu sering mencari masalah dengan Erna? Jiak begini apa kamu sudah sadar tentang sifat jelekmu? Jangan lagi membuat ribut apalagi dengan tetangga." kata Rafi menasehatinya.
"Iya, Kak." jawabnya menunduk malu.
Tak berapa lama, Dokter datang dan memeriksa kondisi Rani.
"Kondisi Mbak Rani sudah membaik. Mungkin Siang nanti sudah diperbolehkan pulang. Ingat untuk menjaga makan dan pola istirahat. Periksa makanan sebelum dimakan." ujar sang dokter.
"Baik. Terima kasih, Dok." jawab Rani.
Setelah kepergian Dokter, Rafi menyuruh adiknya untuk istirahat, sedangkan dia mau keluar untuk beli kopi.
Matanya enggan terpejam, pikirannya melayang menuju ayah si bayi dalam kandungannya itu. Lelaki yang sudah mencampakkannya beserta anak yang dikandungnya.
Rani mengelus perutnya yang masih belum terlalu kelihatan itu dengan penuh sayang. Sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu yang akan membesarkan anaknya seorang diri.
Rani mengingat lelaki itu saat terakhir menjemputnya di rumah. Ia begitu diperlakukan dengan sangat baik olehnya bahkan istrinya. Rani pikir, ia bakal diterima menjadi nyonya dari suaminya. Ternyata ia salah besar, mereka hanya menjebaknya untuk kepentingan mereka. Setelah itu, ia ditinggalkan begitu saja oleh mereka.
Mengingat lelaki itu membuatnya menangis. Entah nanti, ia akan sanggup atau tidak untuk menjalani perannya sebagai seorang ibu. Wanita itu masih terlalu muda, tapi masa mudanya itu ia hancurkan dengan perbuatannya sendiri.
__ADS_1
Apakah wanita itu harus mencari pekerjaan? Ia tidak bisa apa apa. Mengurus rumah saja ia tak becus, mau kerja apa jika begini?
Kepalanya sangat pening memikirkan nasibnya yang entah bagaimana bentuknya itu.