
Takk... Takkk.... Takkk...
Erna menghentakkan kasar pisau yang memotong tempe di atas talenan yang ia gunakan. Panas sekali telinganya mendengar obrolan ketiga manusia kepo itu.
"Bu, Ibu.... Ayo, waktunya makan siang. Nanti kena asam lambung loh kalau makannya suka telat,'' kata Eran sedikit berteriak.
Erna sengaja menyiapkan bahan masakan di ruang tengah aga bisa mengawasi mereka di ruang tamu.
"Ih, Anakmu si Erna kayaknya sengaja deh ngusir kami,'' kata Bu Nunung.
"Udah tau masih ngomong pula!'' ketus Erna.
"Gak sopan, Erna.'' tegur ibunya.
''Lebih gak sopan mereka yang suka kepo!'' cetusnya.
Masih terdengar suara kasak kusuk di depan dari ketiga manusia kepo itu. Mereka sedikit menegur ibunya dengan sikapnya yang di rasa kurang sopan. Ya, bagaimana tidak? Mereka datang kesana hanya untuk mencari tahu urusan pribadi orang lain. Pakai acara menasehati segala lagi, sepertinya di rumah mereka tak punya kaca untuk bercermin.
"Jangan jangan si Heri kesini mau minta cerai sama kamu ya? secara kan ia gak bisa menikah jika belum cerai dari kamu Dah,'' kata Bu Nunung.
Pertanyaan Bu Nunung membuat gadis itu sangat kesal. Dia langsung berdiri dan menuju ke ruang tamu.
"Ibu Ibu bin kepo bin julid, mending kalian pulang sana. Kasihan sayurannya sudah pada layu, ada yang menuju basi sebelum dimasak. Kasihan anak suami kalian kelaparan. Eh, emak sama istri mereka lagi asyik ngurusin orang lain disini!'' ketus Erna dengan menekan setiap perkataannya.
Idah meremas tangan anaknya itu untuk pertanda dia harus diam, tetapi dengan cepat Erna menepis tangan ibunya. Dengan wajah kesal, ketiga ibu kurang kerjaan itu bangkit dari kursi dan segera pergi.
__ADS_1
"Jangan segan segan cerita sama kami, Dah. Jangan pendam sendiri.'' kata Bu Nunung.
"gak usah sok peduli gitu Bu Nunung. Ibu saya gak lemah, lagian kalau diceritain maka saya pastikan warga sekampung akan tahu dalam semalam!'' ujar Erna yang sudah tersulut emosi dan hendak melempar telenan yang ia pegang.
"Jaga mulut kamu, Erna!'' cetus Bu Disa.
"Cepat pulang, Bu. Nanti keburu magrib!'' cetus Erna dan langsung menutup pintu meski mereka masih di teras.
"Nak, kamu jangan gitu.'' kata Ibunya sama anaknya itu.
"Ibu yang jangan gitu. Ngak baik ngebaikin sifat jelek para tetangga kita,'' kata Erna lalu melanjutkan pekerjaannya mengiris bawang dan persayuran.
Idah duduk di bangku meja makan sambil melihat anaknya itu memotong tempe.
"Tempe bacem sama tumis kangkung, Bu.'' jawabnya masih fokus ke pemotongan tempe.
"Ya, ibu juga lagi pengen makan itu. Buatin yang enak ya.'' kata ibunya dengan senyum.
Erna mengangguk senang saat melihat ibunya yang sudah tersenyum.
"Jangan keasinan, Ern. Ibu belum mau kamu menikah,'' katanya lalu berlalu masuk ke kamar.
"Siapa juga yang mau menikah muda,'' cetus sang gadis itu.
Setelah semua bahan siap, Erna langsung memasaknya di dapur. Seharian di ruamh menggantikan peran ibunya juga ternyata sangat capek. Ditambah dengan omonga pedas tetangga yang mengudang darah tinggi. Erna hanya minta Tuhan agar menebalkan telinganya mendenagr julid mereka setiap hari.
__ADS_1
Selesai memasak, gadis itu langsung membangunkan ibunya agar makan dulu. Mereka berdua duduk di meja makan dan langsung menyantap masakan yang sudah tersedia di sana.
Gadis itu tertegun melihat ibunya yang makan sangat lahap, bahkan sepiring tumis kangsung buatannya habis dimakan oleh Idah, sang Ibu.
"Gini amat ya, kalau ibu ibu galau,'' batinnya memperhatikan wanita paruh baya itu.
"Apaan kamu lihatin ibu kayak gitu, Ern?'' tanya Idah yang sadar jika Erna sedang melihatnya dari tadi.
"Gak, Bu. Saran Erna jangan terlalu gak enakan sama orang. Erna yang dengar aja sakit hati sama sakit kuping,'' jawabnya mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Ibu bakal dengar saran kamu, Nak.''
Selesai makan, gadis itu tidak lupa untuk memberi ibunya minum obat agar segera pulih dan sehat kembali.
"Ibu, Istirahat ya.'' ujar Erna setelah ibunya selesai minum obat.
"Iya, Nak. Oh ya, kalau sore nanti deman ibu sudah mulai menurun, gimana kalau kita jalan jalan?'' ajaknya.
"Hah? Tumben ibu ngajakin Erna jalan jalan. Emang mau kemana?'' tanya Erna sedikit terkejut karena baru pertama kalinya sang ibu mengajaknya jalan jalan.
"Kita berdua ke mall, makan di luar. Jadi malam gak perlu masak. Anggap aja ini liburan kita,'' jawab ibunya tersenyum.
"Wahh, ide bagus. Kalau gitu ibu istirahat, semoga sore udah baikan.'' kata erna dengan senang melihat ibunya yang sedikit bersemangat dan antusias.
Gadis itu begitu bersemangat, karena ibunya sepertinya mulai bangkit dari rasa sakit hatinya. Semoga selesai ini ibu bisa lebih kuat lagi.
__ADS_1