
Sebelum menuju ruang istirahat, Erna mampir ke toilet untuk mencuci wajahnya agar tak kelihatan sembab seperti baru habis menangis.
"Erna, ayo makan," ajak Tikno dan Ema.
Erna mengangguk dan duduk disebelah mereka berdua lalu membuka kotak bekalnya dan mulai makan. Mereka berdua asyik bercerita tetapi Erna tak menggubrisnya sama sekali. Gadis itu terlalu kalut saat itu.
"Aku ijin pulang duluan ya. Badanku gak enak, tadi udah sempat ijin ke Pak Danung." ujarnya berbohong.
"Pantas aja wajahmu pucat, Ern. Ya udah kamu hati hati ya. Nanti pulang aku samperin ke rumah." kata Ema.
Setelah berpamitan pada Ema dan Tikno, dia langsung pulang. Sengaja tak menceritakan pada mereka bahwa dia dipecat.
Dia berjalan kaki menyusuri pinggir trotoar, bingung mau pulang atau tidak. Ibunya akan pasti sedih jika mengetahui bahwa dia dipecat dari kerjaannya.
Erna tak menyangka tempat kerjanya itu masih kepunyaan mertua bapaknya. Seandainya mereka tak tahu bahwa dia anaknya, pasti dia tidak akan dipecat.
Erna berjalan menuju taman kota dan duduk disebuah bangku. Air matanya kembali menetes deras, perasaannya benar benar hancur sekarang. Kemana lagi dia harus mencari pekerjaan? Gak mungkin dia hanya duduk menganggur lagi.
"Erna," sebuah suara mengagetkannya kembali.
"Bapak?'' Erna sangat kaget melihat lelaki itu ada di sana.
"Ngapain bapak disini?'' tanyanya sambil buru buru mengusap wajahnya.
"Bapak ngikutin kamu, Nak." ujarnya lalu duduk disamping gadis itu.
Erna membuang mukanya enggan untuk melihat bapaknya. Hatinya begitu sakit mengingat perlakuan mereka di lobi hotel tadi.
"Bapak minta maaf, Nak, Gak bisa berbuat banyak untuk membantu kamu," ujarnya.
Erna manarik nafas kesal, ingin sekali ia berteriak di depannya jika dia benar benar membuatnya marah. Tetapi lagi lagi, ia tahan.
"Mending bapak pergi dari sini, sebelum istri bapak tahu. Aku gak mau dikatain mereka lagi." ucap gadis itu pelan.
"Baik, Nak. Semoga kamu mendapat pekerjaan lainnya yang lebih baik. Bapak tahu kamu cerdas." ucapnya lalu pergi.
Ah, rasanya begitu menjengkelkan. Tak pernah ia dibuat jengkel seperti itu. Jika saja laki laki itu bukan bapaknya, sudah Erna getok kepalanya dengan batu.
Tak ada rasa kasihan sedikit pun terhadap anaknya sendiri yang baru saja kehilangan pekerjaannya akibat ulah mertuanya.
Menangis adalah hal yang paling bisa membuatnya tenang sekarang. Ingin pulang, tapi ia belum siap menceritakan kepada ibunya. Ia ingin menenangkan diri lebih dulu sembari berpikir bagaimana mendapat pekerjaan yang baru.
Setengah jam sudah ia habiskan untuk duduk termenung di bangku taman sendirian. Dari kejauhan, gadis itu melihat ada penjual cilok sedang nangkring di bawah pohon. Erna memutuskan untuk makan cilok saja siapa tau dia bisa dapat pikiran baru.
__ADS_1
Langkah kakinya berjalan menuju tukang cilok yang ada di ujung taman. Tiba tiba sebuah kertas datang dan menutup wajahnya.
"Siapa sih yang buang sampah sembarangan?'' gerutunya.
Ia mengambil kertas itu lalu melihat sebentar. Seketika matanya langsung membulat melihat tulisan yang ada di sana. Rupanya itu adalah salah brosur dari salah satu tempat les mata pelajaran ujian nasional. Mereka sedang membutuhkan tenaga pengajar yang kebetulan sesuai dengan jurusannya.
Bagai menemukan air di tengah padang gurun, jiwanya hidup lagi. Dengan semangat dia menuju abang tukang cilok.
"Bang, beli cilok sepuluh ribu," ujarnya senyum.
"Oke, Neng. Makan disini apa dibungkus?"
"Makan disini aja, Bang." jawabnya.
"Enggak pedas, pedas setengah atau pedas bangat?'' tanyanya lagi.
"Pokoknya jangan yang pake bangat." jawab Erna lalu duduk di kursi yang disediakan sambil melihat brosur itu kembali. Di sana dikatakan untuk berkas lamarannya harus diantar langsung ke tempat les.
"Semua berkas persyaratannya sepertinya lengkap. Hanya saja aku belum punya pengalaman mengajar sebelumnya." ujarnya ragu.
"Neng, ciloknya," kata si abang penjual sembari menyodorkan mangkok yang berisi cilok pesanannya.
"Makasih, Bang." jawab Erna dan langsung membayarnya.
Perasaannya sekarang jauh lebih tenang, tinggal saja dia harus memberitahu ibunya. Semoga saja ibunya tidak sedih mendengar dia dipecat.
Dia langsung menikmati ciloknya dan membeli sebotol minuman. Setelahnya, dia langsung pulang ke rumahnya naik angkot. Karena dia harus menulis surat lamaran dan menyiapkan berkas berkasnya. Gadis itu harus cepat cepat sampai ke rumah.
Angkot yang dia tumpangi tiba di depan gang, dia langsung turun dan berjalan memasuk gangnya rumahnya itu.
"Eh, Erna. Udah pulang kerja?'' tanya pemilik warung julid.
"Iya, Bu. Saya pulang dulu bu." jawabnya singkat.
"Iya, Neng."
Erna menutup kepalanya dengan topi jaket yang ia gunakan karena hari itu sangat panas.
"Loh, Erna. Kamu udah pulang?'' tanya Bu Disa.
"Iya, Bu." jawanya.
"Kerja gimana toh? Kok tumben pulangnya cepat. Ada masalah kamu?'' tanyanya lagi.
__ADS_1
"Ih, kepo bangat." ujar Erna.
"Eh, Erna. Hotel tempat kamu kerja namanya hotel apa?" tanya Bu Disa.
"Kentari Hotel, Bu." jawabnya.
Disa manggut manggut mendengar jawaban dari Erna.
Erna langsung masuk ke rumahnya sebelum Disa bertanya lagi.
"Ibuuuuu," panggil gadis itu seperti biasa.
"Eh, anak ibu udah pulang." sambut ibunya dengan senyum.
"Iya, Bum" jawab Erna sembari membuka sepatu lalu meletakkannya di rak.
"Tumben pulangnya jam segini, Nak? Kamu sakit?" tanya Ibunya menempelkan telapak tangannya di dahi anak semata wayangnya itu.
"Gak, Bu. Oh ya, gimana maling yang tadi pagi?'' tanya Erna mengalihkan.
"Oh itu. Ternyata dia itu orang gangguan jiwa, Nak. Dia kabur dari rumahnya." jelas ibunya.
"Oalah, pantesan aja dia kayak kebingungan dan gak melawan saat ditangkap." kata Erna.
"Iya, Nak. Dia langsung dipulangkan ke keluarganya yang kebetulan sedang mencari."
"Semoga dia gak kabur lagi. Meresahkan kita sekampung." kata Erna.
Erna lalu berjalan menuju kamarnya dan langsung mengunci diri.Tak buang buang waktu, ia langsung mengumpulkan berkas berkas untuk melamar besok.
"Nak, buka pintunya. Kok dikunci, Nak?'' panggil ibunya sembari mengetok pintu kamarnya.
"Bentar, Bu." jawabnya dari dalam.
Erna langsung menyusun semuanya di dalam map kertas berwarna merah lalu di taruh di meja rias. Tinggal membeli kertas folio bergaris untuk menulis lamaran.
Klek.
Pintu kamat di buka dan ibunya masuk ke dalam.
"Nak, kamu kenapa toh? Kok udah pulang kerja masih jam segini?? Ada yang kamu sembunyikan dari ibu?"
Erna menghela nafasnya panjang lalu menghembuskannya.
__ADS_1
"Erna di pecat, Bu."