
Hari ini Erna dan ibunya akan pergi untuk menghadiri pernikahan Bapaknya yang kedua kali. Gadis itu menatap dirinya di depan cermin melihat wajahnya yang sudah di rias oleh Ema.
"Udah cantik belom?'' tanya Erna.
"Astaga, Na. Kalau aku jawab berarti udah yang 100 kali loh. Iya kamu udah cantik bangat Ernaaaaaaa," balas Ema.
Gadis itu tersenyum menatap sahabatnya itu, make up natural tetapi tetap cantik. Karena dari sononya memang sudah memiliki paras yang cantik.
"Makasih ya, Ma." ucapnya.
"Sama sama, Na." jawabnya sambil merapikan alat make up yang dipakai.
Ibu dan anak itu mengenakan gaun senada berwarna peach yang dijahit ibunya. Rencananya gaun ini akan dipakai pas acara nikahan tetangganya. Tetapi mereka memutuskan untuk memakai di pesta pernikahan Heri.
"Makasih Ema sudah buat ibu cantik juga," ujar Idah.
"Sama sama, Bu." jawab Ema tersenyum.
"Coba aja kamu ikut bareng kami, Ma," kata Idah.
"Gak usah, Bu. Ema gak enak badan jadi mau istirahat aja."
"Ya udah, Ma. Ingat makan terus minum obat." kata Erna.
"Assiiapp, Na. Kalau gitu aku pamit dulu ya."
"Ema, jangan lupa bawa makanan yang ibu masak tadi, Nak. Biar kamu gak usah masak di kos."
"Udah, Bu. Udah Ema bawa." ujarnya.
Setelah Ema pergi, Erna dan ibunya juga keluar menunggu taksi online yang sudah di pesan. Tampak ibu ibu komplek sudah berdiri di depan menunggu kendaraan juga. Ada yang pergi dengan suami, ada juga yang bersama anak mereka. Heri mengundang hampir semua warga komplek kampung julid.
"Kirain gak bakal pergi," ujar Nunung menyindir Idah.
Meski wajahnya melihat ke arah lain, tetapi jelas ucapannya tertuju pada ibu dan anak itu. Ibu dan anak itu sudah malas mendengar omongan mereka dan berpura pura memilih menjadi tuli saja.
"Bu ayo, taksi kita sudah datang," kata Ema memegang tangan ibunya.
"Dandannya sok cantik amat sih. Yaaa, paking si Heri juga gak bakal terpesona," ujar Disa.
Erna langsung meliriknya dengan tajam setajam mata belati.
"IRI BILANG BOSSSS, Hahahahaha...." kata Erna lalu masuk ke dalam mobil.
Dari dalam mobil, Gadis itu melihat Disa begitu emosi sambil melihat wajahnya di kaca. Rasain emak lampir, mulutnya kayak comberan.
Acara pernikahan Heri berlangsung di sebuah ballroom mewah di kota itu. Menurut cerita tetangga yang ia dengar, Heri pindah kesini sebulan lalu bersama istri barunya si Tari itu. Mereka mengurus salah satu perusahaan milik orang tua Tari yang ada di kota itu.
Huh, Tetangganya memang memiliki skill yang bukan kaleng kaleng. Erna saja tidak tahu menahu soal bapaknya, tetapi mereka tahu bahkan sampai kepindahan kesini. Entah angin jenis apa yang membawa kabar untuk mereka setiap hari.
Taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di ballroom tempat resepsi. Erna menggandeng tangan ibunya untuk masuk ke dalam.
"Mewah juga," ujar Idah.
"He'e," jawab Erna.
Sesampainya di pintu masuk, mereka diminta menunjukkan undangan, Setelah itu baru mereka dipersilahkan untuk masuk ke dalam. Erna dan ibunya memilih untuk meja di tengah tengah supaya bisa melihat ke depan.
Erna menatap sekilas wajah ibunya, ada raut sedih di sana. Sekuat apapun kita menyembunyikan perasaan sakit hati dengan senyuman tapi mata tetap tidak bisa berbohong. Itulah yang Erna lihat pada Ibunya. Dia tahu, di lubuk hatinya yang terdalam, ibunya menyimpan rasa kecewa dan sakit pada bapaknya. Bagaimanapun mereka pernah menjalin cinta hingga memiliki Erna sebagai anak. Tak mudah pasti untuk melupakan seseorang yang mengisi hati kita selama bertahun tahun.
__ADS_1
"Bu, kuenya dimakan," kata Erna mencairkan suasana.
Idah mulai menyuapkan sepotong kue ke dalam mulutnya hingga akhirnya kue itu habis. Tak lama, Erna melihat para tetangganya juga sudah mulai berdatangan. Mereka juga mengambil tempat dekat dengan mereka.
Acara di mulai, Sepasang pengantin memasuki ballroom dan berjalan menuju ke pelaminan. Erna akui, Bapaknya tetap tampan di usianya yang sudah menginjak kepala empat. Ia melirik ibunya, ada seukir senyum yang terbit di bibirnya. Erna tak tahu artinya, tetapi bisa ia rasakan sakit hati ibunya. Ia sendiri pun sangat sakit hati melihat bapaknya lebih memilih daun muda daripada mempertahankan pernikahan dengan ibunya. Semoga kelak, jika gadis itu memiliki pendamping, ia ingin lelakinya setia hanya padanya saja.
Itu doa sang gadis itu.
"Hhmm, kamu gak nangis Dis? Tuh, lihat pujaan hatimu menggaet orang lain," ujar Fira dengan suara sedikit dikeraskan agar mereka mendengarnya.
"Ya sedih bestiiii..." sahut Disa.
Astaga, kurang asem sekali mereka menghina ibunya di sana. Tetapi nampaknya idah tak terganggu atau lebih tepatnya ibunya sudah malas dengan semua omongan mereka.
"Huss, bisa diem gak kalian," tegur suami Fira.
"Eh, Dah. Kamu kuat bangat ya," ujar Nunung.
"Iya dong." balas Idah.
"Udah move on kamu?''
"Udah dong, Nung. Makanya aku datang kesini."
"Awas nangis loh. Kalau mau nangis, nangis aja Dah, jangan di tahan." ujar Nunung lagi.
"Bu Nunung bisa diem gak? Capek nih kuping dengar suara ibu!" kata Erna melotot.
"Ehh dasar anak nyebelin. Tuh, lihat bapakmu udah kawin lagi. Gak sedih apa kamu? Istrinya aja lebih cantik daripada anak sambungnya," cetus Nunung.
"Gak sedihlah. Itu cantiknya kalo pake bedak 19 centi. Aku gak pake bedak aja udah cantik," balasnya tersenyum sinis.
Setelah acara selesai, Mereka semua bangun menuju ke pelaminan untuk bersalaman dengan pengantin.
"Selamat ya, Peka Heri, Btw istrinya cantik loh. Kalah cantik sama yang dibelakang." celetuk Disa.
"Makasih, Bu." jawab Tari dan Heri.
"Sama sama. Semoga dia gak nangis kejer pas salaman sama kalian," sindir Disa lagi.
Rasanya, Erna ingin menyumpal mulut baunya itu dengan sepatunya. Darahnya sudah benar benar mendidih dibuatnya.
Giliran Idah dan Erna yang menyalaminya.
"Jangan nangis loh, Dah," kata Nunung.
"Berani juga kalian datang ke acara kami," kata Tari sinis.
"Iyalah berani, kecuali yang ngundang kita itu kunti sama genderuwo ke pesta pernikahannya. Nah, itulah baru kita gak berani datang karena seeerrreeeeemm," ucap Erna tersenyum pada Tari.
Nampak wajah Tari berubah kesal melihat Erna, rasakan kau Tari sudah berani mengganggunya.
Saat bersalaman, Tari menggenggam tangan Erna begitu erat sehingga gadis itu merasa kesakitan. Tak tinggal diam, sengaja Erna injak ujung jari jempol kakinya yabg tertutup kebaya.
"Auww!!'' pekiknya lalu melepas tangan Erna.
"Kenapa, Tar?'' tanya Heri khawatir.
"Kaki aku, Mas."
__ADS_1
"Kakinya kenapa?''
"Rasain!!' batin Erna tanpa bersuara.
Wajahnya berubah merah padam, lucu sekali.
"Woi, Erna! Cepetan dong, antri nih," ujar Nunung.
Gadis itu lalu menyalami Heri dan langsung turun menggandeng tangan ibunya. Heri melihat Idah, tapi Idah membuang pandangannya darinya. Entah apa maksud Heri menatap Idah seperti itu.
"Kamu apakan kakinya si Tari, Nak?'' tanya ibunya berbisik.
"Erna injak, Bu." jawabnya enteng.
"Pantesan dia teriak.''
"Biarin, Bu. Dia udah buat tangan Erna sakit jadi Erna balas aja,"
Mereka langsung pulang sehabis salaman tadi. Sampai di rumah sudah pukul 9 malam, setelah berganti Ibunya dan Erna duduk menonton tv di ruang tengah.
"Bu, " panggil Erna.
"Iya, Nak?'' jawab Idah tanpa melihatnya.
"Hhmm, Ibu sedih kita ditinggal bapak kayak gini?'' tanyanya.
Idah menarik nafas dan menghembuskannya pelan.
"Sedih, Nak." jawab ibunya. "Tapi, seperti kata kamu kemarin, kita bisa dan kuat tanpa bapak." ucapnya.
"Ibu gak mau nikah lagi?''
"Hahaha, Kamu mau punya bapak tiri?'' kata Idah sambil tertawa.
"Gak lah, Bu." jawab Erna dengan cepat.
"Lah, terus ngapain kamu nanya gitu?''
"Erna kan cuma nanya,"
"Kamu nanya?'' balas Ibunya.
"Ih, Ibu. Bikin kesal aja," cetus Erna.
"Ibu gak kepikiran buat nikah lagi, Nak. Ibu senang seperti ini. Ibu ingin merawat kamu seorang diri saja. Takut menikah nanti, perhatian ibu adi terbagi, kan kasihan anak ibu yang manja ini,"
Erna memeluk Ibunya dan bersandar di bahunya.
"Makasih ya, Bu. Erna juga sayang sama ibu."
Idah membelai rambut Erna hingga gadis itu hampir tertidur, tapi....
"Erna..... Tolong aku, Erna....??"
Teriakan dari teras rumahnya sontak membuat Idah dan Erna kaget.
"Bu, itu Ema. Kenapa dia teriak gitu?'' kata Erna terkejut.
"Ernaaaa tolong!''
__ADS_1