
Tidak tahu malu si Rani itu, sudah pinjam duit ke ibunya dengan cara berbohong, sekarang malah ia mengancam gadis itu.
"Bu, lihat sendiri kan gimana tetangga baru kita itu? Aku diancam setelah meminjam duit dari ibu." kata Erna kesal.
"Kalau ibu tahu akhirnya gini, ibu juga gak akan minjamin dia, Ern." kata Idah.
"Huh, tetangga semua sama aja. Mau baru mau lama hobinya buat kesal!'' kata Erna gemes sembari mengigit giginya.
"Udah jangan kesal terus seperti itu, Nak. Ayo makan dulu." ajak sang Ibu.
Mendengar ajakan makan membuatnya seketika bersemangat. Erna langsung duduk di kursi meja makan dan menyendok nasi serta rendang sapinya.
"Pelan pelan, Nak. Kamu gak lagi rebutan," tegur ibunya yang melihat kelakuan dan reaksi Erna yang dirasa sedikit berlebihan.
"Hehehe, Maaf Bu. Soalnya sudah lama bangat Erna gak makan rendang buatan ibu." ujarnya.
"Yaudah, gih di makan. Toh, ibu masaknya untuk kamu," kata Idah tersenyum.
Inilah kata kata yang paling ia sukai dari ibunya. Bahwa ia memasak hanya untuknya. Dan karena ini pula gadis itu tak ingin tinggal jauh dari sang ibu. Karena pasti akan selalu merindukan masakannya.
Saking enaknya masakan sang ibu, gadis itu sampai nambah dua kali. Tak puas rasanya hanya makan sekali dan sedikit.
"Masakan ibu paling enak deh," puji Erna sembari mengangkat kedua jempolnya.
"Bisa aja kamu, Nak." sang ibu tersenyum mendengar pujian sang anak.
Setelah selesai makan, seperti biasa gadis itu membereskan meja makan dan mencuci perabot dan alat makan. Ibunya menonton serial drama di TV kesukaannya yang tidak dapat diganggu.
"Ah, kenyangnya." ujar Erna lalu duduk disamping ibunya.
"Jangan langsung rebahan, Nak. Gak baik." kata ibunya dan langsung mendorong kepala Gadis itu dari pangkuannya.
Jika kenyang begitu memang bawaannya mengantuk dan ingin cepat tidur.
"Bu," panggil Erna.
"Iya, Nak?" jawab Ibunya dan masih fokus ke layar tv.
"Gimana kalau si Rani gak ganti uang itu?" tanya Erna.
Lama ibunya tak menjawab, hingga akhirnya ia balik menatap Erna.
"Nanti ibu bakalan tagih ke dia." kata Idah.
"Tapi dengan sifat Rani yang seperti itu, apa ibu yakin dia gak bakalan sewot?''
__ADS_1
"Ibu bakal lebih sewot lagi ke dia, Ern." jawab Idah sambil menatap Erna seperti memberi isyarat bahwa ibunya bisa menagihnya.
"Ah, ibu mah bercanda mulu." ujar Erna sedikit nyengir melihat tatapan ibunya.
"Tenang aja, Nak. Ibu yakin uang itu bakal kembali." kata Idah meyakinkannya.
"Oke deh."
Erna terlarut dalam acara drama di televisi malam itu. Hingga waktu menunjukkan pukul sepuluh malam barulah ia beranjak untuk tidur. Tak lupa sebelumnya, ia memasang alarm agar tidak bangun telat.
*********
Kring..... kring.... kring... Bangun.... bangun....
Tangannya menjulur untuk mengambil jam weker berbentuk bebek diatas nakas. Gadis itu mematikan alarmnya yang menunjukkan pukul empat subuh itu.
Dengan rasa kantuk yang masih luar biasa, dia bangkit dari tempat tidur lalu berdoa. Setelahnya, ia baru merapikan tempat tidurnya lalu menyiapkan seragam kerjanya.
Hari ini dia harus berangkat lebih pagi, karena aula di lantai 1 akan digunakan untuk acara seminar.
Bergegas ia menuju ke kamar mandi dan betapa senangnya karena ibunya sudah menyiapkan air hangat untuknya.
"Terima kasih ibuku, sayang." katanya sedikit berteriak dari dalam kamar mandi.
"Sama sama anak ibu yang cantik." jawabnya bersamaan dengan bunyi tumisan sayur.
"Nak, bekalnya udah ibu siapin ya, Kamu sarapan dulu." kata Idah.
''Iya, Bu. Ini aku lagi masuki ke tas." jawabnya sembari memasukkan bekal dan botol minumnya ke dalam tas kecilnya.
Setelah selesai sarapan, Dia langsung pamit ke ibunya.
"Hati hati, Nak. Nanti langsung pulang ya." kata ibunya setelah Erna berada di teras.
"Iya, Bu. Ibu juga hati hati di rumah ya." katanya balik.
Seperti biasa, Erna berjalan ke depan gang untuk menunggu angkot. Saat melewati warung julid, para ibu ibu sudah duduk nongkrong di sana.
Karena masih kesal dengan mereka, Erna terus saja berjalan tanpa menyapa selamat pagi seperti biasanya.
"Hey, gini ya etika anak sarjana, lewat depan orang tua gak ngucapin salam," sindir Bu Disa.
"Ya, gitu deh. Sarjana tapi otaknya kayak anak esdeh!" tambah Bu Nunung.
Huh, sabar Erna. Ini ujian di pagi buta.
__ADS_1
"Ibunya lagi banyak uang ya? Kemarin dikasih pinjam ke Rani tukang selingkuh itu," ujar Bu Disa.
Wah, telinganya Bu Disa wajib di kasih penghargaan rekor muri. Telinganya bahkan lebih tajam menembus tembok rumah mereka hingga rumahnya.
"Mau nunjukin kalau dia kaya, suka pamer gak jelas, cari muka juga mungkin," sindir Bu Fira.
Suara mereka masih terdengar jelas meski gadis itu sudah jauh dari warung itu. Sengaja mereka keraskan agar suasana hatinya menjadi emosi. Erna tak peduli, hari ini dia banyak kerjaan jadi tidak ingin merusak moodnya.
Erna langsung naik ke angkot dan menuju ke tempat kerjanya. Jalanan yang belum terlalu macet menguntungkannya sampai lebih pagi di sana.
"Erna?''
Gadis itu menoleh kebelakang dan mendapati Tikno di sana.
"Iya, ada apa Tik?" jawab Erna.
"Aku amu minta maaf sama kamu, Ern." jawabnya.
"Aku udah maafin kamu kok, Tik." jawab Erna sedikit senyum.
"Makasih ya, Ern. Aku sama Tini juga sudah putus." katanya lesu.
"Hah? Emang kenapa Tik? Pantas saja kata ibunya dia sedang menangis dan mengurung diri di kamar." cerita Erna.
"Iya, Ern. Kami berdua sudah putus. Saat menuju rumahnya kala saat pulang dari rumah kamu, aku dihina habis habisan sama ibunya. Dikatai pria miskin, sok ganteng dan tak bersekolah." kata Tikno berusaha tegar saat mengatakannya.
Astaga, Mendengar itu Erna sangat geram. Bu Nunung tak sadar jika anaknya juga hanya tamatan SMA itupun mengikuti ujian paket karena tidak lulus. Malah ia sekarang menghina Tikno yang sedang berkuliah untuk mendapat gelar walau pekerjaannya sekarang hanya cleaning service.
"Begitulah wajah asli ibunya Tini, Tik. Tapi aku saranin, jika kalian saling mencintai maka kamu harus berjuang. Terlepas dari sikap buruk ibunya sama kamu. Anggap saja itu ujian." kata Erna memberi semangat.
"Iya sih, Ern. Tapi mikir juga aku sama sikapnya Tin. Gak dewasa malah main nuduh aja sembarangan. Malu aku Ern jadi bahan tontonan kemarin." katanya.
"Ya, semuanya kembali ke kamu Tik, aku hanya bisa kasih saran seperti itu." jawab Erna.
Setelah curhat, Mereka berdua kembali lanjut bekerja. Mereka membersihkan serta menata meja untuk seminar nanti. Pasti banyak tamu penting yang hadir, mengingat ini seminar para pengusaha.
Erna bekerja keras karena kata Pak Danung, mereka akan mendapatkan bonus. Tentu saja itu membuat Erna sangat bersemangat.
Setelah ruangan sudah selesai, mereka segera menuju kebelakang untuk istirahat.
"Gila, Ern. Para pengusahanya keren keran." kata Ima.
"Namanya juga pengusaha, Ma." jawabnya.
Hari sudah siang dan waktunya mereka untuk lunch. Para pelayan sibuk menata makanan di meja prasmanan dan Erna juga sibuk membersihkan lantai.
__ADS_1
Erna menyudahi aktivitasnya kala melihat para orang orang penting itu keluar dan mengambil makanan.
BRAAKKK!