Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 6


__ADS_3

I----ini pacar kamu, Tin?" tanya Bu Disa dengan terbata.


Tini menganggukkan kepalanya lalu netranya kembali menatap Erna dengan sinis.


"Tapi si Erna berusaha merebutnya dari aku!'' teriak Tini.


"Gila kamu, Tin. " cetus Erna tak terima dikatakan seperi itu.


"Pantesan tadi ibu lihat dia boncengan sama Mas ini.'' ujar bu Jira.


"Tin, aku kan udah jelasin. Kamu mah kayak anak ABG aja, main cemburuan buta kayak gini. Malu aku Tin." kata Tikno.


"Tuh, lihat ibu ibu, pacar aku malah belain Erna."


"Tik, mending kalian bertengkar aja di rumahnya si Tini. Aku mau masuk ke dalam dulu." cetus Erna kesal dan melangkah untuk masuk.


"Woi, Ibu sama anak sama aja tukang perebut laki orang!'' teriak bu Disa.


Seketika dari kuping Erna seperti keluar api yang sangat panas. Dia berbalik dan langsung berjalan ke arah Bu Disa.


"Mau saya ulek mulut ibu?'' ujarnya melotot pada Disa.


"Aaa...ampun, Er. Saya gak---" katanya terbata.


"Gak apa?'' bentak Erna di depan wajahnya.


Ia sudah ketakutan melihat emosi Erna yang memuncak. Erna bisa terima sedari tadi perbuatan dan perkataan mereka, tetapi jika sudah menyangkut ibunya maka jangan diharap dia akan diam saja.


"Hey, Erna. Kamu jangan kurang ajar gitu dong sama orang tua." kata Bu Jira.


"Heh, orang tua ini saja mulutnya kayak comberan, mau dihormatin gitu? kalau mau dihormati, jaga kata kata kalian, tiap hari kerjanya hanya membicarakan orang aja, makanya itu mulut dijaga!!" ketus Erna penuh emosi.


Mereka semua nampak ketakutan mendengar teriakan Erna. Tapi yang gadis itu herankan, mengapa sedari tadi ibunya tidak keluar padahal mereka sedang ribut di depan rumahnya. Sepertinya benar, Erna harus membawanya ke dokter THT.


"Bubar kalian! Sebelum saya lapor ke polisi pencemaran nama baik, Ibu bisa dipenjara." ancam Erna.


Mendengar Erna menyebut nama polisi, seketika raut wajah Bu Disa dan Jira menciut dan pucat.


"Aku punya buktinya. Ini aku rekam." katanya sambil mengangkat ponselnya tinggi tinggi.

__ADS_1


"Maafin kami, Erna. Masa sama tetangga sendiri kamu tega gitu." ucap Bu Disa.


"Iya, Er. Maafkan kami ya." tambah Bu Jira.


"Makanya cepat sana bubar! Urus rumah kalian yang halamannya gak pernah di sapu itu, bukannya malah ngurusin hidup saya dan ibu saya!" ketusnya kesal.


Seketika mereka berdua langsung kocar - kacir menuju rumahnya masing masing. Sedangkan Tikno dan Tini masih berada disitu.


"Dan kamu Tik, tolong selesaikan masalah kalian sendiri tanpa membawa namaku. Dan jangan lagi disini, Silahkan kalian cari tempat untuk bertengkar. Halaman rumahku bukan ring tinju!'' kata Erna dengan masih kesal dan marah.


"Maaf ya, Er. Aku sudah buat keributan disini." kata Tikno merasa tidak enak hati.


Sedangkan Tini hanya menatap Erna sinis dan tak suka. Toh, Erna tidak peduli dengan perkataannya. Menanggapi si Tini sama aja dengan mencari masalah besar. Ia tidak akan mau kalah sama seperti ibunya.


Akhirnya mereka berdua pergi dengan saling berboncengan. Tini memeluk erat Tikno sambil mencibir ke arah Erna.


"Dihhh, jijay...." cetus Erna lalu masuk ke dalam rumahnya.


Erna penasaran dengan ibunya yang sedari tadi kelihatan semenjak Erna keluar.


"Ibuuuuuu??'' teriak gadis itu.


Benar saja, dari pintu belakang saja Erna sudah bisa mendengar musik dangdut dari radio kecil miliknya. Inilah sebabnya ia tak mendengar suara ribut di luar. Ah, bagus juga ia tak mendengar sebab pasti akan melukai hatinya juga.


"Bu." panggil Erna saat sudah berada disampingnya.


"Eh, anak ibu. Sudah makan?'' tanyanya sambil berhenti dari aktivitasnya menanam kunyit.


"Belum, Bu." kata Erna manja sambil memeluknya.


"Ih, kamu kenapa sih Er? Kok jadi manja manja gini sama ibu?" kata ibunya sedikit heran melihat kelakuan anaknya itu.


"Emang salah?'' Erna menggerutu sambil memajukan bibirnya.


"Gak sih, tapi tumben aja." jawab ibunya.


"Biarin." jawabnya sambil senyum.


Apa karena Erna dan ibunya tidak memiliki pelindung dalam rumah tangga jadi mereka seenaknya mengatai mereka seperti itu? Untung saja ibunya tidak mendengarnya. Jika tidak, pasti lah ia merasakan sakit hati. Erna sungguh tak terima dengan perkataan mereka yang merendahkan dia dan ibunya.

__ADS_1


Erna mengajak ibunya untuk menyudahi pekerjaannya karena hari sudah mulai petang menjelang gelap.


"Masak apa hari ini, Bu?'' tanya Erna.


"Ibu masak ikan bakar sama tumis sawi, mendingan kamu mandi dulu deh Nak baru makan,'' kata sang ibu.


"Siap ibuku, sayang." jawab Erna dengan senyum dan langsung beranjak mengambil handuk.


Kurang lebih 20 menit, akhirnya ia kelar mandi dan langsung mengeringkan tubuhnya pakai handuk serta memakai pakaiannya. Tidak lama kemudian dia berjalan menuju meja makan. Ibunya sudah menunggu di sana dan langsung menghidangkan makanan yang sudah tersedia di meja makan. Ibu dan anak itu makan dengan lahap sembari bergurau. Begitulah pasangan ibu dan anak itu ketika sudah di rumah, saling bercanda dan saling berbagi suma bersama. Selesai makan, Erna langsung mencuci piring dan merapihkan meja makan.


"Jahitan ibu masih banyak?'' tanya Erna sambil melirik ke dalam ruangan jahit ibunya.


"Lumayan, Er. Pakaian ibu - ibu bhayangkari." jawabnya.


Erna lalu duduk bersama ibunya menonton tv. Mereka berdua larut dalam tontonan tanpa saking seriusnya.


Tok tok tok tok....


"Siapa itu, Er?" tanya ibunya membuyarkan keheningan diantara mereka.


"Mana Erna tau, Bu." jawabnya enggan bangun untuk membukakan pintu karena matanya masih serius ke tv.


Tok tok tok tok....


Pintu rumahnya diketuk kembali dan dengan rasa malas dan enggan untuk bangkit berdiri, akhirnya dia seperti ogah tidak ogah berjalan ke arah pintu. Tetapi dia masih rada sedikit takut untuk membukanya.


Tok tok tok tok.....


"Siapa?" tanya Erna sedikit berteriak dari dalam.


"Saya tetangga sebelah." jawabnya dari luar.


Klek!


Pintunya perlahan Erna buka dan nampaklah seorang wanita berdiri membelakanginya.


"Halo," sapa Erna sedikit pelan dan takut.


Saat ia berbalik, betapa terkejutnya Erna.

__ADS_1


"Loh, Kamu???''


__ADS_2