Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 59


__ADS_3

"Saya ......"


Marni tidak melanjutkan kata katanya karena sudah mendapat kode dari si Santo untuk tetap diam.


"Kalian kenapa?!'' selidik Nunung.


Santo takut jika Nunung tahu, maka ia akan mengamuk hebat. Santo sudah cukup malu dengan kejadian di dalam tadi saat Nunung membuat keributan.


"Ayo cepat naik ke mobil, Bu. Bapak udah gak kuat lagi," kata Santo mengalihkan pembicaraan.


Tetapi bukan Nunung namanya jika ia tidak bisa membaca gelagat mencurigakan di antara kedua manusia itu.


"Apa ini perempuan yang mau kau nikahi, Pak?!'' bentak Nunung.


"Huss, Bu tenang dulu dong. Malu kalo sampe di dengar orang," ujar Santo pelan memberi pengertian pada istrinya.


"Oh, ternyata benar!'' ujar Nunung.


Matanya menatap Marni dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu dengan barbar, Nunung mendorong tubuh wanita itu hingga Marni terjatuh ke aspal.


"Astaga, Marni!!'' teriak Santo.


Santo melepaskan tangannya dari Nunung yang masih sempoyongan dan langsung menolong Marni.


Brukk!!


Nunung juga terjatuh di lantai karena tak bisa menahan pusing di tubuhnya. Santo yang melihat itu jadi kewalahan sendiri. Semua serasa serba salah baginya.


"Astaga, kenapa jadi ribet begini sih," ucapnya frustasi.


"Loh? Ibu yang tadi ngamuk kok malah duduk disini?'' tanya seorang Perawat.


"Aku bukan duduk bego! Tapi jatuh, cepat tolongin aku," ujar Nunung.


"Eh, bukannya udah sehat? Tadi kan mintanya mau pulang," ujar si perawat.


"Jangan banyak bacot kamu! Cepat tolongin saya." ketus Nunung.


Sedangkan si Santo sudah berlalu ke dalam membawa si Marni. Kondisinya yang sedang hamil muda membuat Marni lemah.


"Tolong istri saya," seru Santo ke perawat yang ada di sana.


"Loh, bukannya istri bapak yang tadi minta pulang itu ya?" ujar seorang perawat yang sedang kebingungan.

__ADS_1


"Ini juga istri saya. Jadi jangan banyak tanya lagi," jawab Santo.


"Oalah, gitu ya. Banyak amat istrinya. Semoga yang ini gak ngamuk kayak tadi," ucap pelan si perawat pada temannya.


Sungguh apes si Santo hari ini, kedua istrinya sama sama membuatnya repot.


*********


Di Kampung Julid


Seperti biasanya, hari hari pada biang julid tanpa Nunung terasa sedikit berbeda. Bu Nengsih si pemilik warung merasa kehilangan salah satu pelanggan setia gorengannya. Biasanya jika sehabis goreng, Nunung langsung membelinya dan makan di tempat. Ia sendiri bisa menghabiskan lime belas ribu hanya untuk makan gorengan saja. Itulah yang membuat Nengsih Merasa kehilangan sosok Nunung.


Hari sudah menjelang sore, para ibu ibu sedang ngumpul sedang bergosip ria.


Tiba tiba sebuah taksi berhenti di depan warung. Nampak Tini dan Nunung keluar dari taksi itu.


"Bu, rumah kita masih di sana. Ngapain turun disini?'' kata Tini kesal.


"Lah, aku gak nyuruh kamu turun disini. Aku yang mau turun, mau ngumpul sama teman teman aku," ujar Nunung.


"Tapi kan ibu masih sakit," kata Tini khawatir.


"Ah, udah sehat kok. Sekarang kamu pulang, nanti ibu bakal nyusul," ucapnya lalu menghampiri para rekannya yang sedang duduk menatapnya.


"Orang tak sakit," jawab Nunung santai.


"Tapi tadi kamu pingsan, Nung. Mukamu aja masih pucat kayak gitu." kata Fira.


"Aku gak sakit. Itu cuma tidur, kalian aja yang lebay!'' ketus Nunung.


Semua yang ada di sana hanya bisa menggelengkan kepala mereka mendengar ucapan Nunung. Nampak Nengsih yang baru saja keluar membawa senampan gorengan jualannya, terkejut melihat kehadiran Nunung.


"Udah sehat, Nung?''


"Udah, Neng. Sini mau mau makan gorengan kamu," katanya sembari mencomot tahu goreng isi yang masih hangat dan memakannya.


"Bagus deh, nafsu makan kamu udah balik," timpal Nengsih.


"Nafsu makanku enggak pernah hilang tau,"


"Laki kamu mana? Kok pulangnya pakai taksi?'' tanya Fira.


Seketika raut wajah Nunung berubah menjadi sedih. Ia kembali teringat Santo yang membopong tubuh Marni masuk ke dalam UGD, sementara dirinya tergeletak lemah di lantai.

__ADS_1


"Nung?'' panggil Fira.


"Eh, Mas Santo lagi balikin mobilnya ke kantor. Makanya Aku sama Tini naik taksi." ujarnya bohong.


"Oh, pantesan aja datangnya bareng sama seorang cewek. Mungkin teman sekantornya." ujar Disa yang sengaja memancing Nunung.


"Iya, Dis." jawab Nunung seadanya.


"Hati hati loh, Nung. Jangan biarkan si Santo terlalu dekat sama cewek lain, lama lama bisa diembat si Santo itu. Secara nih ya, laki kamu itu banyak duit," ucap Fira.


"Iya, Benar tuh kata si Fira. Kudu hati hati, Nung. Jaman sekarang mah, pelakor banyak jenis." timpal Ros.


"Ah, dasar tetangga aneh. Habislah riwayatku jika mereka tahu yang sebenarnya. Bisa bisa aku bakal digosipin setiap hari. Ini saja mereka sudah mulai curiga," batin Nunung.


"Amanlah soal itu. Mas Santo sudah cinta mati sama aku."


Yang lain hanya menatap Nunung dengan tatapan kasihan. Mereka sudah mengetahui semuanya meski belum pasti berdasarkan cerita si Disa saat melihat Santo di rumah sakit tadi.


Setelah menghabiskan gorengan tujuh biji, Nunung lalu hendak pamit pulang. Namun, belum juga ia berpamitan, sebuah mobil sedan berbelok masuk ke dalam halaman warung Nengsih.


Tampaklah si Santo turun dari dalam mobil tersebut.


"Loh, katanya si Santo nganterin mobil ke kantor, ini kok malah pulang lagi?'' kata Fira.


"Enggak tahu juga," jawab Nunung bingung.


"Bu, kok belum pulang ke rumah?'' tanya Santo pada Nunung.


"Masih makan gorengan Nengsih. Bapak sendiri kok udah pulang?''


"Yah, bapak khawatir sama kondisi ibu, makanya kesini lagi," ujar Santo.


"Loh, bukannya kamu tadi sama seorang wanita ya?'' timpal Disa nimbrung.


Degh!


Santo langsung merasa gugup kala ketahuan sama Disa.


"Hah? Oh, itu teman kerja saya, Dis." jawab Santo bohong.


"Lah, kalo teman kerjanya, kok dia bisa ikut kesini?''


Semua mata tertuju pada mobil Santo yang kaca depannya bisa kelihatan ke dalam.

__ADS_1


Ah, kena. Sialan!!!!


__ADS_2