
"Bu.... Ibu..??"
Erna menepuk pipi ibunya pelan sembari memanggilnya tetapi wanita paruh baya itu sudah tak sadarkan diri. Sekuat tenaga Erna membawa ibunya ke kamarnya lalu membaringkannya di atas kasur.
Dia langsung mengolesi minyak kayu putih ke sekujur tubuh ibunya, berharap ibunya bangun.
"Bu, bangun bu,'' katanya sambil menangis.
Ternyata ibunya serapuh itu ditinggalkan oleh Bapaknya. Selama ini ia tak pernah menunjukkan rasa sedihnya hingga seperti ini. Tetapi mungkin ini puncak dari rasa sakit hatinya.
"Bapak sangat keterlakuan, teganya ia datang hanya untuk menyakiti ibu,'' batin Erna.
Malam itu, Ia memilih tidur bersama ibunya. Dia memeluk erat tubuh sang ibu serta wajahnya ditatapnya yang masih pucat pasi. Gadis itu kembali menangis melihat ibunya yang lemah seperti itu. Tak tega rasanya membiarkan ibunya menanggung semua sakit hatinya sendiri. Erna harus membahagiakan ibunya apapun caranya.
Pagi harinya, gadis itu tersadar saat pukul 4 subuh. Dia segera bangun dan langsung mengecek kening ibunya yang ternyata demam. Erna langsung mengambil selimut lalu menyelimuti tubuhnya.
"Lebih baik hari ini aku ijin saja tak masuk kerja. Tak mungkin aku meninggalkan ibu sendirian dalam keadaan sakit begini.'' gumamnya.
Erna bergegas ke dapur dan membuatkan bubur untuk ibunya. Dia juga memanaskan sisa makanan semalam untuk dijadikan sarapan. Sambil menunggu bubur matang, Erna pergi ke kamar untuk kembali mengecek ibunya.
Mata sang ibu masih terpejam rapat, tetapi ia menangis. Gadis itu sungguh khawatir dengan kondisi ibunya yang sekarang.
"Bu,'' katanya pelan membangunkannya.
Ia tak merespon panggilannya dan tetap tertidur. beberapa kali Erna coba tetapi tetap saja ibunya tak bangun.
Erna memutuskan kembalil ke dapur untuk mengecek bubur yang dimasak. Setelah matang, kkompornya langsung dimatikan. Erna masih sangat khawatir karena ibunya tak kunjung bangun dan hanya terus menangis.
Hari sudah mulai terang, Erna membuka tirai jendela dan mematikan lampu. Tak lupa memberi makan ayam di kandang. Dia langsung kembali ke kamar dan ternyata ibunya sudah bangun. Ia sedang duduk bersandar di tempat tidur tetapi tatapannya kosong. Erna mendekat dan menyentuhnya pelan agar tak kaget.
"Ibu,'' panggilnya.
Ia tak menyahut dan hanya melihat ke arahnya. Matanya begitu sembab dan sangat sendu. Hati gadis itu tak sanggup melihat ibunya yang biasanya ceria dan cerewet berubah seperti itu karena kedatangan bapaknya.
"Ibu makan ya.'' katanya.
Ia kembali menggelengkan kepalanya tanda tak mau.
"Ibu harus makan, Erna sudah siapkan bubur dan teh hangat. Lambung ibu harus terisi agar tak sakit.'' bujuk Erna.
__ADS_1
Tanpa menunggu persetujuan dari ibunya, Erna langsung ke belakang mengambil makanan untuk ibunya.
"Erna suapin ya, Bu.''
Suapan pertama ia tak terima, Ibunya memalingkan wajahnya.
"Bu, Ibu harus makan supaya gak sakit. Ingat bu, bertahun tahun kita hidup sendiri tetapi ibu gak pernah ngeluh. Tetapi kenapa setelah bertemu bapak ibu jadi lemah seperti ini?'' kata Erna melihat ibunya.
"Bapak tega sama kita Ern..'' kata Idah pelan.
"Iya, Aku tahu, Bu. Tapi percuma meratapi manusia tak berhati sepertinya. Dimana ibu yang ceria dan cerewet itu?''
"Ern, Apa kamu gak sayang sama bapakmu?''
"Gak, Erna hanya sayang sama ibu.'' jawabnya.
Ibunya menarik nafasnya berat lalu dihembuskan.
"Makan ya Bu.'' katanya sambil menyuapinya.
Akhirnya ibunya menerima suapan demi suapan hingga bubur di mangkok habis tak tersisa. Tak lupa sehabis makan Erna memberinya obat dan menyuruhnya beristirahat agar pulih.
"Ern, Kamu gak kerja Nak?''
"Udah diijinkan?'' tanya ibunya lagi.
"Udah kok, Ibu gak perlu khawatir.'' jawabnya. "Yaudah ibu istirahat.''
Karena hari ini Erna tak masukkerja, Ia akan menggantikan pekerjaan ibunya di rumah. Pertama tama, Dia menyapu halaman yang dipenuhi dedaunan. Rumah mereka halamannya cukup luas dan ibunya menanaminya dengan pohon mangga, lengkeng, dan jambu air. Juga ada pohon belimbing dan nangka yang sementara berbuah.
Jadilah halaman ini harus disapu setiap hari. Setelah menyapu halaman, dia lanjut menyiram bunga yang sedang mekar. Ibunya memang sangat rajin bercocok tanam di halaman rumahnya dan membuatnya menjadi lebih indah. Rasanya segar sekali melihat tanamannya basah kena air.
"Hey Erna, kamu gak kerja?'' tanya Bu Disa dari balik pagar.
"Gak Bu, mau nyantai,'' balasnya tanpa melihatnya.
"Widiiih sok soan,'' katanya lalu berjalan menuju tempat tongkrongannya.
Erna pun kembali melanjutkan pekerjaan rumahnya yang belum selesai. Menyapu, mengepel serta mencuci pakaian.
__ADS_1
Pukul 10 pagi akhirnya pekerjaannya semua selesai, rasanya sungguh capek juga mengurus pekerjaan rumah karena baru kali ini dia yang mengerjakan semua.
Dia beristirahat sebentar lalu pergi melihat Ibunya ke kamar. Ia masih tidur nyenyak tapi sudah tak demam lagi.
"Syukurlah, Ibu gak demam lagi." monolognya.
"Masak apa, masak apa, masak apa sekarang? Sekarang masak apa, masak apa sekarang?"
Gadis itu bersenandung sembari melihat isi kulkas mencari bahan makanan. Namun sayang, kulkasnya kosong karena ibunya belum belanja.
"Sayurrrrr..... Sayuuurrrr...."
Pucuk dicinta ulam pun tiba. Tukang sayur datang di waktu yang tepat.
Erna langsung berlari ke depan, rupanya dia nangkring di depan Bu Disa. Sebenarnya dia malas sekali bertemu geng julid, tetapi karena urusan perut dia harus melupakannya.
"Bu Emah, Mau sayur ini, Ayam, Ikan, Tahu dan tempe sama bumbu dapurnya ya." kata Erna langsung sembari mengambil beberapa bahan belanjaannya.
"Oke, Neng cantik. Tumben hari ini baru kelihatan." kata Bu Emah si penjual sayur.
"Lagi ijin gak masuk kerja, Bu." jawabnya ramah.
"Oalah, gitu toh." katanya sambil menyiapkan belanjaan Erna.
"Siapa itu semalam ke rumah kamu Erna?" tanya Bu Fira.
"Lah, kamu gak tau Fira, itu si Heri, lakinya Idah." kata Bu Nunung.
"Hah?'' Bu Disa dan Fira terkejut secara bersamaan.
"Itu loh si Heri yang tampan dan necis. Dia sama wanita muda, mungkin bininya yang baru. Cantik mulus beda sama Idah yang sudah tua." kata Bu Nunung.
"Wah, Bapak kamu udah jadi orang kaya Erna, nyesel loh kalau gak dimanfaatin." ujar Bu Disa.
"Totalnya berapa Bu Emah?" tanya gadis itu tak peduli dengan ibu ibu julid.
"Totalnya 145 ribu aja Neng." kata Bu Emah.
"Cabenya juga bu, kelupaan." kata Erna sambil memberikan cabenya.
__ADS_1
"Ini Neng, totalnya 160 ribu." kata Bu Emah.
Erna langsung membayar dan pergi dari situ. Tak tahan lama lama mendengar omongan ibu ibu kurang kerjaan itu. Dari tadi milih sayuran gak selesai selesai.