Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 14


__ADS_3

BRRAAAKKK!


Tanpa sengaja seorang lelaki yang mungkin salah satu pengusaha itu menjatuhkan gelas yang ia pegang.


Dengan cepat gadis itu meraih peralatan pembersih lalu dengan sigap membersihkan pecahan gelas beserta air yang tumpah.


"Maafkan, saya. Saya tidak sengaja. Biar saya ganti rugi," ucapnya dengan baik kepada Pak Danung yang langsung turun tangan.


"Tidak masalah, Pak. Itu bisa diatur." jawab Pak Danung.


Erna hanya mendengarkan mereka berbicara sambil terus bekerja. Enaknya jadi orang hebat, mereka tak akan dimarahi. Lain halnya dengannya yang hanya memecahkan gelas, pasti sebagian gajinya akan dipotong untuk ganti rugi.


"Erna, pastikan semua bersih dan tak berbekas." ujar Pak Danung.


"Baik, Pak." jawabnya.


Setelah selesai membersihkannya, Erna kembali kebelakang untuk membuang sampah pecahan gelas itu.


"Ern, bantuin aku dong ke dalam aula. Katanya ada yang jatuhin piring."ucap Ima.


"Astaga, barusan gelas sekarang piring. Apa pengusaha pengusaha itu hobinya memecahkan barang?'' ujar gadis itu tak habis pikir.


"Ih, cepat jangan banyak bacot. Entar kita dimarahi Pak Danung kalau kerjanya lelet.'' kata Ima.


Benar juga, Erna tak mau kena semprot darinya. Dengan cepat mereka berdua menuju aula untuk membersihkan piring yang pecah. Mereka berdua sangat gugup memasuki ruangan itu. Tetapi mau tidak mau itu sudah menjadi tugas mereka. Dua wanita itu berjalan cekatan hingga semua bersih dan tak berbekas.


"Apakah kamu Erna?''


Seorang lelaki paruh bya bertanya kepada gadis itu.


"Iya, Pak.'' jawabnya sedikit menunduk memberi hormat.


"Benar kamu Erna anaknya Idah?''

__ADS_1


Hah? Dia tau nama Ibunya?


"Iya, memangnya bapak siap?'' tanyanya sedikit terkejut dan bingung juga terlihat di raut wajah Erna.


Erna mangamati pria paruh baya yang sangat modis di hadapannya itu. "Apa kamu tidak mengenaliku?'' tanyanya.


Erna yang merasa tak enak berdiri lama lama di sana langsung saja pamit keluar.


"Maaf, Pak. Saya permisi dulu.'' ujarnya.


Erna langsung mengikuti Ima untuk kembali kebelakang.


"Kalian bicara apa Ern?'' tanya Ima.


"Gak, Ma. Dia yang bertanya kepadaku. Apa aku mengenalnya atau tidak,'' jawabnya.


"Hhhmm, Jangan jangan dia kenal sama kamu Ern.''


Atau jangan jangan itu teman ibunya atau kenalan ibunya. Wah, hebat juga ibunya bisa punya teman pengusaha.


"Hey Ern, kamu ngelamunin apa sih? Ayo kita makan siang,'' ajak Ima yang melihat erna kelihatan masih sedang memikirkan sesuatu.


Dengan semangat dan senyum, dia langsung mengambil kotak nasi yang dia bawa dari rumah dan langsung menyantapnya. Dia juga memabgi lauknya untuk Tikno dan Ima.


"Enak bangat Ern, sering sering bawain ya,'' ujar Tikno sembari senyum.


"Kamu mah semua diembat deh, Tik!''  kata Ima.


"Udah, jangan bicara sambil makan, nanti keselek loh,'' kata Erna melihat kedua temannya itu yang berebutan lauk yang dibawa Erna.


Mereka bertiga makan dengan lahap karena jam itu juga sudah lewat jam makan siang ditambah mereka juga sudah kelaparan. Setelah makan, mereka bertiga duduk berselonjoran kaki sembari menunggu tugas berikutnya.


"Sebentar lagi kita pulang ya?'' kata Tikno.

__ADS_1


"Pasti gak bakalan tepat waktu, Tik. Soalnya bagian aula itu masih harus kita yang ambil alih kan tadi kata Pak Danung,'' kata Erna melihat temannya itu.


"Gak masalah sih, asal bonusnya juga seimbang aku mah bakal rajin,'' timpal Ima.


"Betul juga.''


Mereka bertiga bercanda satu sama lain hingga hari sudah menjelang sore dan tugas mereka pun sudah selesai. Pak Danung berterima kasih atas kinerja kami semua dan ia akan mentransfer bonus kami langsung ke rekening masing masing.


"Kalau setiap hari gini, kan bagus.'' kata Ima dengan senang dan sumringah.


"Tapi capek juga loh,'' balas Erna.


"Iya juga yah, kita perlu istirahat.'' kata Ima.


Erna dan Ima pulang dengan naik angkot seperti biasanya sedangkan Tikno sudah pulang duluan.


"Ern, aku duluan ya.'' pamit Ima karena mereka beda arah.


"Iya, Ma. Hati hati ya.'' ujar Erna sambil melambaikan tangannya.


Angkot yang dinaki Ima sudah pergi dan tinggal Erna yang sendirian di sana. Tumben memang hari itu angkot jurusan rumahnya lama sekali, padahal biasanya paling cepat atau bahkan bisa ngetem di sana dan Erna bisa yang duluan pulang dari temannya itu.


Tin... tin... tin....


Erna mnoleh ke arah mobil yang membunyikan klasonnya. Sebuah mobil mewah berwarna biru metalik berhenti di depan gadis itu. Tak lam pintunya terbuka dan keluarlah seorang lelaki tadi yang menanyainya di aula.


"Kamu belum pulang?'' tanyanya sembari menghampiri gadis itu.


"Belum, Pak.'' jawabnya santai.


"Apakah kamu masih tinggal bersama Idah di rumah lama kita?''


DEGH!

__ADS_1


__ADS_2