
Krek......
Pintu terbuka dan masuklah seseorang. Ketika Erna berbalik, ia melihat ternyata yang masuk adalah Hari.
"Selamat sore semuanya," ujarnya.
"Iya, selamat sore Pak Hari." jawab Arman.
"Ada apa ini?'' tanya Hari.
Akhirnya Arman menjelaskan kejadiannya pada Hari. Wajah Hari seketika menjadi muram saat menatap Erna sang putri kandungnya sendiri.
"Dasar anak tidak tahu diuntung!" ucap Hari pelan tapi menusuk sampai ke ulu hati gadis itu.
Air matanya langsung menetes tanpa bisa ditahan lagi. Erna menangis sesenggukan, hatinya begitu sakit dan teriris sekarang. Hari sangat jahat, seorang Bapak yang dengan gampang bisa melukai hati putrinya sendiri.
Erna sudah tidak tahan lagi berada di dalam ruangan pak Arman. Ingin rasanya ia berlari keluar dari sana dan pulang ke rumah.
"Kalo bisa pecat saja tutor model begini, Pak. Bukannya apa, saya takutnya menjadi momok disini. Etika harus di junjung tinggi." ucap Hari.
__ADS_1
Pak Arman melihat ke arah Erna dengan tatapan iba. Kalo ia dipecat sekarang maka hancurlah dirinya.
Erna disuruh keluar dari ruangan Pak Arman. Di luar Nay sudah menunggunya. Nay yang melihatnya menangis langsung merangkul gadis itu.
"Kita pulang aja ya." ujar Nay.
Erna mengangguk dan menahan air matanya yang ingin tumpah meruah di sana. Perkataan bapaknya sungguh benar benar melukai hatinya. Baru kali ini ia mendapat perkataan buruk dari bapaknya sendiri.
Sesampainya di gang depan untuk menunggu angkot, mobil bapaknya berhenti tepat di samping mereka.
"Erna, besok kamu tidak usah datang lagi mengajar. Pak Arman sudah memecat kamu. Sekali lagi saya mengetahui kamu membentak istri saya, maka saya tidak akan segan segan menampar kamu! paham itu!'' ucap Hari tegas.
"Erna? Mereka kenapa jahat sekali?" tanya Nay yang bingung.
Erna sudah merasa sangat pusing, itu tak adil baginya. Kenapa semua terjadi begitu saja? Erna menangis sejadi jadinya dipinggir jalan. Tak lagi peduli dengan orang orang yang mungkin saja melihatnya.
"Ern, enggak usah nangis. Siapa tau mereka bohongin kamu biar kamu takut. Besok kita tanya langsung ke Pak Arman soal ini. Aku yakin kamu akan terus bekerja." ucap Nay menguatkan.
Ah, benar juga yang dikatakan Nay. tapi hatinya benar benar sudah sangat sakit. Jika benar dipecat, maka ini menjadi kedua kali ia kehilangan pekerjaan karena ulah keluarga baru bapaknya.
__ADS_1
Mereka berdua menaiki angkot menuju ke rumah masing masing, seperti biasa, Erna turun duluan. Langkahnya begitu gontai tak bersemangat sama sekali. Mimpi buruk apa gadis itu semalam, sehingga mengalami hari tak mengenakkan seperti ini.
Kata kata bapaknya terus terngiang di benaknya. Ia begitu sakit hati sehingga air matanya kembali jatuh berderai. Saat sampai di rumah pun ia tak menegur ibunya dan para ibu ibu yang ada di sana. Tak ingin memperlihatkan kesedihannya di depan orang lain.
Saat masuk kamar, Erna tak bisa membendung air matanya lagi. Ia menangis bersuara mengeluarkan semua kesedihannya. Hingga panggilan ibunya pun tak ia hiraukan lagi.
Satu jam berlalu, barulah ia keluar dari kamar. Ibunya langsung memeluknya dan mengusap kepalanya.
"Kenapa, Nak?'' tanya Idah.
Erna tak ingin menceritakan hal itu pada ibunya karena ia tahu pasti hatinya akan terluka. Tetapi, ia merasa tidak mampu jika tidak bercerita pada Idah. Akhirnya ia menceritakan semuanya pada ibunya. Benar saja ibunya begitu syok.
"Ibu tidak bisa biarkan kami dihina terus sama bapakmu. Ibu akan buat perhitungan," ujar Idah geram. "Lihat saja kau Heri, akan kuhajar kamu sampai babak belur!"
Erna mendengar suara mobil memasuki pekarangan rumahnya. Ibu dan anak itu lalu bergegas ke depan dan ternyata yang datang adalah Heri.
"Di......"
Bugh!!
__ADS_1
Mata gadis itu terbelalak melihat adegan di depannya. Ibunya terlalu hebat.