Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 65


__ADS_3

Bugh!!!!


Mata Erna membelalak melihat adegan yang terjadi di depan matanya.


"Ibuku sungguh hebat," ucapnya spontan tanpa sadar.


"Kenapa kamu lakuin hal itu ke Erna, hah?! Apa salah dia sama kamu, Hari!" bentak Idah dengan wajah yang sudah emosi dan kesal.


"Awwh!'' jerit Heri yang terjatuh usai ditendang Idah.


Gerakan Idah yang cepat dan tidak terduga membuat Hari langsung tepar di tangga.


"Gila kamu! Mau saya laporin kamu ke polisi?!" ujar Tari sambil membantu Heri bangun.


"Silahkan lapor sekarang juga! Kamu pikir aku takut?!'' tantang Idah sambil berkacak pinggang.


"Kaki aku sakit bangat, Ma." rengek Heri sama Tari.


"Emang enak? Itu sakit belum ada apa apanya dibanding sakit hati anakku yang sudah kamu buat, Heri! " geram Idah.


"Dasar wanita barbar tak tau malu. Pantas saja Mas Hari enggan berlama lama dengan kamu!'' ujar Tari sinis.


Idah yang masih emosi langsung mengambil sapu yang ada di dekat pintu dan langsung menghajar kedua orang itu.


"Pergi kalian manusia yang enggak tau diri! Kami enggak pernah minta makan atau uang sama kalian. Jadi stop mengganggu hidup kami!'' bentak Idah sambil memukul mereka hingga meninggalkan halaman rumahnya.


"Eh, Idah? Kamu kesurupan ya?'' kata Heri.


Plakk!!


Gagang sapu yang di pegang Idah memukul telak mulut Heri.


"Awhh!!! Bibirku," ucapnya kesakitan sembari memegang bibirnya.


"Hei, Idah! Dasar wanita gak tau malu. Berhenti pukuli kami, kamu kira kami ini kambing, ha?!'' kata Tari emosi.

__ADS_1


"Iya. Kalian emang kambing! Ah, tidak. Bahkan lebih buruk dari itu!'' bentak Idah.


Idah terus mengayunkan gagang sapu ke arah mereka berdua hingga kedua orang itu kewalahan.


Para tetangga sudah berdiri di pinggir jalan menonton adegan itu dengan tertawa.


"Ibu, Udah, Bu." kata Erna melerai.


"Enggak, Nak. Biarkan ibu menghajar kedua mulut manusia tak tahu malu ini. Mereka bukan siapa siapa kita tapi menyusahkan saja." ketus Idah.


"Aku, Bapaknya Erna!'' teriak Heri.


"Hah? Apa? Bapaknya Erna? Setelah apa yang kamu lakukan, kamu masih mengakui dirimu sebagai bapak?!'' kata Idah penuh emosi.


Plakk!!


Gagang sapu itu kembali Idah ayunkan ke kaki Heri.


"Pegi kamu, Heri! Sebelum aku murka. Ingat, sekali lagi kamu mengganggu ketenangan putriku, kamu berurusan dengan Idah!" ancam Idah.


"Mas, sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum mantan istrimu membunuh kita berdua," ujar Tari.


Plak!!


Dengan sigap kembali gagang sapu itu mendarat di mulut Heri.


"Sekali lagi mulutmu menyebut nama kami, aku akan sobek mulutmu itu dengan tanganku sendiri!'' ketus Idah.


"Awas kau, Idah! Urusan kita belum kelar. Aku akan datang kembali kesini merebut rumah ini." kata Heri dengan tidak tau malunya.


"Dan mulut kau Erna, kupastikan kau keluar dari tempat kerjamu!'' ujar Tari sambil menunjuk Erna.


"Hahaha, kalian pikir aku takut dengan ancaman kalian? Putriku tidak akan berhenti bekerja. Karena ia berusaha dengan keringatnya sendiri. Tuhan tidak tidur. Dan untuk kau Heri, semoga otakmu yabg kolot itu cepat sadar. Ini rumah milikku, tak ada campur tanganmu di dalamnya. Sampai kamu mengusikku lagi dengan rumah ini, lihat saja akibatnya!'' ancam Idah dengan emosi.


Erna sangat terpukau dengan reaksi ibunya. Idah yang dia tau tak pernah marah marah dan terkesan lemah lembut, kini berubah menjadi singa yang siap menerkam siapa saja yang mengganggu hidupnya.

__ADS_1


Lagian Heri juga sudah sangat keterlaluan sama mereka. Apalagi si Tari, entah salah apa yang sudah ibu dan anak itu perbuat padanya. Dasar memang manusia tak ada otak!


Mobil mereka akhirnya meninggalkan halaman rumahnya. Idah menatap geram kepergian mereka. Erna dibela wanita itu habis habisan. Gadis itu langsung memeluk ibunya dan menenangkan emosinya yang masih berapi api.


"Waow, Idah. Sejak kapan kamu seberani itu?" ujar Disa yang sedari tadi menonton mereka.


"Keren kamu, Idah." tambah Ros mengacungkan jempolnya.


Idah beralih menatap mereka, tatapan Idah yang tajam membuat kedua tetangganya itu ciut. Tanpa aba aba, mereka langsung berlari meninggalkan halaman rumahnya dan berlari terbirit birit ke rumah masing masing.


"Bu, udah. Kita masuk ya." ajak Erna.


"Iya, Nak." jawab Idah.


Erna merangkul bahu ibunya memasuki rumah. Rumah yang menjadi saksi bisu kehidupan mereka selama ini.


"Bu, minum dulu biar tenang," kata Erna sembari menyodorkan segelas air putih.


Idah menerimanya dan meneguknya hingga tandas.


"Nak, jangan takut sama ucapan mereka ya. Ibu yakin, kamu gak akan diberhentikan dari pekerjaan kamu," kata Idah menatap putrinya itu.


"Iya, Bu. Terima kasih ya, Bu, udah belain Erna tadi. Erna sayang bangat sama ibu." kata Erna menggenggam tangan Idah.


"Ibu juga sayang bangat sama kamu, Nak. Ibu gak akan membiarkan kamu dijahati atau dihina siapapun," katanya mengelus kepala putrinya itu dengan lembut.


"Bu, apa benar rumah ini ada hak bapak di dalamnya?'' tanya Erna.


"Enggak, Sayang. Rumah ini murni punya kita. Memang dahulu bapakmu yang mencarikan kita tempat ini, tetapi yang membayar tanah dan membangun rumah ini adalah uang ibu. Kamu saksi perjuangan ibu saat membayar tanah dan rumah ini kan? Lagian sertifikat rumah ini juga atas nama ibu," ujar Idah.


"Syukurlah, Bu. Setidaknya semua bukti udah kuat." jawab Erna lega.


"Iya, Nak. Kamu gak perlu khawatir ya."


Hari ini, hari yang penuh pembelajaran buat gadis itu. Semoga saja Heri dan Tari tidak lagi mengganggu kehidupannya bersama ibunya.

__ADS_1


Erna kembali membereskan piring kotor bekas makan malam mereka. Ia mencuci dan menyusunnya dengan rapi di rak piring. Setelah semuanya beres, ia langsung menuju ke kamar untuk langsung tidur berhubung hari itu dia sudah sangat capek hati dan pikiran.


Tok.... Tok.... Tok....


__ADS_2