Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 62


__ADS_3

"Loh, kok semua pada disini sih?!'' tanya Disa.


"Ini, Mbaknya mabok perjalanan katanya." jawab Idah.


"Astaga, kasihan bangat. Eh, mabuk apa hamil?'' cecar Disa langsung tanpa basa basi.


Sungguh manusia yang satu itu pertanyaannya tidak bisa disaring lagi. Seketika Nunung mendelik tajam mendengar ucapan Disa.


"Kok, liatin aku kayak gitu sih, Nung?'' sewot Disa.


"Jaga omonganmu, Dis. Mulutmu kayak ember bocor!'' sahut Nunung.


"Ya, emang apa ada yang salah dari pertanyaan Disa, Nung?'' tambah Fira.


Nunung diam membuang muka tidak ingin melihat teman temannya itu sementara Santo semakin panik.


"Mas, aku gak kuat kalo naik mobil lagi. Rasanya pengen mati aja, baunya aku gak suka." ujar Marni.


Semua yang berdiri di sana begitu terkejut mendengar ucapan Marni yang sedikit bernada manja ke Santo.


Bisik bisik seperti suara dengungan lebah mulai terdengar.


"Lagi hamil ya, Mbak?'' langsung Ros bertanya tanpa basa basi.


"Tapi koo kayak manja gitu sama Santo? Emang benar dia ini sepupu kamu?'' tanya Disa yang semakin kepo maksimal.


Santo seperti mati kutu mendengar pertanyaan para tetangganya.


"Bukan urusan kalian!" kata Santo dengan ketus.

__ADS_1


"Idih, kok jadi sewot," kata Fira.


"Mas, aku mau mangga di pohon itu." kata Marni menunjuk buah mangga yang ada di pohon milik Idah itu.


"Iya kita pulang dulu, nanti aku ambil." ucap Santo membujuk Marni.


Kalo Mbaknya mau, nanti saya anterin ke rumah Pak Santo." ucap Idah.


"Aku maunya Mas Santo yang ambilin." melas Marni.


"Iya nanti aku ambil, kita pulang dulu yah," bujuk Santo lagi.


Nunung yang menyaksikan semua itu tak kuasa menahan air matanya. Hatinya begitu sakit kala melihat suami yang ia sayangi meski tak terurus dengan baik itu punya wanita lain. Dengan langkah lebar dan air mata mengalir, Nunung berjalan pulang ke rumahnya.


Para tetangga yang menyaksikan itu langsung bisa mengambil kesimpulan jika wanita itu adalah simpanan Santo.


"Parah kamu Santo. Bisa bisanya kamu bawa bini muda kesini. Udah gitu, pake alasan sepupu pula itu," ketus Disa.


"Parah deh! Si Nunung kok kayak kena batu dari ucapannya sendiri yah!" tambah Fira.


Santo yang sudah ketahuan langsung menarik tangan Marni masuk ke dalam mobil. Tak peduli dengan keinginan wanita itu untuk makan buah mangga. Mobil melesat meninggalkan depan rumah Idah.


"Jadi itu istri muda si Santo?'' tanya Idah.


"Astaga, Dah. Kamu gak bisa lihat ya? Jelas jelas iya, Dah. Si Nunung aja sampai nangis cemburu gitu," kata Fira.


"Astaga, Aku gak nyangka aja. Selama ini mereka adem ayem." kata Idah.


"Hah? Gimana? Si Nunung itu tak bisa mengurus si Santo, makanya dia cari bini baru yang bisa mengurusnya. Jadi gak salah juga si Santo kawin lagi." ujar Disa.

__ADS_1


"Hooh, kerjanya tiap hari hanya gosip keliling ke rumah tetangga, enggak bisa ngurus rumah, ngurus anak, ngurus laki. Bisanya hanya bisa ngurus hidup orang!" cibir Fira.


"Kena telak si Nunung. Dulu dia kan sering bangat julidin kamu. Eh, malah dia kena batunya." sambung Ros.


"Kalian juga sama kayak si Nunung. Suka bangat ngomongin orang! Kalo udah begitu harusnya jadi contoh buat kalian untuk gak suka julid lagi," ujar Idah.


"Eh, Idah! Ini tuh kenyataan, kami ini masih tahu diri ngurusin suami dan anak. Lah si Nunung, sama sekali enggak!'' ujar Disa.


Mendengar tuturan ketiga ibu itu, Idah hanya bisa mengelus dadanya. Mereka juga tidak mau kalah. Mereka beranggapan merekalah yang paling benar. Padahal kenyataannya sifat mereka sebelas dua belas dengan Nunung.


Saat tengah berdebat dengan ketiga tetangganya, mata Idah menangkap sosok putrinya yang sudah pulang.


"Erna, sudah pulang, Nak?'' tanya Idah.


Tetapi yang ditanya malah melenggang masuk ke dalam rumah tanpa menyapa.


"Ih, gak sopan bangat si Erna, pulangnya gak salam," ujar Ros.


"Itulah hasil perguruan tinggi," tambah Fira.


Idah yang merasa ada yang tak beres dengan Erna langsung menyusul anaknya ke kamar.


Sesampainya di dalam rumah, Ia mendengar suara tangisan Erna di dalam kamar. Anak itu tak pernah menangis hingga seperti itu.


"Nak, buka pintunya. Ada apa, sayang?'' tanya Idah.


Tetapi, tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar. Yang ada suara tangis Erna semakin kencang terdengar. Idah menjadi ketakutan sendiri mendengar suara tangisan anaknya itu.


"Kenapa kamu, Nak?'' tanya Idah yang berdiri di depan pintu kamar.

__ADS_1


Kira kira kenapa ya si Erna menangis setelah pulang kerja?


__ADS_2