Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 11


__ADS_3

"Hey, Erna, kerjaan kamu kan di hotel, apa jangan jangan kamu juga terima job jadi wanita panggilan ya?''


Pertanyaan Bu Nunung membuatnya naik darah, sudah tua tapi tak berotak.


"Jaga mulutmu Nunung, anak saya bekerja bukan melacur!'' ujar Idah yang tidak terima dengan perkataannya itu.


"Alaaaa, kamu tau apa Idah. Bisa saja ia tidak pergi bekerja tapi malah putar haluan."


Bu Fira juga semakin membuat suasana panas. Ingin rasanya gadis itu menonjok wajah mereka satu per satu.


"Mulai sekarang, jaga pacar anak anak kita. Jangan sampai di goda pelakor macam Rani dan Erna." kata Bu Disa.


"Gak hanya pacar anak anak, Laki kita juga kudu di jaga," tambah Bu Nunung.


Mereka semua tertawa terbahak bahak, Seolah mereka paling pantas berucap seperti itu. Erna langsung saja berlari kebelakang, ingin rasanya dia melenyapkan semua orang.


Byurrrr!


Air bekas cuci piring langsung dia siram ke arah geng julid itu dan mereka semua terkejut.


"Erna!!!'' teriak Bu Nunung emosi.


"Pergi kalian semua ibu ibu bau tanah!'' ketus Erna tak kalah emosi.


"Erna, jangan seperti itu." kata Ibunya.


"Gak bu, mereka harus dikasih pelajaran biar tau rasa," ujarnya.


"Kurang ajar kamu Erna!'' teriak Bu Disa kesal.


"Ibu juga kurang ajar," balasnya tak kalah kesal.


"Awas kamu Erna, Akan saya kasih pelajaran nanti." ujar Bu Nunung.


Mereka bertiga lalu pergi menuju rumah masing masing.


"Bagus Er, Mereka harus dikasih pelajaran biar kapok." kata Bu Minah.


"Iya, Bu. Aku kesal bangat. Heran deh, masih ada aja orang yang hidupnya hanya ngurusin hidup orang lain." ocehnya.


"Jangan heran Er, ini kampung julid. Hehehe," kata Bu Minah sambil tertawa.


Memang cocok nama itu disematkan untuk kampung mereka. Gak tua gak muda semua sama saja. Gadis itu dan Ibunya berlalu masuk ke dalam rumah.


"Nak, kamu kok malah nyiram mereka sih?"


"Kalau gak disiram, mereka gak akan pergi." jawab Erna kesal.


"Tapi Nak, mereka orang tua." ujar Idah.


"Orang tua gak berakhlak." cetusnya.


Dia langsung pergi mengangkat jemuran yang sudah kering lalu pergi ke kamar untuk tidur siang. Ibunya terlalu gampang menerima perkataan kotor mereka. Lain kali jika mereka masih berbicara seperti itu akan gadis itu siram bensin sekalian biar pada tau rasa.

__ADS_1


Setelah selesai dengan jemuran yang sudah kering, dia langsung masuk ke kamar dan tidur.


"Erna, ada Rani cariin kamu, Nak." teriak sang Ibu.


"Aaargh, Mau apa lagi sih dia!"


Istirahat dan kesabarannya benar benar diganggu hari itu.


"Dimana dia Bu?''


"Ada di teras, Nak." jawab Idah.


Langkah kakinya terayun menuju teras rumahnya.


"Hallo, ada apa ya Rani?'' tanyanya.


"Dasar bermuka dua! Kamu kan yang ngaduin aku sama istrinya Mas Astar?" katanya menunjuk wajah gadis itu.


"Gila kamu ya, Aku gak tau apa apa, kenal sama mereka aja gak! Jangan menuduh orang lain sembarangan tanpa bukti," kata Erna yang tidak terima atas tuduhan Rani.


"Munafik, kamu dibayar berapa sama perempuan gila itu?''


"Ngaco kamu Rani! Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku siram pakai air comberan!'' ancam Erna.


"Di hotel itu hanya kamu yang pernah lihat aku jalan sama Mas Astar. Pasti kamu juga yang sudah melaporkannya kepada istrinya Mas Astar." tambahnya makin ngaur.


Oh, jadi ini maksudnya menyerang gadis itu. Ia berpikir bahwa Erna yang sudah melaporkannya pada istrinya laki laki itu.


"Punya otak itu dipake Rani! Mungkin saja ia membuntuti kalian atau menyewa orang untuk mencari tahu. Jadi jangan asal nuduh kamu!" ketusnya.


"Pergi kamu dari sini!" teriak Erna.


"Ka-----"


"Rani! Cepat kesini, Ibu pingsan!'' kata saudara Rani yang bernama. Raffi itu.


"Hah?'' Ia terkejut dan langsung lari menuju rumahnya tanpa menghiraukan Erna lagi.


"Dasar gila, cantik cantik tapi bego!'' cetus Erna masih kesal.


Gadis itu langsung masuk kedalam dan hendak mau tidur.


"Er? Si Rani ngapain teriak teriak?" tanya Ibunya yang sedang menjahit.


"Dia nuduh aku yang menyebarkan jika dia berselingkuh dengan laki orang." jawab Erna dengan wajah masam.


"Hah?Apa?'' kata Ibunya lagi.


Suara bising dari mesin jahitnya membuat Ibunya tak mendengar ucapan Erna.


"Si Rani nuduh aku laporin dia ke istri selingkuhannya." kata Erna mengulanginya.


"Lah? Apa hubungannya sama kamu?" tanya ibunya kaget dan bingung.

__ADS_1


"Ya, itu masalahnya. Anak itu gak bisa pakai otak kalau bicara," jawab Erna lalu berjalan menuju kamarnya.


Dia langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur dan berharap bisa tertidur nyenyak. Banyak sekali gangguan hari ini yang membuatnya begitu kesal dan emosi.


*****


"Erna, bangun udah Maghrib?" teriakan ibunya membuatnya sadar dan terbangun.


Matanya masih sangat berat untuk terbuka tapi karena sudah maghrib, ia memutuskan untuk bangun. Hidungnya mencium aroma wangi masakan ibunya yang sangat menggugah selera.


"Ibu masak apa?'' tanyanya menghampiri ke dapur.


"Masak rendang daging, Nak."


"Horeeee." gadis itu bersorak senang.


"Macam anak kecil saja kamu. Udah sana mandi dulu," kata ibunya geleng geleng melihat anaknya itu.


Gadis itu dengan riang langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Tidak lama setelah selesai mandi, ia langsung membantu ibunya di dapur agar bisa cepat makan. Perutnya sudah sangat meronta minta diisi makanan enak itu.


"Bu, masih lama gak?'' tanyanya sudah tidak tahan.


"Bentar lagi, gak bisa sabaran kamu." jawab Idah.


"Boleh icip gak?'' pintanya nyengir melihat ibunya.


"Sabar dong, Ern. Lagian ini ibu masaknya untuk kamu."


Akhirnya gadis itu memilih bersabar menunggu rendang dagingnya matang agar bisa langsung ia lahap.


"Mir, tadi si Rani kesini," ujar Idah.


"Lah? Ngapain lagi?''


"Ia minjam uang, Ern." jawab ibunya membuat Erna melongo.


"Minjam duit? Ngapain dia minjam duit kesini? Sungguh tidak tahu malu, padahal baru saja ia datang marah marah gak jelas, Buat apa dia minjam kesini?'' tanya Erna ketus.


"Ibunya butuh biaya untuk operasi, Ern. Gara gara kejadian siang tadi beliau jatuh sakit, dan tak sadarkan diri hingga sekarang." cerita Idah.


Ada rasa kasihan saat mengetahui ibunya Rani yang sakit hingga tak sadarkan diri. Pasti beliau terbeban dengan kejadian memalukan tadi siang. Ibu mana yang tak malu melihat kelakuan anak perempuannya yang demikian. Tapi si Rani juga tak benar, ia sendiri yang menjadi pemicu ibunya sakit. Malah ia juga menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri.


"Jadi ibu kasih?'' tanya Erna.


"Iya, Ern. Kasihan sama ibunya Rani. Beliau orang baik. Ibu jadi teringat saat kita kesusahan dulu, pasti itu yang dirasakan oleh Rani." ujar ibunya.


"Emang dipinjam berapa, Bu?"


"Empat juta, Nak."


"Banyak bangat sih, Bu." kata Erna kesal.


"Ya, namanya menolong sesama, Nak. Dia juga janji untuk mengembalikan secepatnya." jawab ibunya.

__ADS_1


Hati ibunya memang sangat mudah tersentuh pada orang yang kesusahan. Alasannya selalu sama karena ia pernah merasakan susah di masa lalu, meskipun sekarang mereka masih hidup susah.


Tapi.....


__ADS_2