
Erna berlari ke arah pintu dan membukanya.
"Erna," ucap Ema.
"Kenapa, Ma? Ayo masuk sini," kata Erna merangkulnya untuk masuk lalu menutup pintu.
"Ada apa, Ma? Kenapa kamu menangis, Nak?'' tanya Idah.
Erna langsung berlalu ke belakang dan mengambilkannya segelas air minum.
"Minum dulu, Ma. Tenangin diri kamu dulu, terus cerita ada apa?'' kata Erna.
Ema menerima gelas itu lalu meneguknya hingga tandas. Kemudian ia menarik nafasnya lalu menghembuskan secara pelan.
"Aku di kerjain orang, Na." katanya lalu menangis.
"Siapa, Ma?''
"Aku gak tau, Na. Orang itu ngintip aku tadi sore saat aku mandi," isaknya terbata bata.
"HAH?!" Idah dan Erna terkejut mendengar penuturan Ema. Selama tinggal disitu, baru kali ini ada kasus pengintipan di kamar mandi.
"Kamu sempat lihat orangnya, Nak?''
"Gak, Bu. karena dia udah keburu lari."
"Astaga, kok ada ya? Selama kami disini, baru loh kali ini ibu dengar ada kasus kayak begini," kata ibunya Erna dengan geleng geleng kepala.
"Iya benar, Ma. Selama ini kampung julid emang gak ada kasus aneh aneh selain mulut warganya yang kelainan," kata Erna.
"Tapi beneran ada, Na." kata Ema. "Gak hanya itu, aku yang takut terus diganggu. Pintu aku terus digedor dari luar dan udah kayak mau ambruk aja." ucapnya.
Erna makin kaget mendengarnya karena menurutnya itu pelakunya sudah sangat nekat.
__ADS_1
"Emang tadi kondisinya aku sendirian di kos. Teman samping kamar lagi keluar, terus ibu rt sekeluarga juga pergi ke kondangan , Semua rumah dalam keadaan sepi, aku benar benar takut, Erna. Aku langsung lari kesini dan orang itu masih ngejar aku. Untung kalian sudah pulang dan membukakan pintu untukku. Jika tidak, mungkin aku sudah di jahati." cerita Ema masih dengan sesekali terisak.
Pantas saja Ema begitu ketakutan, rupanya ada orang yang mengejarnya hingga depan ruamhnya.
"Ya udah, malam ini kami tidur disini aja ya, Besok kita laporin ke bu rt." kata Erna.
"Iya, Na. Tapi kamu mau kan nemanin aku ke kosan, Aku gak kunci pintunya, dompet sama ponsel juga ada di sana ketinggalan. Sekalian aku mau ambil baju kerja sama tas untuk besok kerja."
"Iya, Ma. Aku bakal temanin kamu."
Siapa yang sudah berani masuk ke kampungnya dan berani membuat sensasi? Selama ini tidak pernah ada kasus seperti itu. Besok Erna akan adukan ke ibu rt agar mencari tahu siapa itu pelakunya. Geram sekali rasanya, ada orang yang cabul memasuki kampungnya. Rasanya tidak aman lagi jika sudah seperti itu. Untung saja mereka cepat pulang, jika tidak mungkin Ema akan dicelakai.
Mereka berdua berjalan menuju kosan Ema. Mereka bertemu dengan para tetangga yang baru pulang dari kondangan Heri.
"Mau keliaran kemana malam malam begini?'' tanya Bu Disa yang berjalan bersama mereka.
"Mau ke kosan Ema, Bu." jawab Erna.
"Otaknya tipis kayak tempe mendoan." sindir Erna dengan gemas.
Benar saja, setelah mereka berdua sampai di depan pintu kosan Ema, pintunya masih tidak tertutup rapat. Ema langsung mengambil barang barang yang dia perlukan sementara Erna membereskan kamarnya yang sedikit berantakan, mungkin efek dari ketakutan Ema.
"Loh, mau kemana Neng?'' tanya bu rt yang melihat kedua gadis itu keluar membawa tas.
"Mau ke rumah Erna, Bu." jawab Ema.
"Emangnya kenapa Neng? Apa kosan ibu gak nyaman?'' tanya bu rt.
"Sangat nyaman, Bu. Hanya saja tadi Ema mendapat kejadian tak mengenakkan, jadi ia merasa trauma tidur sendiri malam ini," ujar Erna.
"Emang kejadian apa, Na?'' tanya bu rt penasaran.
Erna meminta Ema untuk menceritakan kejadian yang dia alami pada bu rt. Seketika wajahnya berubah menjadi panik. Maklum, bu rt sangat phobia dengan seorang pencuri.
__ADS_1
"Astaga, untung saja kamu tidak kenapa napa Neng. Ibu ngeri dengar cerita kamu. Entah siapa yang sudah berani berbuat demikian disini." kata bu rt.
Mereka semua sama sama bingung dengan kejadian yang menimpa Ema. Ibu rt berjanji akan mengusut tuntas kasus ini. Apalagi juga hal itu terjadi di area kosannya. Ia juga pasti tidak mau jika kosannya sepi karena kasus itu.
Setelah berpamitan Erna dan Ema pulang kerumahnya.
"Udah ngekos masih aja mindahin barang ke rumah Erna," ujar Nunung yang melihat mereka.
"Ibu gak pulang ke rumah? Malah ngeronda!'' cetus Erna.
"Suka bangat ya kamu ngomongin orang tua," balasnya marah.
"Ibu juga suka bangat ya ngomongin hidup orang? Macam kayak gak punya hidup aja!" jawab Erna tidak mau kalah.
"Hati hati Erna mulutmu nanti bisulan gara gara hobi nyambung ucapan orang tua!'' katanya marah.
"Mending ibu aja yang bisulan biar bisa tenang di rumah!'' rasanya gemas sekali jika Erna tidak menjawab omongannya, seenak jidat itu orang memperlakukan mereka.
"Sudah semua barangnya diambil?'' tanya Idah saat mereka sudah sampai.
"Udah, Bu."
"Bu Nunung kenapa ngomel ngomel?''
"Biasalah, Bu." jawab Erna dan mereka berdua langsung masuk ke kamar.
"Nak, semua jendela sama pintu udah di kunci kan?'' tanya Ibunya.
"Udah, Bu. Emang kenapa, Bu?''
"Pake nanya lagi kamu, Ya ibu takut juga, Nak."
Gadis itu juga merasa takut sebenarnya. Takutnya ada yang berniat jahat dan menjadikan rumahnya sasaran. Erna dan Ibunya sama sama perempuan jadi sangat berhati hati.
__ADS_1