Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 32


__ADS_3

Suara berisik alarm membuat Erna terkejut dan terbangun.


"Ma, Ema. Bangun udah pagi,'' kata Erna membangunkan Ema.


Erna langsung keluar dari kamar seperti biasa lalu memasak untuk sarapan pagi karena ibunya belum bangun. Erna memasak menu yang simple, tumis kangkung dan tahu goreng isi saja. Sedangkan Ema membantu menyiapkan isian tahunya.


Saat tengah asyik memasak, dari arah luar, Erna mendengar suara ribut ribut. Jam segitu biasaya masih sepi, nanti jika sudah sedikit terang barulah ada suara orang lalu lalang. Semakin lama suara itu semakin kencang.


"Ern, rame bangat di depan,'' kata Ema.


Erna yang penasaran langsung saja menuju ke depan untuk melihat apa yang terjadi. Banyak bapak bapak berdiri di depan rumahnya si Rani. Erna langsung saja membuka pintu untuk bertanya, Takutnya terjadi apa apa dengan tetangganya si centil itu.


"Maaf semuanya, ini ada apa ya? Kok rame rame masih subuh gini?'' tanya Erna.


"Iya Erna, Si Rani bilang kalo ada yang mencoba masuk ke rumahnya jam tiga subuh ini,'' kata pak Supra.


"Hah? Berarti sama dong kayak Ema?'' ujar Erna kaget.


"Iya Ern, Bu RT sudah cerita. Kami semua heran loh, siapa yang senekad itu masuk ke kampung kita ini,'' ujar pak Betron.


"Mana larinya cepat bangat, udah kayak atlet lari aja tuh orang,'' uajr Pak Masto.


Erna sampai bergidik ngeri mendengar obrolan mereka, makin menjadi aja orang yang nekad itu.


"Terus si Rani gak apa apa kan?'' tanya Erna memastikan.


"Iya, gak apa apa, dia juga sendirian di rumah karena si Rafi lembur,'' ujar yang lainnya.


"Sepertinya orang itu mengincar orang yang sendirian di rumah,'' kata Erna.


"Bisa jadi, Ern. Ini sudah dua kasus.'' timpal Pak Betron.


Karena hari mulai terang, semuanya pada bubar kembali ke rumah masing masing. Erna dan Ema bergantian untuk mandi dan bersiap. Pukul 6 mereka sudah rapih dengan pakaian kerjanya.


"Bu, hati hati di rumah ya, Kalau sendirian pintu jangan lupa di kunci.'' pesan Erna.

__ADS_1


"Iya, Nak. Kamu juga hati hati ya sama Ema.''


Setelah berpamitan, Meraka langsung berjalan menuju ke depan gang menunggu angkot. Saat sampai depan warung julid, Mereka berdua berpapasan dengan seorang laki laki. Hati Erna mendadak merasakan fiarasat buruk. Apalagi lelaki itu tak pernah ia temui sebelumnya di kampung itu.


"Ern, aku rasa aneh deh sama orang itu,'' tunjuk Ema.


"Iya sama, Ma. Semoga aja gak macem macem,'' jawab Erna.


Pagi itu benar benar sepi, ibu ibu juga belum pada nangkring di warung.


"Ma, perasaan aku gak denak deh. Aku pulang dulu ngecek ke rumah,'' kara Erna berlari berbalik arah menuju ke rumahnya.


"Aku ikut, Na.'' susul Ema.


Kaki gadis itu berlari cepat ke rumahnya, Dia bertambah panik lantaran tak menemukan lelaki yang tadi berpapasan dengan mereka. Sesampainya di rumah, Erna melihat pintu sudah tertutup. Tetapi perasaaannya mengatakan untuk melihat pintu samping.


Degh!


"Woii, mau apa kamu?? Tolong!!!!"


"Tolonggggg!!!"


Ema berteriak sambil berlari ke depan meminta pertolongan. Sedangkan laki laki itu tampak kelimpungan mencari jalan untuk kabur.


"Mau apa kamu??'' teriak Erna.


"Erna, Kamu belum bernagkat kerja, Nak? Ada apa?'' tanya ibunya melongokkan kepalanya dari jendela.


"Bu, ini ada maling,'' kata Erna sembari menunjuk lelaki itu.


"Astaga, Erna hati hati, Nak. Awas kalau ia bawa benda tajam,'' ujar Idah ketakutan.


Erna menjadi panik sendiri kala ibunya berbicara seperti itu. Erna juga takut kalau laki laki itu membawa benda tajam lalu melukainya. Lagian semua orang pada kemana sih? Udah jam segini gak ada yang nagkring.


TIba tiba dari depan banyak sekali warga yang berlarian menuju ke arahnya.

__ADS_1


"Mana malingnya?'' tanya mereka.


"Itu dia Pak,'' kata Erna menunjuk lelaki yang tengah kebingungan itu.


"Kena kau sekarang!!"


"Ayo gebukin aja!!"


"Bawa dia ke rumah rt.''


"Jangan digebukin dulu, kita tanya baik baik. Kalau ada apa apa emangnya bapak semua mau tanggung jawab?'' ujar Erna.


"Benar juga, Lebih baik kita bawa ke bu rt, habis itu kita laporin ke polisi.'' ujar Pak Supra.


Mereka membawa laki laki itu ke rumah bu rt. Anehnya saat ditangkap warga pun laki laki itu hanya diam saja. Wajahnya nampak kebingungan tak jelas.


"Erna, Kamu gak apa apa, Nak?'' tanya Idah.


"Gak, Bu. Tadi perasaan Erna gak enak aja, jadi Erna kesini buat mastiin, eh malah lihat dia mau buka pintu samping.'' jawab Erna.


"Ya udah, Nak, biar ibu nanti yang beritahu ke bu rt, Kalian berangkat kerja gih, nanti telat,'' ujar Idah.


Mereka langsung berangkat kerja karena sudah lumayan telat. Sesampainya di hotel, Pak Danung sudah menunggu mereka di ruangannya, Ah, kali ini pasti akan kena omel gara gara telat.


"Kemana aja kalian, jam segini baru datang?'' ujarnya saat melihat mereka berdua masuk.


"Maaf, Pak.'' kata Erna menunduk.


"Maaf ...... Maaf, sana cepat kerja. Kalau besok kalian masih telat, saya potong gaji kalian tiga ratus ribu!'' ancam Pak Danung.


Kedua karyawannya itu bergidik ngeri mendengar ancaman atasannya itu Duit segitu terlalu banyak jika dipotong dari gaji mereka.


Segera Erna mengambil peralatan  bersih bersih dan mulai bekerja. Ia langsung membersihkan lantai juga kaca yang ada di lobby depan. Gadis itu  mengelap meja dan juga sofa yang bisa diduduki para tamu hotel.


"Heh, Kamu!''

__ADS_1


__ADS_2