Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 8


__ADS_3

"Boleh kita bicara?'' tanyanya.


"Ini juga sudah bicara." jawab Erna santai.


"Maksudku bicara berdua." katanya lagi.


"Lah, ini kan cuma berdua. Aku sama kamu." ujar Erna cuek.


"Kamu benar benar oon ya?'' katanya lagi.


"Kamu yang oon." jawab Erna.


"Erna, aku mau bicara penting. Please ya jangan bercanda!" katanya memohon.


Huh, setelah kemarin ia memanggil Erna dengan sebutan babu, hari ini ia menyebut namanya. Ada rasa malas tetapi ada rasa kasihan juga melihatnya seperti itu. Lekas Erna langsung menjemur semua pakaiannya lalu menghampirinya.


"Ada apa?'' tanya Erna ketus.


"Erna, aku minta maaf soal kemarin yang terjadi di hotel." katanya.


"Iya, ya. Sudah ku maafkan." ucapnya.


"Makasih ya, Ern. Ehhm, Aku boleh minta tolong gak?" tanyanya kembali.


"Apa?''

__ADS_1


"Kamu tolong rahasiakan apa yang kamu lihat kemarin di sana ya. Jika bertemu denganku, pura pura saja kita tidak saling kenal." ucapnya menatap Erna.


"Aku juga lakuin ini karena terpaksa. Gaya hidupku sangat mahal, dan aku harus bisa memenuhinya sendiri." ujarnya.


Astaga, jadi dia melakukan itu hanya untuk memuaskan gaya hidupnya. Wah, ini anak sudah gak beres.


"Bisa kan jaga rahasia, aku?'' tanyanya membuyarkan lamunan Erna.


"Anggap aja aku gak tau. Lagian gak ada untungnya juga buat aku, menceritakan itu kepada orang lain." jawabnya.


''Janji ya," ujarnya.


"Hhmm." jawab Erna hanya berdehem.


"Tapi kalau ada warga sini yang tahu, Aku bakal marah sama kamu loh," ancamnya.


"Iya. Karena disini hanya kamu yang tahu." jawabnya simpel membuat Erna sedikit naik darah.


"Gila kali kamu!" cetusnya.


''Pokoknya itu saja. Aku pamit dulu ya." katanya lalu beranjak pergi.


Saat Erna hendak berbalik, tetapi ujung netranya menangkap bayangan bu Nunung di dekat pohon pisang.


"Lah, ngapain dia di sana?'' batin Erna.

__ADS_1


Dia berpikiran positif saja karena mungkin saja dia mencari pisang yang matang di pohon. Erna kembali melanjutkan pekerjaannya tadi yang sempat tertunda.


"Kamu sama Rani ngomongin apa di depan? Kenapa gak di suruh masuk?'' tanya Idah sang ibu.


"Biasa, Bu. Rahasia anak muda." jawabnya sekenanya.


Setelah selesai dengan pekerjaannya, Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah.


"Erna, Ibu ke tetangga baru kita dulu ya." kata Idah sambil menenteng beberapa buah untuk di bawa.


"Iya, Bu."


"Kamu gak ikut?''


"Gak, Bu. Erna mau santai aja di rumah." tolaknya.


"Ya udah, Ibu pergi dulu ya." pamitnya.


Setelah Idah pergi ke rumah Ratih alias mamanya Rani, Erna langsung masuk ke kamarnya.


Dia mulai melakukan padi madi cure dengan sendiri sambil melihat lihat keluar jendela yang ada di kamarnya. Saat dia tengah asyik merias kukunya dengan kutek kutek pilihannya, Terdengar kasak kusuk yang tak lain adalah ibu ibu tukang julid. Erna melirik jam dinding yang ada di kamarnya ternyata sudah jam 10 pagi.


Hm, tumben hari ini mereka telat ngumpul, biasanya dari jam 7 acara mereka sudah di mulai.


"Sudah selesai." katanya merasa senang sambil melihat kukunya yang sudah cantik dipoles dengan warna kutek soft pink itu.

__ADS_1


Dengan berhati hati, dia berjalan menuju teras. Tetapi pemandangan indah justru Erna saksikan. Bu Disa berlari sambil berteriak.


"Kenapa lagi si biang kerok itu?''


__ADS_2