
Siang ini akhirnya Rani diperbolehkan untuk pulang. Setelah menebus obat di apotik, Rafi memboncengnya dengan sepeda motornya menuju ke rumah mereka.
"Pegangan yang kuat, Ran. Kalo pusing ngomong aja biar kakak berhenti." kata Rafi.
"Iya, Kak." jawabnya.
Rani memeluk kakaknya erat karena kepalanya yang masih terasa pusing. kurang lebih dua puluh menit, mereka sampai di rumahnya. Rani sekilas melihat rumah Idah tapi masih tertutup.
Rafi membantunya turun dari motor dan memapahnya masuk ke dalam rumah.
"Astaga!!" ucap Rafi kaget saat masuk ke rumah.
"Kenapa, Kak?" tanya Rani heran.
"Ran? Kamu masih tanya kenapa? Emang kamu gak kaget?'' tanya Rafi balik menatap adiknya itu gak habis pikir.
__ADS_1
"Kaget apa, Kak?''
"Ini rumah macam kena tornado. Enggak di halaman, gak di dalam rumah semuanya berantakan!''
Rani memperhatikan sekeliling dan seketika otaknya baru sadar. Rumahnya benar benar seperti kena angin badai. Wanita itu tidak pernah membersihkan rumah semenjak kepergian Rafi waktu itu. Bahkan mungkin tidak ada perabot yang bersih di dalam rak piring lagi. Wanita itu sungguh sangat pemalas.
Wanita itu memasuki kamarnya, ia seperti takut untuk duduk di atas tempat tidur. Bekas makanan ringan yang dia makan masih berada di tempat semula bahkan sudah ada yang dikerumuni semut.
"Jorok sekali kamu, Rani! Hanya merapikan bekas makanmu saja kau tak bisa, apalagi menyapu dan mengepel!'' omel Rafi.
"Istirahatlah, Kakak akan memasak untuk kita." ujar Rafi dan berlalu dari kamarnya.
Rani merebahkan kepalanya di atas bantal yang sudah bersih. Rafi mirip sekali dengan ibunya, ia sangat cekatan dalam membersihkan rumah meski dia anak laki laki, begitu juga dengan kerja. Jauh berbeda sekali dengan Rani yang pemalas.
Wanita itu sedang mendengar kakaknya sedang memasak di dapur. Bunyi mesin cuci juga terdengar. Semua langsung dikerjakan berbarengan tanpa menunggu yang satu kelar baru ngerjain yang lain. Hebat sekali memang kakaknya itu, Rani juga harus belajar bekerja juga. Malu rasanya jika dia terus seperti itu.
__ADS_1
"Rafi?"
Rani mendengar suara Idah memanggil nama kakaknya.
"Eh, Ibu Idah. Masuk, Bu. Aku lagi masak," ujar Rafi membuka pintu.
"Wah, masak apa, Nak? Si Rani mana? Lagi tidur?''
"Masak sayur aja, Bu. Rani lagi istirahat di kamarnya." jawab Rafi.
"Ya udah, ini ibu bawakan ikan goreng bumbu. Rani kemarin suka bangat dimasakin ini, jadinya ibu bagiin." kata Idah sembari menyodorkan beberapa potongan ikan itu.
"Ya ampun, udah ngerepotin ibu nih. Terima kasih banyak bu Idah. Maafkan adik saya yang sudah merepotkan ibu dan Erna selama ini." kata Rafi merasa bersalah.
"Gak apa apa, Nak. Lagian ibu sudah anggap kalian seperti anak sendiri. Jadi jangan sungkan ya," kata Idah senyum.
__ADS_1
Mendengat ketulusan tetangganya yang satu itu, membuat Rani tambah malu mendengarnya dari dalam kamar. Wanita itu berjanji pada diri sendiri, setelah sehat nanti, ia akan meminta maaf secara langsung terutama pada Erna yang selama ini sering sekali ia buat kesal.