
Sesampainya di rumah, Ibunya sedikit kaget melihat Erna membawa Ema. Gadis itu menceritakan semuanya kepada ibunya dan ibunya mengerti.
"Ma, kamu bareng aku ya tidurnya,'' kata Erna.
"Iya, Erna.''
Ibu sudah menyiapkan makan untuk mereka, tetapi sebelumnya mereka berdua mandi dulu.
"Habis makan, sebaiknya kalian lapor ke bu RT,'' ujar Idah.
"Iya, Bu. Rancanaku juga begitu.'' jawab Erna.
Sehabis makan, Erna dan Ema pergi ke rumah Bu RT untuk melapor jika malam ini Ema menginap di ruamhnya. Juga sekalian bertanya tentang kosan kosong milik Ibu RT.
"Ini kamarnya, Ern, dikihat dulu. Kalau mau masuk besok, nanti ibu bersihkan biar masuknya udah enak,'' kata Ibu RT.
"Makasih ya Bu, besok mungkin sepulang membeli perlengkapan Ema baru kami kesini lagi,'' ujar Erna.
"Bu, saya bayar untuk tiga bulan kedepan yah,'' kata Ema sembari menyodorkan uang ke ibu rt.
"Wahh, terima kasih banyak ya, neng,'' ujar ibu rt.
Selesai urusan melapor dan mencari kosan, mereka berdau langsung pulang.
"Siapa ini, Ern?'' tanya bu Fira.
"Teman aku, Bu.''
"Teman dari mana?''
"Teman kerja, lagi nyari kosan dekat sini,''
"Owalaahh, gitu toh,'' ujar bu Fira memperhatikan EMa dari kepala sampai kaki.
"Kami duluan, Bu.'' kata Erna menarik tangan Ema untuk segera pergi.
"Tetangga kamu, Na? Kok gitu amat sih lihatnya, kayak lagi introgasi,'' kata Ema.
"Disini mah gitu, Ma. Tetangga aku pada kepo, tukang julid kelas kakap.''
"Widih canggih. Pantas kampung ini namanya unik,'' ujar Ema.
Mereka berdua tertawa sambil jalan. Ekor mata gadis itu menangkap sosok Rani yang berdiri di pagar rumahnya.
"Heh, Erna!'' hadangnya.
"Ya?'' jawabnya singkat sambil melihatnya.
Ia menengadahkan tangannya dihadapan Erna.
"Apa?'' tanya Erna.
"Jangan pura pura gak tahu, cepat balikin duit aku,'' ujarnya.
"Hah? Duit kamu?'' tanya Erna heran.
"Iya, duit yang dikasih kak Rafi sama kamu,'' ujarnya melotot.
"Walaaahh, itu toh? Itu bukan duit kamu Rani, itu duit emang duit aku yang kamu pinjam,'' cetus Erna masih santai.
"Tapi itu hasil dari jual kalung aku!'' bentaknya.
"Aku gak peduli, intinya duit aku udah balik!'' balas Erna.
"Mau cari gara gara ya kamu!'' geramnya.
"Gak Rani, Aku sudah cukup sibuk untuk cari gara gara sama kamu,'' kata Erna lalu mengajak Ema masuk ke rumah.
__ADS_1
"Erna! kembalikan uangku!'' teriaknya.
"Heh, ada apa kalian berdua?''tegur Bu Nunung.
Erna mangangkat bahunya acuh tak acuh. Tak akan ia kembalikan uang itu. Si Rani otaknya seukuran tai gigi jadi tak bisa berpikir jernih. Masa hutangnya dikembalikan, dia malah meminta kembali, enak aja.
"Oo pasti masalah uang kan yang di kasih Rafi ke kamu malam itu?'' timpal Bu Nunung.
Benar saja dugaan Erna, pohon pun bisa menjadi sumber info untuk Bu Nunung.
"Kembalikan uang itu Erna, itu bukan hak kamu,'' timpal bu Nunung.
"Ehh, Ibu tahu apa? itu uang dari Rafi buat bayar hutang adeknya yang gak tahu malu ini,'' ujar Erna. "Jadi jangan sok tahu dan ikut campur!. Bu Nunung udah kayak petugas jaga malam aja, terlalu ribet ngurusin hidup orang!''
"Kalau kamu gak kembaliin, aku akan ambil sendiri,'' ancam Rani.
"Hahaha... Silahkan menuju ke bank terdekat,'' cetusnya.
"Gak tahu malu kamu, Erna.'' ucap bu Nunung.
"Heh, Bu Nunung! Mending ibu pulang aja. Orang tua gak baik loh kena angin malam, nanti cepat sakit, apalagi kena anginnya sambil campurin urusan orang. Uh, bisa bisanya kena darah tinggi,'' balas Erna ketus.
"Heh anak kurang ajar!" tunjuk Bu Nunung.
"Bu Nunung sama Rani sama aja!'' katanya memiringkan tekunjuk depan kening.
Mereka berdua menatapnya dengan masam. Tanpa aba aba, menuju ke arahku.
"Bruk!''
Tanpa di duga Rani lari mengharinya, tetapi belum sampai, dasternya malah nyangkut di ujung kayu.
Brukk!!
Alhasil ia jatuh di depan Erna. Bunyinya sangat besar hingga Idah berlari keluar dari dalam rumah.
Erna hanya menunjuk dengan ujung bibirnya, mengisyaratkan pada Idah jika Rani yang jatuh. Ibunya sangat terkejut hingga menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Asaga, Rani,'' kaget Bu Nunung.
"Sakit Bu,'' ucapnya tak bisa bangun.
Tak sampai hati juga Erna melihat Rani yang kesakitan seperti itu, apalagi tepat di depannya.
"Ma, kita bantuin dia yuk,'' ajaknya pada Ema.
Dengan deibantu Aku dan Ema, kami menganggkatnya berdiri. Belum sampai berdiri dengan baik, Rani langsung menjambak rambut Erna.
"Astaga Rani jangan,'' teriak Ema melerai mereka.
"Rasakan kamu Erna, sudah ngambil uangku dan sekarang kamu membuatku malu!'' katanya geram.
"Itu salah kamu sendiri! Lepasin aku Rani!'' pinta Erna.
Idah dan Nunung bersama Ema melerai mereka berdua. Rani meski badannya agak kurus dan kecil tetapi tenaganya sangat super.
"Hey ada apa pada berantem!'' teriak bu rt.
Rani seperti kesetanan menjambak rambut Erna, rasanya perih sekali pada kulit kepala gadis itu.
"Lepasin Rani!''
Suara benatakan Rafi membuat Rani melepas rambut Erna. Erna merasa sangat pusing langsung terhuyung kebelakang. Tenaganya tak main main, bahkan sudah dilerai tiga orang pun tidak ada yang mempan.
"Nak, kamu tidak apa apa?'' tanya ibunya memeluk Erna.
"Erna, pusing bu,'' jawabnya memegang kepalanya.
__ADS_1
"Kita masuk ke dalam aja yuk, Na.'' ajak Ema membantunya berdiri.
"Salah anak saya apa sama kamu!'' bentak Idah.
Erna terkejut mendengar suara kasar ibunya, untuk pertama kalinya ia membentak orang.
"Kurang baik apa kami sama kamu Ranni!'' teriaknya lagi.
Erna melihat wajah Rani menjadi pucat seketika, begitu pula beberapa warga dan ibu rt. Sepertinya mereka semua terkejut mendengar suara ibunya.
"Salah Erna itu karena dia ambil uang aku Bu Idah,'' kata Rani.
"Uang yang mana? Coba kamu bilang!'' tantang Idah.
"Semalam kak Rafi memberinya uang hasil menjual kalungku. Jadi uang yang diterima Erna adalah uangku,'' kata Rani nyolot.
"Ya ampun Rani. Itu uang buat ganti hutang kamu sama Erna dan ibunya,'' kata Rafi menerangkan.
"Gak bisa Kak, tetap itu uang aku. Karena kakak menjual kalungku!'' teriaknya nyolot pada Rafi.
"Heh! Kamu kira aku bisa dapat duit dari mana untuk menebus hutang kita? Lagian uang pinjaman kamu juga digunakan untuk foya foya. Kamu gak tahu mau Rani!''
Erna melihat wajah Rafi sudah sangat marah terhadapa adiknya yang tak tahu malu itu.
"Kamu dengar sendiri kan penuturan kakakmu? Kalau kamu pernah sekolah, pasti kamu mengerti,'' kata Idah yang suaranya sudah kemabli ke setelan pabrik.
Rani terdiam dan tak menjawab ucapan Idah. Erna berharap ia menjadi mengerti dan tidak sama seperti orang bodoh.
"Aku malu sama kelakuan kamu Rani. Kita berdua udah jadi piatu, Hiduplah berbaikan dengan tetangga, agar kalau kita kesusahan mereka mau menolong,'' nasihat Kakaknya. "Aku hanya kerja serabutan, gak bisa terus menuhin gaya hedon kamu. Stress aku Rani, stress!''
Rani menangis sambil menunduk, tidak tahu ia benar menyesal atau tidak.
"Cepat minta maaf sama Erna dan ibunya,'' kata Rafi.
"Gak!'' bentak rani berlari masuk ke rumahnya.
"Hei Rani, kamu harus minta maaf sama kami. Ini tangan saya luka karena kena cakaran kukumu yang mirip kuku kucing,'' teriak Nunung.
"Semuanya bubar,'' himbau bu rt.
"Bu Idah, silahkan bawa Erna masuk ke dalam. Kasihan anak itu tidak pernah berkelahi pasti ia sangat syok,''ujar bu rt.
"Baik bu rt,''
"Dan untuk Nak Rafi tolong nasehatkan pada Rani agar menjaga tingkah lakunya. Warga saya sudah banyak yang aneh, tolong jangan ditambah lagi,'' kata bu rt.
"Kenapa matanya ngelirik saya?" ujar Nunung tak terima perkataan bu rt.
"Maafkan kelakuan adik saya, Erna, Bu Idah, saya sangat malu. Mungkin kalian sudah tidak respect lagi pada kami. Tetapi sekali lagi, saya mohon dimaafkan,'' ujar Rafi menyesal.
"Iya, Rafi.'' jawab ibunya singkat.
Mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Ema langsung membawa Erna ke kamar, tak lama Ibunya ikut masuk membawa minyak angin.
Kepalanya memang sangat pusing, ia tak pernah mengalami hal ini sebelumnya. Terkadang ucapannya memang menyakitkan, tetapi ia berusah untuk tidak main tangan meski sedang marah.
"Kalian istirahat ya, Nak. Ibu ke kamar dulu.''
"Iya, Bu.'' jawab Ema.
"Ribet kan tetangga aku, Ma,''
"Ganas, Na,'' ujar Ema.
"Kamu mikir lagi gak untuk tinggal disini?'' tanya Erna.
"Gak, Na. Aku tetap ngekos disini. Biar dekatan sama kamu,'' uajr Ema senyum. "Ya udah kamu istirahat, Na. Besok temani aku ke toko buat beli lemari sama tempat tidur.''
__ADS_1
"Oke, Good Night,''