Kampung Perjulidan Tetangga

Kampung Perjulidan Tetangga
Bab 40


__ADS_3

Udara siang itu sangat terik membuat tubuh Rani sedikit gerah. Dia menyalakan AC di kamarnya agar suhu ruangannya dingin. Hari ini dia begitu lemas, padahal rencananya kemarin, ia ingin mencuci pakaiannya. Tetapi semenjak bangun pagi, kepala serta perutnya tak bisa diajak kompromi. Jadi dia memilih untuk rebahan sepanjang hari ini.


Baru saja matanya hendak terpejam, telinganya menangkap suara yang begitu bising dengan permainan yang lagi sedang viral viralnya yang tak lain dan tak bukan permainan lato lato. Hampir semua anak kecil sudah mahir memainkan benda berisik itu.


Rani menutup telinganya dengan bantal agar suara itu hilang dan tidak mengganggu istirahatnya.


Dengan rasa kesal, ia berjalan ke depan rumah. Benar saja, di depan rumahnya sudah banyak anak anak yang sedang beradu main lato lato.


"Heh, kalian bisa diam gak?!'' suara bentakannya berhasil membuat mereka diam dan terkejut.


"Ganggu orang istirahat aja, awas ya kalo masih berisik! Kulempar kalian pake batu. Sana bubar!''


Rani mengusir semuanya dan mereka langsung kocar kacir dan wanita itu langsung masuk ke dalam rumahnya. Seketika perutnya keroncongan minta diisi, Dia membuka tudung saji ternyata di sana ada ayam kecap dan tumis sawi.


"Kak Rafi udah masakin aku. Enaknya jadi adik." ucapnya lalu duduk dan mulai menyantapnya.


"Enak sekali nih masakan kakakku, sudah hampir sepiring aku habiskan nasi dan ayam kecap buatannya." monolognya.


Setelah perutnya kenyang, ia berjalan menuju kamarnya. Ia merasa bahwa badannya sangat bau padahal tadi baru saja mandi.


"Kok baju aku bau ya? bikin mual aja," gerutunya sambil mencari baju lain di dalam lemarinya.


Setelah dirasa enak, Rani kembali merebahkan tubuhnya. Baru saja mendapat posisi yang pas, suara lato lato kembali mengalun di telinganya.


"Sial! ribut bangat, aku gak suka sama suara benda itu," gerutunya kesal dan marah.

__ADS_1


Dengan kecepatan penuh, ia langsung menuju ke depan. Loh, di sana tak ada siapa siapa. Rani menajamkan pendengarannya, ternyata itu dihalaman rumah Erna. Rani langsung memakai sendalnya dan berjalan ke rumah Erna, benar saja mereka semua ada di sana.


"Bagus ya, kalian malah main disini!" cetusnya emosi.


Rani langsung memungut kerikil kerikil halus yang ada di depan rumah Erna lalu melemparnya ke arah anak anak itu. Dia sangat jengkel apalagi melihat Erna di sana. Karena Rani berpikir bahwa Erna yang sudah pasti menyuruh anak anak itu untuk bermain agar dia tidak bisa istirahat.


Rani terus saja melemparnya meski sudah ditegur oleh ibunya Erna.


"Rani stop!"


Bentakan Erna berhasil membuatnya berhenti, apalagi mendengar suara anak kecil yang menangis. Erna menyuruh semua anak anak itu untuk pulang dan Erna mengantarkan anak kecil yang menangis itu.


Saat mereka semua pergi, mata Rani menangkap beberapa buah mangga yang ada di depan tempat mereka duduk. Ah, rasanya dia pengen sekali makan mangga itu. Dengan langkah pelan, Rani masuk ke halaman rumah Erna dan mengambil buah itu. Karena tak sabar ingin menyicip, ia langsung saja memotongnya dan memakannya.


"Loh, Rani?''


Rani kaget mendengar suara Bu Idah yang datang tanpa pengetahuannya.


"Emm, Bu, maaf Rani udah makan buahnya," ujarnya nyengir.


Melihat Bu Idah membuatnya teringat akan ibunya yang sudah tiada.


"Ya sudah silahkan dilanjutkan. Kalo mau nanti ibu beri lagi," kata Idah duduk bersamanya.


Tak terasa dia sudah memakan buah yang keempat tetapi masih saja terasa kurang. Sedikit heran dengan dirinya yang sudah makan banyak hari ini.

__ADS_1


Tak lama, Erna datang menghampiri mereka, wajahnya tampak keheranan. Ia terkejut kala mengetahui Rani sudah makan buah mangga yabg kelima.


Entah mengapa, saat melihat Erna rasanya Rani begitu jengkel. Meski dia menyukai Ibu Idah, tetapi tidak dengan anaknya yang menyebalkan itu.


"Rani? kamu makan sama jin?'' cetus Erna yang melihat rakusnya wanita itu, dan pertanyaan Erna itu sontak membuat Rani kesal.


"Jan jin jan jin. Emang kamu pikir aku apaan!" bentaknya tak terima dikatai seperti itu.


"Makannya rakus gitu," tambah Erna.


Rani yang merasa sangat sebal dengan Erna, tetapi sedetik kemudian ia langsung mual mencium aroma pakaian Erna. Padahal Rani juga tahu bahwa baunya itu berasal dari pewangi pakaian.


"Uwekkk uwekk... Kamu bau bangat sih, Erna! Udah mandi apa belom sih kamu?''


Rani begitu mual saat mencium baunya dan dia tidak suka wanginya itu. Erna langsung mencium bajunya sendiri dan spontan langsung bertatapan dengan ibunya.


"Hidung kamu aja yang bermasalah Rani. Aku gak bau kok," ujar Erna yang merasa heran dengan reaksi Rani.


Rani terus merasa mual dan pusing hingga akhirnya ia memutuskan untuk pulang.


"Bu, Rani pamit dulu," ucapnya.


"Iya, Ran." jawab Idah singkat.


Rani lekas masuk ke dalam rumahnya dan mengunci pintunya. Dia langsung bergegas menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di sana hingga akhirnya ia tertidur.

__ADS_1


__ADS_2